
Kembali ke Prospek Cuaca Mingguan
Prospek Cuaca Mingguan Periode 27 Januari – 02 Februari 2026: Penguatan Monsun Asia dan ITCZ Picu Cuaca Ekstrem di Sejumlah Wilayah Indonesia
27 January 2026
Rira Angela Damanik
Prospek Cuaca Mingguan

Penguatan Monsun Asia dan ITCZ Picu Cuaca Ekstrem di Sejumlah Wilayah Indonesia
Pada periode 23 – 26 Januari 2026, BMKG mencatat kejadian hujan dengan intensitas lebat hingga ekstrem di beberapa wilayah Indonesia, antara lain di DK Jakarta (171,8 mm/hari), Banten (148,9 mm/hari), Jawa Barat (106,8 mm/hari), dan Sumatra Selatan (86,2 mm/hari). Berdasarkan analisis dinamika atmosfer, cuaca signifikan tersebut dipengaruhi oleh kombinasi beberapa faktor, salah satunya penguatan monsun dingin Asia.
Aktivitas Monsun Asia yang ditandai dengan peningkatan kecepatan angin di Laut Cina Selatan terpantau dalam sepekan terakhir. Massa udara dari Asia tersebut bergerak ke arah selatan, memasuki wilayah Indonesia. Peningkatan kecepatan angin tidak hanya teramati di Laut Cina Selatan, namun juga di sekitar Selat Karimata yang mengindikasikan aktivitas Cross-Equatorial Northerly Surge (CENS). Saat bertemu dengan massa udara dari belahan bumi selatan, aliran udara dari Asia tersebut membentuk pola awan memanjang akibat konvergensi antar tropis atau InterTropical Convergence Zone (ITCZ). Pola awan yang terbentuk pada ITCZ tersebut memanjang dari wilayah Samudra Hindia barat Bengkulu, Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, hingga Laut Arafura.
Selain monsun Asia, TC Luana yang saat ini sudah melemah menjadi Pusat Tekanan Rendah juga turut memicu pembentukan pola awan yang memanjang akibat ITCZ dalam sepekan terakhir. Didukung dengan kelembapan yang tinggi dan labilitas atmosfer yang kuat, pembentukan awan dan hujan di sebagian wilayah Indonesia, khususnya bagian selatan, menjadi lebih masif sehingga memicu serangkaian bencana hidrometeorologis dalam sepekan terakhir.
DINAMIKA ATMOSFER SEPEKAN KE DEPAN
Dalam sepekan ke depan, BMKG memprakirakan pengaruh dinamika atmosfer pada skala global, regional, dan lokal masih signifikan terhadap kondisi cuaca di Indonesia. Pada skala global, El Niño–Southern Oscillation (ENSO) terpantau menguat pada fase negatif yang mengindikasikan kondisi La Niña lemah. Kondisi ini berpotensi meningkatkan pasokan uap air yang mendukung pembentukan awan hujan di sebagian wilayah Indonesia, terutama bagian timur.
Selain La Nina lemah, aktivitas monsun Asia diprediksi masih cukup persisten hingga dasarian pertama Bulan Februari. Selain itu, Cross Equatorial Northerly Surge (CENS) juga diprakirakan masih aktif dalam beberapa hari ke depan. Lebih jauh lagi, daerah tekanan rendah berpotensi terbentuk di Samudera Hindia selatan Banten, Teluk Carpentaria, dan daratan Australia barat laut, yang mampu membentuknya daerah perlambatan kecepatan angin (konvergensi) di wilayah Indonesia bagian selatan. Dengan kondisi atmosfer yang relatif lembap dan labil, kondisi cuaca signifikan masih berpotensi terjadi di sebagian Indonesia, khususnya Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, dan Papua Pegunungan.
Melihat potensi cuaca yang masih signifikan, BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan melakukan mitigasi diri, keluarga, dan lingkungannya terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologi, seperti genangan, banjir, banjir bandang, dan longsor.
PROSPEK CUACA SEPEKAN KE DEPAN
Periode 27 – 29 Januari 2026
Cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi hujan ringan hingga hujan lebat. Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang-lebat yang terjadi di Sumatra Barat, Jambi, Sumatra Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Tengah, D.I Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan.
Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang dapat terjadi, dengan kategori tingkat peringatan dini dan wilayah potensi kejadian sebagai berikut:
Siaga (Hujan lebat – sangat lebat): Bengkulu, Banten, DK Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, D.I Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur.
Awas (Hujan sangat lebat – hujan ekstrem): Jawa Barat.
Angin Kencang: Bali, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat.
Periode 29 Januari – 2 Februari 2026
Cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi hujan ringan hingga hujan lebat. Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang-lebat yang terjadi di Sumatra Barat, Jambi, Sumatra Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, Banten, DK Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Papua Barat Daya, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua.
Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang dapat terjadi, dengan kategori tingkat peringatan dini dan wilayah potensi kejadian sebagai berikut:
Siaga (Hujan lebat – sangat lebat): Sumatra Barat, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, dan Papua Pegunungan.
Angin Kencang: Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Maluku, Papua Barat Daya,
Prospek di atas merupakan kondisi secara umum. Untuk informasi cuaca lebih detail dapat diakses melalui website BMKG, aplikasi mobile infoBMKG dan sosial media @infoBMKG.
IMBAUAN
BMKG mengimbau masyarakat dan para pemangku kepentingan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi cuaca yang dapat berubah sewaktu-waktu serta potensi bencana hidrometeorologi akibat cuaca ekstrem. Masyarakat diharapkan lebih berhati-hati dalam merencanakan aktivitas, terutama perjalanan darat, laut, dan udara, serta kegiatan luar ruang seperti ibadah, dan aktivitas wisata.
BMKG juga mengimbau masyarakat untuk secara aktif memantau informasi prakiraan cuaca, peringatan dini, dan peringatan cuaca ekstrem resmi dari BMKG melalui berbagai kanal informasi, antara lain www.bmkg.go.id, aplikasi InfoBMKG, serta media sosial @infobmkg.
BMKG menyediakan layanan informasi cuaca khusus jalur perjalanan melalui Digital Weather for Traffic (DWT) yang telah terintegrasi di seluruh wilayah Indonesia. Melalui layanan tersebut, masyarakat dapat memperoleh informasi cuaca sepanjang rute perjalanan, mulai dari lokasi keberangkatan hingga tujuan akhir yang bisa disesuaikan dengan keinginan pengguna. Layanan Digital Weather for Traffic dapat diakses melalui aplikasi InfoBMKG maupun laman signature.bmkg.go.id/dwt.
Informasi akan terus diperbarui secara berkala mengikuti perkembangan cuaca terbaru, sehingga masyarakat dapat terus beraktivitas dengan lebih aman dan percaya diri.
Catatan:
Informasi ini telah melalui proses penyuntingan dan pembaruan tanggal 26 Januari 2026, 15.00 WIB.
Jakarta, 26 Januari 2026
Direktorat Meteorologi Publik BMKG
– Klik tautan ini jika PDF di atas tidak muncul.