
BMKG dan Timor-Leste Perkuat Kolaborasi, Dorong Penguatan SDM dan Kebencanaan
BMKG memperkuat kolaborasi dengan Kementerian Transportasi dan Komunikasi Republik Demokratik Timor-Leste di bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika.
Kembali ke Berita Utama

Jakarta – Kedeputian Bidang Klimatologi BMKG menyelenggarakan kegiatan Focus Group Discussion “Kajian Kerapatan Jaringan ALOPTAMA Pengamatan Iklim dan Kualitas Udara untuk Meningkatkan Layanan yang Cepat, Tepat, Akurat dan Menjangkau Seluruh Wilayah NKRI” secara daring, Selasa (22/2).
Kegiatan FGD ini diselenggarakan untuk memberikan gambaran kondisi jaringan pengamatan iklim dan kualitas udara yang ada saat ini, serta kondisi minimal dan ideal terkait kerapatan jaringan yang dibutuhkan dalam rangka mewujudkan efektifitas, kecepatan dan ketepatan dalam tata kelola pengamatan klimatologi sehingga dihasilkan pemetaan jaringan pengamatan iklim dan kualitas udara yang sustained ke depan.
Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim BMKG Dodo Gunawan menyebutkan, kajian terhadap kerapatan jaringan peralatan pengamatan klimatologi dan pemilihan Alat Operasional Utama (ALOPTAMA) yang digunakan menjadi sangat penting dalam rangka mewujudkan penyelenggaraan kegiatan pengamatan klimatologi, serta pengelolaan dan pengembangan jaringan pengamatan nasional yang ideal.
“Komponen utama dalam pengelolaan dan pengembangan jaringan pengamatan klimatologi adalah penggunaan Alat Operasi Utama (ALOPTAMA) klimatologi yang berkualitas dan memenuhi persyaratan operasional yang mengacu pada kebutuhan atau use case dari layanan informasi klimatologi yang diberikan,” sebutnya.
Fokus ALOPTAMA dalam kegiatan FGD kali ini antara lain peralatan Automatic Rain Gauge (ARG), Automatic Weather Station (AWS), High Volume Air Sampler (HVAS), Automatic Rain Water Sampler (ARWS), Peralatan Pemantau Partikulat PM2.5 dan Peralatan Pemantau Gas Rumah Kaca. Beberapa sektor terkait yang menjadi sasaran dalam FGD hari ini adalah sektor pertanian, kehutanan, kesehatan, sumber daya air, dan lingkungan hidup.
Dodo juga mengatakan dilaksanakannya FGD ini betujuan untuk menjaring rekomendasi, saran, dan masukan mengenai pengelolaan jaringan pengamatan iklim dan kualitas udara yang efektif khususnya terkait kebutuhan peralatan pengamatan iklim dan kualitas udara ke depan dengan mempertimbangkan berbagai aspek termasuk di antaranya kemajuan teknologi, sumber daya yang tersedia, kebutuhan stakeholder dan lain sebagainya.
“Rekomendasi dan saran yang disampaikan pada kegiatan FGD ini akan kami pergunakan untuk penyempurnaan penyusunan Naskah Akademik ALOPTAMA Klimatologi yang telah kami persiapkan sebelumnya,” ujar Dodo.
Kegiatan FGD ini menghadirkan berbagai narasumber dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Kesehatan, Kementerian Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Institut Teknologi Bandung, Institut Teknologi Nasional Bandung, dan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta.

BMKG memperkuat kolaborasi dengan Kementerian Transportasi dan Komunikasi Republik Demokratik Timor-Leste di bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika.

Flores, 26 Agustus 2026 – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan pendampingan teknis pascagempa bumi M7,7 pada 15 Agustus 2026 lalu kepada seluruh pemerintah daerah (pemda) di wilayah Flores. Penguatan sinergi dan transparansi data dilakukan sebagai bagian dari upaya rekonstruksi sekaligus mitigasi jangka panjang, mengingat potensi kegempaan di wilayah Flores cukup tinggi.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa fenomena astronomis Gerhana Bulan Sebagian akan berlangsung pada tanggal 28 Agustus 2026. Namun, masyarakat di seluruh wilayah Indonesia tidak dapat mengamati langsung fenomena alam ini karena posisi Indonesia berada di luar area visibilitas gerhana.