Kesiapan Negara Kawasan Asia Pasifik Hadapi Resiko Bencana
10 July 2017
Dwi Rini
Berita Utama
internati
Jakarta, (10/7). Daerah Asia Pasifik merupakan suatu kawasan yang rawan bencana alam. Jumlah penduduk yang tinggi di Wilayah Asia Pasifik pun menjadikan wilayah ini kawasan asia Pasifik sering terjadi bencana alam badai topan, gempa bumi, dan tsunami. Kondisi ini menjadikan Asia Pasifik menjadi salah satu sorotan dunia, termasuk lembaga sosial lembaga donor Internasional seperti Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk Asia Pasifik United Nations Economic and Social Commission for Asia and the Pacific (UN ESCAP).
Hingga saat ini, telah program yang dilakukan di negara-negara Kepulauan pasifik (Pacific Island Countries, PICs) untuk membantu negara-negara PIC agar siap menghadapi dan mengantisipasi resiko yang ditimbulkan oleh ancaman cuaca dan iklim ekstrim, seperti yang diutarakan Kepala BMKG, Dr. Andi Eka Sakya, didepan media massa Senin Pagi (10/7) di Jakarta saat membuka kegiatan “Training on National Multi-Hazards Early Warning System with Geospatial Applications for Disaster Risk Reduction and Sustainable Development.”
Kegiatan ini akan berlangsung dari tanggal 10 Juli 2017 s.d 2 Agustus 2017 di Pusat Pelatihan Regional (Regional Training Center, RTC) WMO region Pasifik Tenggara (RA V) di Citeko, Bogor, Jawa Barat. Kegiatan pelatihan ini diikuti 12 (dua belas) orang peserta perwakilan Badan Meteorologi dan Badan Penanggulangan Bencana dari 6 negara di wilayah Pasifik, yaitu Fiji, Papua New Guinea, Samoa, Solomon Islands, Tonga, dan Vanuatu.
Hingga saat ini UN-ESCAP (United Nations Economic and Social Commission for Asia and the Pasifik) bersama dengan BMKG telah melakukan kegiatan pelatihan terkait pengkajian resiko bencana dan sistem peringatan dini dengan menerapkan sistem GIS dan penginderaan jauh di negara-negara Pasifik (Training on multi-hazard risk assessment and early warning systems with applications of space and geographic information systems in Pacific island countries) dengan bantuan dana dari Pemerintah Jepang.
Sementara Kim Tae Hyung, UN ESCAP mengutarakan bahwa diakui Indonesia dalam hal ini BMKG telah memiliki memiliki banyak pengalaman dalam penanganan bencana alam serta telah memiliki sistem peringatan dini (early warning system) yang cukup baik. Lebih lanjut, Ia mengutarakan bahwa Komitmen Indonesia dalam membantu negara-negara di wilayah Pasifik juga tidak diragukan,
“Kami akan memberikan bantuan dana dari Pemerintahan Jepang terkait program peningkatan sistem peringatan dini di negara-negara Asia Pasifik,”ujar Mari Takada, Kedutaan Besar Jepang.
Kim Tae Hyung mengutarakan Indonesia diharapkan dapat menjadi tuan rumah dalam pertemuan tingkat menteri terkait penanganan bencana alam dan sistem peringatan dini.
Jika kita menengok ke belakang, pada tahun 2016 Indonesia yang diwakili Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah terpilih sebagai Pusat Regional Kawasan Asia Pasifik untuk meningkatkan kapasitas pemantauan resiko dan peringatan dini bencana alam terkait perubahan iklim dalam kerangka Kerjasama Selatan-Selatan
Kepedulian dan perhatian Indonesia terhadap pengembangan kapasitas negara-negara PIC telah dicatat sebagai bentuk kerjasama Selatan-Selatan, termasuk diantaranya bantuan konkrit Pemerintah Indonesia untuk Fiji dalam pemulihan /recovery dari dampak bencana Cyclone Winston di Fiji pada bulan Februari 2016 yang lalu.
BMKG Laksanakan Pemantauan Hilal Serentak di 37 Lokasi, Pastikan Kesiapan Observasi di Seluruh Indonesia
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaksanakan pemantauan hilal secara serentak di 37 lokasi yang tersebar di seluruh Indonesia pada Kamis (19/03/2026).
Kawal Keselamatan Mudik Lebaran 2026, BMKG Pastikan Kesiapan Layanan Informasi Cuaca Terintegrasi
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Teuku Faisal Fathani, melakukan rangkaian kunjungan kerja untuk meninjau kesiapan posko pelayanan mudik Lebaran 2026, Rabu (18/03/2026).
Kajian Ramadan di UGM, Kepala BMKG Ungkap Pentingnya Menjaga Keseimbangan Manusia dan Alam Hadapi Perubahan Iklim
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Teuku Faisal Fathani, menekankan pentingnya menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan alam sebagai bagian dari upaya menghadapi tantangan perubahan iklim global. Hal tersebut disampaikan saat menjadi narasumber dalam kajian Ramadan bertajuk Samudra: Safari Ilmu di Bulan Ramadan yang merupakan bagian dari program Ramadan di Kampus (RDK) di Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada.