
Kembali ke Berita Utama
Fokus pada Keselamatan Masyarakat, BMKG-ITB Perkuat Rantai Informasi Peringatan Dini
13 February 2026
Fahmi Dendi Saputra
Berita Utama

Jakarta 13 Februari 2026 – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan komitmennya dalam memperkuat sistem peringatan dini cuaca di tengah meningkatnya risiko bencana hidrometeorologi di berbagai wilayah Indonesia. Sebagai langkah konkret untuk mewujudkan komitmen tersebut, BMKG menjalin kerja sama strategis dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam penguatan informasi meterologi berbasis geospasial melalui riset dan inovasi, guna mendukung mitigasi serta pengurangan risiko.
Sebagaimana diketahui, sejumlah kejadian banjir, banjir bandang, dan tanah longsor terjadi di wilayah Sumatra dan Jawa pada akhir tahun 2025 hingga awal tahun 2026, menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan terhadap ancaman hidrometeorologi harus terus ditingkatkan secara sistematis dan berkelanjutan.
Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani menegaskan bahwa penguatan sistem peringatan dini menjadi prioritas utama dalam menghadapi dinamika cuaca ekstrem yang semakin kompleks.
“Kejadian hidrometeorologi yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan bahwa kita membutuhkan sistem peringatan dini yang semakin presisi hingga skala lokal. Informasi yang kami keluarkan harus mampu menjawab kebutuhan pengambilan keputusan secara cepat, baik oleh pemerintah daerah maupun masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pentingnya ketersediaan informasi peringatan dini cuaca yang tidak hanya cepat dan akurat, tetapi juga komprehensif, mudah dipahami, serta dapat segera ditindaklanjuti sebagai dasar pelaksanaan mitigasi di lapangan.
“Informasi peringatan dini tidak hanya cepat dan akurat, namun juga komprehensif, mudah dipahami, dan dapat langsung ditindaklanjuti untuk dasar melakukan mitigasi di lapangan. Spirit yang kami dorong adalah Early Warning, Early Action, Zero Victim,” tegasnya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, BMKG menekankan pentingnya kolaborasi multipihak melalui pendekatan pentahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, komunitas, dunia usaha, dan media. Sinergi ini mencakup koordinasi, berbagi data, serta pertukaran keahlian guna memperkuat efektivitas sistem peringatan dini nasional.
Kepala Pusat Analisis dan Penerapan Geospasial ITB, wedyanto juga mengatakan bahwa semangat early warning dan zero victim harus menjadi dasar sekaligus tujuan bersama dalam kolaborasi ini.
“Early warning dan zero victim menjadi dasar kita semua, menjadi tujuan kita semua untuk menyelamatkan masyarakat Indonesia dari bencana, sekaligus memitigasi risiko yang ada. Zero victim adalah target bersama yang harus terus kita upayakan,” katanya.
Sebagai langkah konkret, BMKG menjalin kerja sama strategis dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam dua fokus utama.
Pertama, pengembangan model cuaca resolusi tinggi melalui skema joint development antara tim BMKG dan ITB. Model ini diharapkan mampu meningkatkan ketelitian prediksi cuaca hingga skala lokal.
Kedua, penguatan informasi berbasis dampak (impact-based forecast) beserta model pendukungnya, seperti model risiko, model hidrologi, dan model hidrodinamika.
Tahap awal implementasi akan difokuskan di wilayah Jabodetabek yang memiliki kompleksitas risiko banjir tinggi, baik dari sisi hulu maupun hilir, termasuk potensi banjir pesisir. Integrasi model hidrologi dan model kelautan menjadi bagian penting dalam sistem ini guna memastikan peringatan dini yang lebih komprehensif.
BMKG menegaskan bahwa efektivitas peringatan dini sangat ditentukan oleh rantai informasi yang utuh, mulai dari observasi dan monitoring, pengolahan data dan pemodelan, diseminasi informasi, hingga respons nyata dari pemerintah dan masyarakat.
Melalui kerja sama ini, BMKG berharap dapat memperkuat basis sains, meningkatkan kapasitas keahlian, serta mempercepat adopsi inovasi teknologi dari riset ke operasional (research to operation, operation to research).
Upaya ini merupakan bagian dari komitmen BMKG dalam memperkuat ketahanan masyarakat Indonesia terhadap risiko cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi di masa mendatang, sekaligus memastikan bahwa setiap peringatan dini benar-benar bermuara pada aksi nyata di lapangan.





