Kupang dan Makassar, Juni 2026 – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat ketahanan iklim masyarakat di tengah tantangan perubahan iklim yang semakin nyata. Dampak perubahan iklim tidak hanya memengaruhi kondisi lingkungan, tetapi juga berpotensi mengganggu ketahanan pangan petani, keselamatan nelayan, serta keberlangsungan hidup kelompok rentan di Indonesia Timur.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, BMKG melalui Stasiun Klimatologi Nusa Tenggara Timur (NTT) bersama jejaring peneliti nasional dan internasional berkolaborasi dalam riset bertajuk Model of Future-Proofing for Climate Resilience by Engaging Communities (MoFCREC).
Riset aksi partisipatif yang diinisiasi oleh Monash University, Australia, ini telah berjalan sejak 2023 dengan dukungan Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Australia melalui program KONEKSI (Knowledge Partnership Platform Australia-Indonesia). Untuk mendiseminasikan hasil penelitian dan berbagai produk pengetahuan yang dihasilkan, tim MoFCREC menyelenggarakan serangkaian kegiatan di Kupang dan Makassar sepanjang Juni 2026.
Kepala Stasiun Klimatologi NTT, Rahmattulloh Adji, menyampaikan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam meningkatkan pemahaman dan pemanfaatan informasi cuaca dan iklim di tingkat masyarakat. Menurutnya, informasi yang dihasilkan BMKG perlu diterjemahkan ke dalam bentuk yang lebih mudah dipahami sehingga dapat dimanfaatkan secara optimal.
“BMKG memiliki peran strategis dalam menyediakan informasi cuaca dan iklim sebagai dasar pengambilan keputusan sekaligus edukasi publik. Kami berharap video edukasi ini dapat membumikan literasi iklim, meningkatkan pemanfaatan informasi BMKG di tingkat tapak demi keselamatan, ketahanan, serta kesejahteraan bersama,” ujar Rahmattulloh Adji.
Riset MoFCREC berfokus pada penguatan kapasitas kelompok yang kerap kurang terwakili dalam kebijakan iklim, seperti perempuan, lansia, dan penyandang disabilitas. Menindaklanjuti temuan terkait masih adanya kesenjangan komunikasi sains di tingkat masyarakat, proyek ini kemudian diperluas melalui program riset lanjutan yang melibatkan Prof. Sharyn Davies sebagai Pemimpin Proyek Ekstensi MoFCREC dan Dr. Welmince Djulete sebagai Manajer Proyek Ekstensi MoFCREC di Indonesia, bekerja sama dengan BMKG melalui Stasiun Klimatologi NTT.
Salah satu luaran kolaborasi tersebut adalah Video Edukasi Informasi Cuaca dan Iklim yang terdiri atas Seri Sektor Pertanian dan Seri Peringatan Dini Cuaca Ekstrem. Produk edukasi ini diluncurkan dalam Stakeholder Workshop yang diselenggarakan di Hotel Sotis Kupang pada 11 Juni 2026 dengan dukungan GARAMIN NTT dan Yayasan Tunas Aksara.
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur turut menyambut baik hasil riset yang dinilai mendukung upaya pembangunan daerah yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim. Plt. Kepala Bapperida Provinsi NTT, Theresia Maria Florensia, menyampaikan bahwa berbagai produk pengetahuan yang dihasilkan, dapat menjadi referensi dalam penyusunan kebijakan yang lebih inklusif dan responsif terhadap kelompok rentan.
“Pemerintah Provinsi NTT menyambut baik kerja sama strategis ini. Produk pengetahuan seperti Buku Saku Ketahanan Iklim dan Policy Brief yang dihasilkan riset ini memberikan kompas berharga bagi kami dalam menyusun kebijakan perencanaan daerah yang lebih inklusif, responsif gender, dan ramah disabilitas dalam menghadapi dampak perubahan iklim,” ungkapnya.
Rangkaian kegiatan di Kupang juga mencakup Pesta Literasi di SD GMIT Pukdale, Kabupaten Kupang, melalui pembagian buku cerita anak bertema perubahan iklim serta dialog publik yang disiarkan melalui TVRI Kupang.
Setelah merampungkan agenda di Kupang, tim MoFCREC melanjutkan kegiatan ke Makassar. Pada 17 Juni 2026, bertempat di Swiss-Belinn Hotel Makassar, diselenggarakan Stakeholder Workshop bertema Leveraging Faith-Based Strategies to Become Climate Resilient yang didukung oleh Universitas Hasanuddin, LBH Apik, dan organisasi disabilitas PERDIK.
Forum ini menghadirkan akademisi, pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, dan komunitas disabilitas untuk membahas penguatan ketahanan iklim berbasis komunitas.
Dalam kesempatan tersebut, Ketua Tim Peneliti Monash University, Prof. Sharyn Davies, menggarisbawahi bahwa strategi adaptasi perubahan iklim akan lebih kokoh dan berkelanjutan apabila mengintegrasikan pendekatan berbasis masyarakat serta nilai-nilai lokal dan spiritualitas yang hidup di tengah komunitas.
Komitmen terhadap penguatan ketahanan iklim juga disampaikan oleh Todd Dias selaku Konsulat Jenderal Australia di Makassar yang menegaskan pentingnya kemitraan pengetahuan (knowledge partnership) antara Indonesia dan Australia dalam menghadapi tantangan perubahan iklim. Sejalan dengan hal tersebut, Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Selatan menyampaikan bahwa rekomendasi kebijakan yang dihasilkan dari riset ini dapat menjadi acuan penting dalam penyusunan program adaptasi iklim berbasis masyarakat yang inklusif.
Sebagai bagian akhir dari rangkaian kegiatan, tim MoFCREC menyajikan luaran riset melalui pendekatan seni dan budaya. Pada 18–20 Juni 2026, diselenggarakan Pameran Seni Hasil Riset Tambahan di Museum Fort Rotterdam, Makassar. Pameran yang dibuka melalui Gala Dinner tersebut menampilkan rekam jejak visual dan dokumentasi partisipatif komunitas dalam menghadapi perubahan iklim, sekaligus menjadi momentum peluncuran Buku Saku Ketahanan Iklim yang dipimpin oleh Dr. Miya Irawati.
Melalui kolaborasi antara Pemerintah Australia, BMKG, pemerintah daerah, akademisi, organisasi masyarakat sipil, dan komunitas lokal, proyek MoFCREC menjadi contoh nyata pentingnya sinergi antara sains, kebijakan, dan partisipasi masyarakat dalam menghadapi tantangan perubKupang dan Makassar, Juni 2026 – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat ketahanan iklim masyarakat di tengah tantangan perubahan iklim yang semakin nyata. Dampak perubahan iklim tidak hanya memengaruhi kondisi lingkungan, tetapi juga berpotensi mengganggu ketahanan pangan petani, keselamatan nelayan, serta keberlangsungan hidup kelompok rentan di Indonesia Timur.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, BMKG melalui Stasiun Klimatologi Nusa Tenggara Timur (NTT) bersama jejaring peneliti nasional dan internasional berkolaborasi dalam riset bertajuk Model of Future-Proofing for Climate Resilience by Engaging Communities (MoFCREC).
Riset aksi partisipatif yang diinisiasi oleh Monash University, Australia, ini telah berjalan sejak 2023 dengan dukungan Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Australia melalui program KONEKSI (Knowledge Partnership Platform Australia-Indonesia). Untuk mendiseminasikan hasil penelitian dan berbagai produk pengetahuan yang dihasilkan, tim MoFCREC menyelenggarakan serangkaian kegiatan di Kupang dan Makassar sepanjang Juni 2026.
Kepala Stasiun Klimatologi NTT, Rahmattulloh Adji, menyampaikan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam meningkatkan pemahaman dan pemanfaatan informasi cuaca dan iklim di tingkat masyarakat. Menurutnya, informasi yang dihasilkan BMKG perlu diterjemahkan ke dalam bentuk yang lebih mudah dipahami sehingga dapat dimanfaatkan secara optimal.
“BMKG memiliki peran strategis dalam menyediakan informasi cuaca dan iklim sebagai dasar pengambilan keputusan sekaligus edukasi publik. Kami berharap video edukasi ini dapat membumikan literasi iklim, meningkatkan pemanfaatan informasi BMKG di tingkat tapak demi keselamatan, ketahanan, serta kesejahteraan bersama,” ujar Rahmattulloh Adji.
Riset MoFCREC berfokus pada penguatan kapasitas kelompok yang kerap kurang terwakili dalam kebijakan iklim, seperti perempuan, lansia, dan penyandang disabilitas. Menindaklanjuti temuan terkait masih adanya kesenjangan komunikasi sains di tingkat masyarakat, proyek ini kemudian diperluas melalui program riset lanjutan yang melibatkan Prof. Sharyn Davies sebagai Pemimpin Proyek Ekstensi MoFCREC dan Dr. Welmince Djulete sebagai Manajer Proyek Ekstensi MoFCREC di Indonesia, bekerja sama dengan BMKG melalui Stasiun Klimatologi NTT.
Salah satu luaran kolaborasi tersebut adalah Video Edukasi Informasi Cuaca dan Iklim yang terdiri atas Seri Sektor Pertanian dan Seri Peringatan Dini Cuaca Ekstrem. Produk edukasi ini diluncurkan dalam Stakeholder Workshop yang diselenggarakan di Hotel Sotis Kupang pada 11 Juni 2026 dengan dukungan GARAMIN NTT dan Yayasan Tunas Aksara.
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur turut menyambut baik hasil riset yang dinilai mendukung upaya pembangunan daerah yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim. Plt. Kepala Bapperida Provinsi NTT, Theresia Maria Florensia, menyampaikan bahwa berbagai produk pengetahuan yang dihasilkan, dapat menjadi referensi dalam penyusunan kebijakan yang lebih inklusif dan responsif terhadap kelompok rentan.
“Pemerintah Provinsi NTT menyambut baik kerja sama strategis ini. Produk pengetahuan seperti Buku Saku Ketahanan Iklim dan Policy Brief yang dihasilkan riset ini memberikan kompas berharga bagi kami dalam menyusun kebijakan perencanaan daerah yang lebih inklusif, responsif gender, dan ramah disabilitas dalam menghadapi dampak perubahan iklim,” ungkapnya.
Rangkaian kegiatan di Kupang juga mencakup Pesta Literasi di SD GMIT Pukdale, Kabupaten Kupang, melalui pembagian buku cerita anak bertema perubahan iklim serta dialog publik yang disiarkan melalui TVRI Kupang.
Setelah merampungkan agenda di Kupang, tim MoFCREC melanjutkan kegiatan ke Makassar. Pada 17 Juni 2026, bertempat di Swiss-Belinn Hotel Makassar, diselenggarakan Stakeholder Workshop bertema Leveraging Faith-Based Strategies to Become Climate Resilient yang didukung oleh Universitas Hasanuddin, LBH Apik, dan organisasi disabilitas PERDIK.
Forum ini menghadirkan akademisi, pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, dan komunitas disabilitas untuk membahas penguatan ketahanan iklim berbasis komunitas.
Dalam kesempatan tersebut, Ketua Tim Peneliti Monash University, Prof. Sharyn Davies, menggarisbawahi bahwa strategi adaptasi perubahan iklim akan lebih kokoh dan berkelanjutan apabila mengintegrasikan pendekatan berbasis masyarakat serta nilai-nilai lokal dan spiritualitas yang hidup di tengah komunitas.
Komitmen terhadap penguatan ketahanan iklim juga disampaikan oleh Todd Dias selaku Konsulat Jenderal Australia di Makassar yang menegaskan pentingnya kemitraan pengetahuan (knowledge partnership) antara Indonesia dan Australia dalam menghadapi tantangan perubahan iklim. Sejalan dengan hal tersebut, Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Selatan menyampaikan bahwa rekomendasi kebijakan yang dihasilkan dari riset ini dapat menjadi acuan penting dalam penyusunan program adaptasi iklim berbasis masyarakat yang inklusif.
Sebagai bagian akhir dari rangkaian kegiatan, tim MoFCREC menyajikan luaran riset melalui pendekatan seni dan budaya. Pada 18–20 Juni 2026, diselenggarakan Pameran Seni Hasil Riset Tambahan di Museum Fort Rotterdam, Makassar. Pameran yang dibuka melalui Gala Dinner tersebut menampilkan rekam jejak visual dan dokumentasi partisipatif komunitas dalam menghadapi perubahan iklim, sekaligus menjadi momentum peluncuran Buku Saku Ketahanan Iklim yang dipimpin oleh Dr. Miya Irawati.
Melalui kolaborasi antara Pemerintah Australia, BMKG, pemerintah daerah, akademisi, organisasi masyarakat sipil, dan komunitas lokal, proyek MoFCREC menjadi contoh nyata pentingnya sinergi antara sains, kebijakan, dan partisipasi masyarakat dalam menghadapi tantangan perubahan iklim. Program ini diharapkan dapat memperkuat pemanfaatan informasi cuaca dan iklim dalam pengambilan keputusan serta meningkatkan kapasitas masyarakat untuk menghadapi berbagai risiko yang ditimbulkan oleh perubahan iklim di masa depan.
ahan iklim. Program ini diharapkan dapat memperkuat pemanfaatan informasi cuaca dan iklim dalam pengambilan keputusan serta meningkatkan kapasitas masyarakat untuk menghadapi berbagai risiko yang ditimbulkan oleh perubahan iklim di masa depan.