Kembali ke Berita

BMKG Optimalkan OMC di Danau Toba, Dukung Ketahanan Air dan Antisipasi Kemarau 2026

Linda
BMKG Optimalkan OMC di Danau Toba, Dukung Ketahanan Air dan Antisipasi Kemarau 2026

Tapanuli Utara, 30 April 2026 – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus mengoptimalkan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Daerah Tangkapan Air (DTA) Danau Toba, Kamis (30/04/2026). Kegiatan yang direncanakan berlangsung hingga awal Mei 2026 ini merupakan bagian dari upaya menjaga ketersediaan air sekaligus mengantisipasi dampak musim kemarau tahun 2026.

Pelaksanaan OMC kali ini merupakan hasil sinergi antara BMKG, Perum Jasa Tirta I (PJT I), dan PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM) dalam mendukung pengelolaan sumber daya air di kawasan Danau Toba. Kegiatan turut dihadiri Kepala Balai MKG Wilayah I Hendro Nugroho, Penasehat Kepala Muslim Andri, serta Kepala Stasiun Meteorologi Silangit Gatot Rudiantoro.

Dalam sambutannya, Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menegaskan bahwa Presiden RI, Prabowo Subianto, memberikan perhatian besar terhadap penguatan OMC di Indonesia.

“Instruksi Presiden sangat jelas, BMKG harus diperkuat, terutama dalam pelaksanaan operasi modifikasi cuaca. Saat ini kami sedang berproses,” ungkapnya.

Faisal juga menekankan pentingnya penguatan infrastruktur pendukung, khususnya radar cuaca, sebagai instrumen utama dalam mendiagnosis kondisi atmosfer sebelum pelaksanaan OMC.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa peningkatan frekuensi OMC tidak terlepas dari tantangan perubahan iklim yang semakin nyata. Pada tahun ini, Indonesia dihadapkan pada potensi El Niño yang berpotensi menyebabkan musim kemarau datang lebih awal, berlangsung lebih panjang, serta curah hujan berada di bawah normal.

“OMC pasti akan terus ditingkatkan frekuensinya untuk menjaga debit bendungan dan mencegah Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Ke depan, BMKG siap terus memberikan dukungan penuh untuk melaksanakan operasi pengelolaan air sebaik-baiknya,” kata Faisal.

Sementara itu, Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, melaporkan bahwa pelaksanaan OMC di DTA Danau Toba direncanakan berlangsung selama 25 hari, terhitung sejak 9 April hingga sekitar 3 Mei 2026.

Hingga 29 April 2026, operasi telah berjalan selama 21 hari dengan capaian 33 sorti penyemaian awan. “Saat ini masih tersisa sekitar empat hari pelaksanaan untuk mengoptimalkan capaian operasi,” ujar Seto.

Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG, Budi Harsoyo, menambahkan bahwa total target waktu terbang dalam kontrak adalah 50 jam. Dengan capaian saat ini, masih tersedia sisa waktu terbang sekitar 6 jam.

“Capaian kegiatan saat ini sudah mencapai sekitar 86,78 persen. Evaluasi akan dilakukan pada akhir pelaksanaan, termasuk penyesuaian pada LKK (Laporan Kemajuan Kinerja) apabila terdapat selisih capaian waktu terbang,” jelasnya.

Di sisi lain, Direktur Utama Perum Jasa Tirta I, Fahmi Hidayat, menyampaikan apresiasi atas dukungan BMKG dalam pelaksanaan OMC di wilayah Sungai Toba–Asahan.

“Kami memiliki tanggung jawab untuk menjaga kuantitas, kualitas, dan kontinuitas sumber daya air permukaan guna memenuhi berbagai kebutuhan, mulai dari pembangkit listrik tenaga air, irigasi, domestik, hingga industri. Dukungan OMC ini sangat membantu dalam memastikan ketersediaan air di waduk dan tampungan yang kami kelola,” ujar Fahmi.

Ia menambahkan, melihat manfaat yang dihasilkan, pihaknya berharap pelaksanaan OMC dapat dilakukan secara lebih rutin dan intensif.

“Seperti di beberapa negara yang telah maju dalam teknologi modifikasi cuaca, kami berharap OMC ke depan dapat dimanfaatkan tidak hanya untuk kepentingan energi, tetapi juga untuk penanggulangan kekeringan dan banjir di berbagai wilayah,” imbuhnya.

Sebelumnya, BMKG juga telah melaksanakan rapat evaluasi pelaksanaan OMC di Posko OMC Siborong-borong pada 23 April 2026 sebagai bagian dari upaya memastikan efektivitas dan akuntabilitas kegiatan. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa OMC berkontribusi terhadap peningkatan curah hujan di wilayah DTA Danau Toba, khususnya di bagian timur dan tenggara, termasuk Pulau Samosir, yang berdampak pada peningkatan inflow dan tinggi muka air danau.

BMKG juga menegaskan bahwa pelaksanaan OMC tidak menimbulkan bencana. Sejumlah kejadian banjir dan longsor yang terjadi telah diverifikasi tidak berkaitan dengan aktivitas penyemaian awan.

Melalui pelaksanaan OMC ini, BMKG berharap ketersediaan air di kawasan Danau Toba tetap terjaga serta mampu mendukung berbagai sektor yang bergantung pada sumber daya air, khususnya dalam menghadapi dinamika iklim yang semakin kompleks.

 

Hubungi via WhatsApp