Seminar Nasional Sains dan Atsmofer 2016

  • Petugas Web
  • 22 Apr 2016
Seminar Nasional Sains dan Atsmofer 2016

Bandung, Kamis (21/04/2016) Lembaga Penerbangan dan Antariksa menyelenggarakan pertemuan antara pakar dan peneliti dari berbagai Instansi, Kementerian/Lembaga yang dikemas dalam bentuk Seminar Nasional bertema ``Kontribusi Sains dan Teknologi Atsmofer serta aplikasinya untuk Meningkatkan Daya Saing Nasional``.

Seminar yang diselenggarakan di ruang Auditorium gedung LAPAN sebagai wahana diskusi dan bertujuan membangun jejaring terkait cuaca dan iklim, komposisi atsmofer, perkembangan teknologi atsmofer dan ruang lingkup sains atsmofer lainnya guna memacu kualitas penelitian dan pengembangan sains, serta teknologi atsmofer yang dapat berkontribusi dalam peningkatan daya saing nasional.

Narasumber yang hadir dalam kegiatan seminar nasional ini berasal dari para Pakar, akademisi serta mahasiswa. Kepala BMKG Dr. Andi Eka M.Eng menjadi pembicara utama dengan mempresentasikan paparannya yang bertema ``Urgensi dan Tantangan Pengembangan Pengamatan Atsmofer Benua Maritim Indonesia Berbasis Teknologi Satelit``.

``Sebagai lembaga penelitian LAPAN-BMKG saling mengisi dan memperkuat perihal pengamatan dan permodelan yang dibuat, sehingga memberi informasi akurat terutama untuk peringatan dini cuaca, serta anomali iklim`` ujar Dr. Andi Eka mangawali sambutannya.

Lebih lanjut Dr. Andi Eka dalam paparannya menyampaikan, terkait dengan pengembangan program satelit meteorologi Indonesia (IN-MetSat) agar dapat masuk di dalam roadmap Satelit Nasional BMKG telah melakukan koordinasi dengan LAPAN,BPPT,LIPI,Universitas dan Industri Nasional, dan saat ini BMKG-LAPAN-TELKOM sedang menjajaki 2 opsi Program Satelit Cuaca Nasional sebagai rintisan program satelit Meteorologi nasional yakni:

1. Hosted payload di satelit TELKOM-4 dengan optical camera.

2. Program dedicated small satellite dengan misi khusus meteorologi.

Sedangkan untuk tantangan yang harus dihadapi saat ini adalah :

1. Membangun terobosan ``common awareness`` urgensitas pengembangan teknologi satelit nasional untuk memitigasi dan beradaptasi terhadap perubahan iklim.

2. Mengembangkan sebuah roadmap pengembangan teknologi satelit nasional yang dapat dimanfaatkan secara bersama, sebelum semua posisi orbital ditempati oleh negara lain (membangun kemandirian strategis)

3. Membangun konsistensi jangka panjang dalam pengembangan dan pemanfaatan satelit untuk mendukung kebutuhan pembangunan nasional berkelanjutan ( sustaining development), ujar Dr. Andi Eka Sakya mengakhiri paparannya.

Gempabumi Terkini

  • 29 Sep 2020, 05:09 WIB
  • 2.5
  • 10 km
  • 3.29 LS - 128.43 BT
  • Pusat gempa berada di darat 10 km TimurLaut Kiratu - SBB
  • Dirasakan (Skala MMI): II Kairatu
  • Selengkapnya →
  • Pusat gempa berada di darat 10 km TimurLaut Kiratu - SBB
  • Dirasakan (Skala MMI): II Kairatu
  • Selengkapnya →

Siaran Pers