Kilas Balik Kejadian Cuaca, Iklim, dan Gempabumi 2016 `INDONESIA RENTAN BENCANA`

  • Dwi Rini
  • 06 Jan 2017
Kilas Balik Kejadian Cuaca, Iklim, dan Gempabumi 2016 `INDONESIA RENTAN BENCANA`

Jakarta, Kamis (5/1). Hari ini Kepala BMKG, Dr. Andi Eka Sakya, M. Eng memberikan ulasan kilas balik dampak kejadian cuaca, iklim, dan gempa di depan puluhan media massa cetak, elektronik, dan online. Masih teringat di benak kita, bahwa pada tahun 2016 lalu banyak rangkaian kejadian dan peristiwa yang menjadi pusat perhatian pemerintah dan masyarakat Indonesia. Seperti yang masih terekam di benak kita, di tahun 2016 banyak kejadian bencana hidrometeorologi datang menyapa seperti Banjir Bandang di Garut 20 September 2016, banjir di Bandung 24 Oktober 2016 , dan banjir di Gorontalo 25 Oktober 2016 dan beberapa kejadian cuaca ekstrim di wilayah Indonesia seperti tanah longsor, hujan lebat disertai angin kencang, dan gelombang tinggi (ekstrim) yang terjadi pada minggu I bulan Juni 2016 yang memicu storm tide di Pantai Barat Sumatera, Selatan Jawa Hingga Lombok. Berdasarkan data BNPB, wilayah Pulau Jawa, terutama Provinsi Jawa Barat memiliki tingkat frekuesi tertinggi kejadian bencana hidrometeorologi.

Andi Eka menambahkan curah hujan tertinggi di sepanjang tahun 2016 terjadi di Subulussalam, Aceh (31 januari 2106) dengan curah hujan 428 mm/hari. Sedangkan untuk presentase wilayah dengan peningkatan HH di 2016 terhadap normal HH 1981-2010, Pulau Jawa mengalami kenaikan Jumlah HH dibawah 50 mm/hari (92.6% dari Jumlah Sta. di Jawa); kenaikan jumlah HH kriteria lebat >50 mm/hari terjadi di P Jawa (66.7%) sementara kenaikan jumlah HH sangat lebat (>100 mm/hari ) tertinggi di Kalimantan (59.1%).

`Kondisi variabilitas dan perubahan iklim di tahun 2016, terlihat adanya peningkatan curah hujan di beberapa wilayah yang menjadikan curah hujan tahunan 2016 dibandingkan tahun 2015 lebih basah di seluruh wilayah Indonesia. Kondisi ini tidak sebasah jika dibandingkan tahun 1998, karena pada tahun 2016 La Nina dalam kategori lemah`imbuh Andi Eka Sakya.

Tahun 2016, Indonesia memasuki masa `Kemarau Basah`. Kondisi tersebut dipengaruhi adanya beberapa faktor global, seperti: tidak kuatnya Monsun Australia (Angin Timuran); kondisi SST di perairan Indonesia yang lebih hangat; Indian Ocean Dipole (IOD) Mode Negatif (nilai Indeks DMI = -1,09). Untuk curah hujan tahunan tertinggi 2016 terjadi di Nabire, Papua (6.808,2mm), dan untuk curah hujan tahunan terendah terjadi di Palu, Sulteng (651.6).

`Kita harus mengupayakan penanganan masalah perubahan iklim supaya nilai ambang GRK tidak terus meningkat melebihi 2 derajad celcius yang setara dengan nilai kosentrasi GRK 450 ppm,` ujar Andi Eka di depan media massa.

Hal ini perlu menjadi perhatian kita semua karena berdasarkan hasil hasil pemantauan di stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Koto Tabang menunjukan bulan November 2016 mencapai tingkat konsentrasi 404 ppm. Diperkirakan pada tahun 2030 mencapai 433.66 ppm, laju kenaikan kosentarasi 2.05 ppm/ tahun.

Posisi Indonesia yang dilalui 3 lempengan dunia dan terdapat beberapa sesar aktif yang menjadikan wilayah Indonesia sangat rentan terhadapa kejadian gempa bumi dan tsunami. Gempabumi yang terjadi di wilayah Indonesia selama tahun 2016 adalah sebanyak 5.578 kali dalam variasi magnitudo dan kedalaman. Gempabumi dengan kekuatan M = 5,0 terjadi sebanyak 181 kali, gempabumi merusak 12 kali dan terjadi 1 kali gempabumi yang berpotensi tsunami.

Andi Eka pun menjelaskan bahwa BMKG mencatat aktifitas gempabumi yang bersumber di lokasi yang bukan merupakan zona gempa pada umumnya. Aktifitas gempabumi ini dikenal sebagai gempabumi latar belakang (Background Earthquake), seperti gempabumi Tarakan (Kalimantan Utara), M=4,2 pada 8 Januari 2016 dan gempabumi Kendawangan (Kalimantan Barat) M=5,0 pada 24 Juni 2016.

BMKG pun telah melakukan observasi terhadap kondisi `Ice Sheet` Puncak Jaya Wijaya di November 2016 untuk mengukur kecepatan penurunan tebal es akibat pemanasan atmosfer Pada Mei 2016, tebal es berkurang ~4.26 m dalam ~6 bulan. Hal ini disebabkan karena pengaruh El Nino kuat 2015/16. Sementara pada 23 November 2016 menunjukkan tambahan pengurangan tebal es sebanyak 1.43 m sejak Mei 2016 sehingga total tebal es tersisa 20.54 m.

Andi Eka menghimbau kepada masyarakat untuk terus melakukan antisipasi terhadap kerentanan bencana sebagai langah mitigasi untuk mengurangi resiko bencana yang nantinya dapat menekan korban jiwa dan kerugian yang lebih besar dihari-hari mendatang seiring dengan upaya pembangunan yang sedang dilakukan.

"Gambaran peristiwa yang terjadi tahun 2016 diharapkan dapat memberikan gambaran tingkat kerentanan Indonesia terkait dengan dampak cuaca, iklim dan kegempaan, "ujar Andi Eka Sakya.

Tren cuaca dan klim 2017, kondisi normal

Pada acara kila balik tersebut, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprakirakan kondisi cuaca dan iklim di tahun 2017 berada dalam kondisi netral atau normal dibanding 2015 dan 2016. Namun potensi ancaman kondisi cuaca lokal dan meningkatnya hotspot patut diwaspadai karena bisa memicu kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

Kepala BMKG Andi Eka Sakya mengatakan, tren cuaca pada tahun 2017 ada kemungkinan normal. Tetapi faktor perubahan iklim dan keberagaman tingkat kerentanan masing-masing wilayah berbeda satu sama lain.

"Ada beberapa wilayah yang hujannya ekuatorial yakni memiliki dua kali musim kemarau. Misalnya pada Februari sampai Maret di wilayah Riau, Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah mengalami kemarau, lalu masuk lagi hujan di bulan April-Mei, Kemudian, pada Juni kembali lagi ke musim kemarau," katanya

Di Indonesia, 8 provinsi merupakan daerah rawan Karhutla antara lain Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Riau, Jambi, Sumatera Selatan dan Papua.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG Yunus S Swarinoto mengungkapkan, jika melihat kondisi hujan normal di 2017, maka potensi karhutla akan lebih tinggi dibanding 2016 dan lebih rendah dibanding 2015. Hal ini terjadi karena di sejumlah wilayah ada yang mengalami dua kali musim kemarau.

Senada dengan Kepala BMKG, Deputi Bidang Klimatologi BMKG Mulyono Prabowo mengatakan, kondisi tahun 2017 diperkirakan mengarah ke netral, normal.

"Tahun 2015 dan 2016 agak ekstrem. Tahun 2015 kering karena El Nino dan tahun 2016 La Nina yang membuat kondisi kemarau basah. Kondisi cuaca dan iklim Tahun 2017 berada tidak diatas kondisi iklim 2015 dan dan tidak dibawah tahun 2016.,"ujarnya.

Gempabumi Terkini

  • 29 Sep 2020, 05:09 WIB
  • 2.5
  • 10 km
  • 3.29 LS - 128.43 BT
  • Pusat gempa berada di darat 10 km TimurLaut Kiratu - SBB
  • Dirasakan (Skala MMI): II Kairatu
  • Selengkapnya →
  • Pusat gempa berada di darat 10 km TimurLaut Kiratu - SBB
  • Dirasakan (Skala MMI): II Kairatu
  • Selengkapnya →

Siaran Pers