Kepala BMKG Cek Progress Rencana Mitigasi Tsunami Untuk Pembangunan Bandara Baru Kulon Progo

  • Rachmat Hidayat
  • 04 Des 2017
Kepala BMKG Cek Progress Rencana Mitigasi Tsunami Untuk Pembangunan Bandara Baru Kulon Progo

Yogyakarta - Kepala BMKG, Prof. Dwikorita Karnawati melakukan kunjungan kerja dalam rangka mengecek progres persiapan pembangunan Bandara Baru Kulon Progo dari segi perencanaan mitigasi tsunami, Jumat (01/12/2017). Pembangunan Bandara Internasional Kulon Progo (New Yogyakarta International Airport - NYIA) telah dimulai semenjak peletakan batu pertama oleh Presiden Joko Widodo di awal tahun 2017.

Jika dilihat dari lokasinya, bandara yang akan dibangun termasuk kedalam zona subduksi yang ada di selatan Pulau Jawa sehingga rawan terhadap tsunami. Oleh karena itu memahami karakteristik ancaman tsunami di lokasi tersebut menjadi langkah penting dalam membangun strategi pengurangan risiko bencana tsunami. Pemahaman itu meliputi kejadian sejarah tsunami masa lalu (paleotsunami), karakteristik gempabumi dan potensi ancaman tsunami yang dibangkitkannya. Melalui kajian simulasi model tsunami, tim mitigasi tsunami yang terdiri dari gabungan beberapa instansi seperti BMKG, UGM, ITB dan Pusat Studi Gempa Nasional melakukan rekonstruksi lokasi sumber gempa dan propagasi gelombang tsunami, sehingga dapat memperkirakan rendaman tsunami yang akan menentukan design ketinggian bangunan serta jangkauan landasan di rencana lokasi bandara.

Kepala BMKG melihat kondisi lapangan melalui kunjungan ke lokasi Bandara Kulon Progo yang akan dibangun. Menurut hasil kajian empiris, potensi bencana gempa dan tsunami di subduksi selatan Jawa cukup tinggi dengan magnitudo bisa lebih dari 8,5. Dengan potensi sebesar itu maka berdasarkan simulasi model TUNAMI N2 yang telah dikaji oleh tim BMKG, gempabumi Magnitudo 8,5 yang ditimbulkannya bisa mengakibatkan tsunami dengan ketinggian lebih dari 5 meter di sepanjang pantai bandara Kulon Progo. Dari pemodelan inundasi (rendaman) yang menggambarkan cakupan kedalaman rendaman di area bandara, memberikan hasil, sebagian besar wilayah bandara terendam oleh tsunami dengan kedalaman (yang diukur dari permukaan tanah atau topografi setempat) bervariasi dari sekitar 5 sampai 10 meter.

Dalam perjalanan menuju lokasi pembangunan Bandara Kulon Progo, Kepala BMKG berkesempatan mengunjungi lokasi Sirine BMKG di Pantai Glagah - Kulon Progo. Sistem sirine ini merupakan sistem peringatan dini terintegrasi yang dapat memberikan peringatan kepada masyarakat di lokasi bencana tsunami. Dengan demikian diharapkan peringatan dini tsunami dapat menjangkau masyarakat, sehingga dengan segera dapat bertindak menyelamatkan diri.
Perjalanan Kepala BMKG dilanjutkan dengan mengunjungi Tempat Evakuasi Sementara (TES) di Bantul, melihat lokasinya yang jauh dari pemukiman penduduk, Kepala BMKG mengharapkan bandara baru yang akan dibangun dapat juga menjadi tempat evakuasi sementara bagi masyarakat sekitar Kulon Progo, sehingga perlu dipertimbangkan kapasitas daya tampung bandara agar fungsi bandara untuk mitigasi bencana dapat terpenuhi.

Selanjutnya, Kepala BMKG mengikuti Focus Group Discussion (FGD) dengan tema diskusi mitigasi tsunami untuk perencanaan Bandara Internasional Baru Kulon Progo. Selain BMKG, turut serta hadir sebagai narasumber, Prof. Mashyur Irsyam (Pusat Studi Gempa Nasional), Bapak Widodo (Angkasa Pura I), dan Dr. Harkunti Rahayu (ITB). FGD ini merupakan tindak lanjut perjalanan tim mitigasi tsunami ke Jepang. Kepala BMKG menyampaikan BMKG telah melakukan kajian tsunami dan mikrozonasi dalam rangka mitigasi tsunami Bandara Kulon Progo. Lebih jauh lagi Kepala BMKG menerangkan bahwa sebagai persyaratan dari ICAO, setiap pembangunan bandara harus dilengkapi dengan stasiun meteorologi yang semestinya dibangun oleh Angkasa Pura, kemudian dari segi SDM serta fasilitas didalamnya akan menjadi tanggung jawab BMKG.

Dalam FGD ini, Bapak Robert Owen, Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG mempresentasikan hasil model tsunami yang telah dikaji oleh tim BMKG. Bergantung pada karakteristik bahaya tsunami, area yang akan terkena dampak tsunami berfrekuensi tinggi namun berdampak rendah, diidentifikasi sebagai tsunami Level 1 (L1). Sedangkan area yang terkena dampak tsunami berfrekuensi rendah namun berdampak tinggi diidentifikasi sebagai tsunami Level 2 (L2). Hasil konsensus FGD untuk rencana mitigasi tsunami Bandara Baru Kulon Progo memutuskan bahwa Magnitudo maksimum untuk L2 adalah 8,8 dengan simulasi lebih lanjut akan dilakukan oleh tim BMKG.

Di sela-sela acara kunjungan kerja ini, Kepala BMKG bersama-sama dengan Kepala Stasiun Klimatologi Mlati dan Kepala Stasiun Geofisika Yogyakarta melaksanakan pers conference di Staklim Mlati. Kepala BMKG menyampaikan rilis terkait update cuaca ekstrem, perkembangan dari siklon tropis Cempaka dan Dahlia serta penyampaian informasi terdeteksinya dua bibit siklon tropis yang berada di teritori TCWC India dan Perth, yaitu 93W yang terpantau di Laut Andaman sebelah utara Aceh dan 97S yang terpantau di Samudera Hindia sebelah selatan NTT. Kepala BMKG meminta warga di wilayah Yogyakarta agar meningkatkan kewaspadaan terhadap peningkatan curah hujan yang dapat menyebabkan banjir dan longsor seperti yang terjadi di Yogyakarta beberapa waktu lalu.

Gempabumi Terkini

  • 18 Sep 2020, 01:54 WIB
  • 2.9
  • 10 km
  • 3.44 LS - 128.35 BT
  • Pusat gempa berada di Laut 34 km Timur Laut Ambon
  • Dirasakan (Skala MMI): II Kairatu
  • Selengkapnya →
  • Pusat gempa berada di Laut 34 km Timur Laut Ambon
  • Dirasakan (Skala MMI): II Kairatu
  • Selengkapnya →

Siaran Pers