BMKG dan Kolaborasi Global, Membuka Jalan Menuju Cuaca Laut yang Lebih Akurat

  • Dian Endah
  • 24 Okt 2023
BMKG dan Kolaborasi Global, Membuka Jalan Menuju Cuaca Laut yang Lebih Akurat

NUSA DUA (24 Oktober 2023)- Indonesia, sebagai negara kepulauan tropis yang sekitar 70% wilayahnya dikelilingi oleh perairan, menghadapi tantangan besar dalam menjaga keseimbangan antara daratan dan lautan. Keseimbangan ini sangat dipengaruhi oleh interaksi dinamis antara darat dan laut, yang memiliki dampak penting dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Oleh karena itu, informasi cuaca perairan menjadi esensial, didukung oleh data real-time, penelitian, pengembangan kapasitas, dan pengetahuan yang dikumpulkan secara kolektif untuk memajukan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi dalam bidang kelautan.

"Upaya kolaboratif ini memiliki peran sentral dalam memahami kondisi lautan global dan ekosistemnya secara menyeluruh, membangun kemitraan global yang memfasilitasi sumber daya dan solusi bersama untuk mengatasi tantangan samudra di dunia," ujar Dwikorita dalam sesi ke-39 Data Buoy Co-Operation Panel (DBCP-39).

Di Indonesia, interaksi antara daratan dan laut telah menjadi salah satu faktor utama dalam menentukan karakteristik cuaca dan iklim. Peristiwa seperti El Nino-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) memiliki dampak signifikan karena posisi geografis Indonesia yang terletak di antara dua benua dan dua samudera, yakni Samudera Hindia dan Pasifik. Selain itu, aktivitas Arus Lintas Indonesia (Arlindo) juga turut mempengaruhi kondisi cuaca dan iklim di Indonesia. Setelah mengalami rangkaian tahun yang gejolak, mulai dari La Nina Triple-Dip pada tahun 2020 hingga 2022, Indonesia sekarang dihadapkan pada masalah kekeringan yang serius, yang dipicu oleh El Nino yang kuat. Oleh karena itu, keakuratan dan keterlambatan peringatan dini sangat penting, dan hal ini bergantung pada data pengamatan laut yang dikumpulkan melalui situs web OceanOPS.

Keberhasilan pengamatan laut ini sejalan dengan salah satu peran Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam mengeluarkan informasi dan peringatan dini terkait cuaca perairan. BMKG memenuhi tanggung jawab dengan berperan aktif dalam penelitian, pengembangan, dan inovasi dalam penggunaan model prakiraan cuaca perairan yang mutakhir, memungkinkan prediksi cuaca perairan dan parameter oseanografi yang lebih akurat.

Pentingnya pengamatan laut menuntut kolaborasi yang erat, dan BMKG telah berkomitmen untuk berpartisipasi dalam inisiatif bersama sejak tahun 2015, dengan fokus pada pemeliharaan Buoy Research Moored Array for African-Asian-Australian Monsoon Analysis and Prediction (RAMA). Kolaborasi ini juga meningkatkan ketersediaan data dan metadata, dan mendorong kerja sama yang lebih erat dengan komunitas pengguna data pelampung, serta mempromosikan praktik terbaik dalam manajemen data dalam kegiatan Data Buoy Co-Operation Panel (DBCP-39).

Di masa ketika dunia semakin terhubung dan pentingnya kerja sama global, DBCP menjadi simbol kolaborasi ilmiah yang kuat. Program ini tidak sekadar berupaya untuk membagi pengetahuan, tetapi juga berkomitmen untuk mencapai tujuannya secara aktif, membuka peluang untuk terobosan dalam disiplin ilmu seperti oseanografi, meteorologi, klimatologi, dan bidang-bidang lainnya. Data yang tersedia secara terbuka dianggap sebagai harta berharga bagi peneliti, dan masyarakat yang prihatin akan lingkungan. Tekad DBCP untuk memastikan bahwa data tentang laut dan iklim dapat diakses oleh semua, hal ini menjadi langkah pertama menuju eksplorasi dan pemahaman yang luar biasa.

Data ini memberikan wawasan yang sangat berharga tentang dinamika cuaca dan kondisi lautan, yang memungkinkan untuk memprediksi dan merespons bencana alam, seperti tsunami dan cuaca buruk, dengan lebih presisi.

"Semoga pertemuan Data Buoy Co-Operation Panel ini memberikan dampak positif bagi dunia. Kemudian hasil ini memberikan kontribusi pada inisiatif Early Warnings for All (EW4All) yang digagas oleh World Meteorological Organization (WMO) dan untuk mendukung Dekade Ilmu Kelautan PBB untuk Pembangunan Berkelanjutan," pungkas Dwikorita.

Gempabumi Terkini

  • 22 Februari 2024, 10:06:34 WIB
  • 3.2
  • 24 km
  • 8.05 LS - 107.74 BT
  • Pusat gempa berada di laut 87 km BaratDaya Kab. Tasikmalaya
  • Dirasakan (Skala MMI): II Kab. Tasikmalaya
  • Selengkapnya →
  • Pusat gempa berada di laut 87 km BaratDaya Kab. Tasikmalaya
  • Dirasakan (Skala MMI): II Kab. Tasikmalaya
  • Selengkapnya →

Siaran Pers