10 Tahun Perjalanan TCWC Jakarta

  • Dwi Rini
  • 28 Mar 2018
10 Tahun Perjalanan TCWC Jakarta

Jakarta, (29/3). 10 tahun yang lalu, TCWC Jakarta (Tropical Cyclone Warning Centre) tepatnya pada 28 Maret 2008 dibentuk. TCWC ini dibangun untuk memonitor, menganalisis, serta memprakirakan intensitas dan pergerakkan siklon tropis yang tumbuh di wilayah tanggung jawab TCWC Jakarta.

Informasi peringatan dini siklon tropis dan dampaknya sangat penting untuk mengurangi risiko dampak yang ditimbulkan dari siklon tropis, seperti yang diutarakan Kepala BMKG, Dr. Dwikorita Karnawati saat memberikan keterangan pers di Kantor BMKG terkait 10 tahun perjalanan TCWC.

"Selama 10 tahun terakhir ini, kita sudah menamakan 5 siklon tropis yang tumbuh di wilayah tanggung jawab TCWC Jakarta, yaitu Durga, Anggrek, Bakung, dan yang terakhir 2017, Cempaka dan Dahlia. Selain kelima siklon tropis tersebut, selama 13 siklon tropis yang melintasi wilayah geografis Indonesia, baik daratan, maupun lautannya," tambah Dwikorita.

Peringatan 10 tahun Tropical Cyclone Warning Centre Jakarta ini sebagai suatu rangkaian peringatan Hari Meteorologi Dunia (HMD) ke-68 yang bertemakan "Waspada Cuaca, Peduli Iklim Untuk Masyarakat Aman dan Sejahtera".

Ditengah-tengah memberikan penjelasan, Dwikorita pun melaunching buku terkait Siklon Tropis yang terjadi di wilayah tanggung jawab monitoring dan analisis TCWC Indonesia. Diharapkan melaui buku ini, masyarakat dapat mewaspadai cuaca dan melahirkan budaya waspada cuaca, peduli iklim untuk masyarakat aman dan sejahtera.

"Sejak 25 maret lalu pada pukul 19.00 WIB terdapat siklon tropis Jelawat yang aktif di wilayah monitoring TCWC Jakarta", imbuh Dwikorita. Siklon tropis yang berada di Samudera Pasifik Sebelah utara Papua Barat,sekitar 1410 km sebelah utara Manokwari ini membawa dampak hujan dengan intensitas ringan-sedang yang berpeluang terjadi di Wilayah Kalimantan bagian Utara, Maluku Utara, dan Papua Barat Bagian Utara.

Dwikorita pun menambahkan selain hujan dengan intensitas sedang-lebat, siklon ini menyebabkan gelombang 1.25-2.5 m yang berpeluang terjadi Laut Maluku, Perairan utara Gorontalo, Laut Sulawesi bagian Tengah dan Timur, Perairan Kep.Sangihe, Perairan Bitung - Manado, Perairan utara dan timur Kep. Halmahera, Laut Halmahera, Perairan utara Papua Barat dan Perairan utara Jayapura - Sarmi. Masyarakat pun diminta waspada gelombang 2.5-4.0m yang berpeluang terjadi di Samudera Pasifik Utara Halmahera hingga Papua.

Gangguan siklon tropis ini lahir dari pusat tekanan rendah yang tumbuh di kondisi ocean dan atmosfer yang mendukung sehingga mencapai intensitas siklon tropis di wilayah Perairan Utara Papua. Siklon ini bergerak ke utara dengan kecepatan 6 knots (11 km/jam) menjauhi wilayah Indonesia dengan tekanan rendah 994 mb dengan kecepatan angin maksimum mencapai hingga 40 knot (75 km/jam).

Lompatan Inovasi Teknologi

Dwikorita menambahkan dengan melihat adanya perkembangan kestabilan atmosfer dan cuaca di Indonesia yang semakin dinamis dan kondisi ini dibuktikan pada tahun 2017, selama kurang lebih satu minggu lahir siklon tropis yang berdekatan, yaitu Cempaka dan Dahlia yang tumbuh dan berkembang di wilayah tanggung jawab Indonesia, selama 71 tahun BMKG baru kali ini terjadi siklon tropis dua kali dalam seminggu.

"Melihat adanya kondisi ini, perlu adanya lompatan inovasi teknologi observasi dan analisis pantauan cuaca, iklim, dan gempa bumi, dan tsunami yang dimulai pada awal tahun ini, salah satunya dengan Implementasi Big Data dan Artificial Intelegence untuk peningkatan kecepatan dan ketepatan layanan informasi BMKG," sambung Dwikorita.

Sementara itu, pada 23 Maret lalu, BMKG telah melaunching national digital atau prakiraan cuaca digital berbasis kecamatan ini diharapkan dapat lebih detail dan akurat dengan waktu prakiraan yang sebelumnya 3 hari menjadi 7 hari ke depan dengan jangka waktu prakiraan yang semula setiap 6 jam saat ini menjadi lebih spesifik yaitu 3 jam yang telah dapat diakses informasi cuacanya hingga wilayah kecamatan yaitu Provinsi DKI Jakarta, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, dan Bali. Tetapi sebelum lebaran, diharapkan dapat mencakup di 34 Provinsi di seluruh wilayah Indonesia juga akan dapat diakses hingga ke tingkat kecamatan.

Dwikorita pun menjelaskan bahwa BMKG pun akan menerapkan impact base forecasting, sehinga kita dapat mengetahui dampak dari prakiraan cuaca yang kita berikan. "Diharapkan akhir tahun ini, sudah dapat melakukan impact base forecasting, tidak hanya cukup dari prakiraan cuaca", harap Dwikorita.

Gempabumi Terkini

  • 21 Mei 2024, 02:42:13 WIB
  • 5.3
  • 10 km
  • 9.28 LS - 112.61 BT
  • Pusat gempa berada di laut 127 km tenggara Kabupaten Malang
  • Dirasakan (Skala MMI): III Karangkates, II Malang, II Jember, II Kepanjen, II Kuta
  • Selengkapnya →
  • Pusat gempa berada di laut 127 km tenggara Kabupaten Malang
  • Dirasakan (Skala MMI): III Karangkates, II Malang, II Jember, II Kepanjen, II Kuta
  • Selengkapnya →

Siaran Pers

Punya Banyak Manfaat, BMKG Berbagi Praktik Baik Teknologi Modifikasi Cuaca dengan TunisiaBali (20 Mei 2024) - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menyebut bahwa Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) memberikan dampak positif di tengah laju perubahan iklim. Hal tersebut disampaikan Dwikorita pada saat pertemuan Bilateral dengan Menteri Agrikultur, Sumber Daya Hidraulik, dan Perikanan Tunisia Abdelmonaam Belaati. "Seiring intensitas cuaca ekstrem yang tinggi memang negara kita (Indonesia-red) banyak menderita akibat bencana yang diakibatkannya dan itulah mengapa TMC menjadi salah satu pendekatan mitigasi yang bisa dilakukan pada saat kita terancam," kata Dwikorita di Posko TMC Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali, Minggu (19/5). Dwikorita menjelaskan bahwa TMC dapat dilakukan untuk memitigasi bencana seperti cuaca ekstrem yang disebabkan oleh perubahan iklim. Misalnya, Indonesia pernah mengalami cuaca esktrem yang disebabkan oleh fenomena El Nino pada 2015, 2016, dan 2019 di mana banyak wilayah yang mengalami kekeringan dan kebakaran hutan. Akibat kejadian tersebut, kata dia, banyak kerugian yang disebabkan dan membuat masyarakat menderita. Oleh karenanya, berdasarkan hasil analisis BMKG pada saat El Ni�o tahun 2023, BMKG telah belajar banyak dan memanfaatkan TMC sebagai bentuk mitigasi terhadap dampak bencana yang dihasilkan. Diterangkan Dwikorita, pada saat El Nino, sering kali terjadi penurunan air tanah sehingga menciptakan lahan yang sangat kering dan sangat sensitif terhadap kebakaran hutan. Secara alami, jika dahan pohon saling bergesekan, maka kebakaran pun bisa terjadi. "Nah, TMC bisa digunakan untuk mengantisipasi kebakaran tersebut dengan menyemai awan-awan di wilayah yang rentan mengalami kebakaran hutan dan lahan. Data yang dimiliki BMKG, Terdapat sekitar 90 atau 80% pengurangan kebakaran hutan," ujarnya. Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt.) Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto menyampaikan bahwa BMKG telah melakukan cloud sheeding selama lima hari untuk menangani bencana hidrometeorologi banjir bandang dan banjir lahar hujan di Sumatra Barat. Sebanyak 15 ton garam disemai di wilayah Sumatra Barat untuk menahan intensitas hujan yang cukup tinggi dan berpotensi membawa material vulkanik sisa letusan Gunung Marapi. TMC dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi intensitas hujan di lereng Gunung Marapi dan memudahkan pencarian korban hilang. Seto menegaskan bahwa TMC sangat penting untuk menyelamatkan hidup manusia, menjamin kemakmuran, dan kesejahteraan manusia karena membantu produksi pertanian di daerah kering. Oleh karenanya usaha ini harus terus dilakukan secara kolektif. Sementara itu, Menteri Agrikultur, Sumber Daya Hidraulik, dan Perikanan Tunisia Abdelmonaam Belaati mengampresiasi kemampuan BMKG dalam melakukan TMC. Menurutnya, TMC merupakan pekerjaan yang sangat baik demi menjaga keberlangsungan hidup manusia. Abdelmonaam bercerita, Tunisia mencatat kekeringan selama 5-7 tahun yang menyebabkan pasokan air berkurang. Dan oleh karenanya, dengan kunjungan ke Indonesia, Tunisia ingin mencari solusi bagaimana TMC bisa dilakukan dengan efektif. Saat ini untuk menanggulangi persoalan tersebut Tunisia sedang melakukan desalinasi air laut atau proses menghilangkan kadar garam dari air sehingga dapat dikonsumsi oleh makhluk hidup. Juga sedang mencoba memikirkan bagaimana bisa menggunakan air bekas dan air olahan. "Dan solusi lainnya adalah bagaimana bisa melakukan modifikasi cuaca. Bagaimana kita bisa mendatangkan hujan ke suatu negara. Itu sangat penting dan itulah sebabnya kami ada di sini hari ini dan berharap dapat terus bekerja sama," pungkasnya. (*) Biro Hukum dan Organisasi Bagian Hubungan Masyarakat Instagram : @infoBMKG Twitter : @infoBMKG @InfoHumasBMKG Facebook : InfoBMKG Youtube : infoBMKG Tiktok : infoBMKG

  • 20 Mei 2024