Pameran Virtual

#DeskripsiGambar
1Sampai tahun 1873 observatorium menempati bangunan yang disewa. Kemudian pada tahun 1874 tanah dan bangunan tersebut dapat dibeli Pemerintah Belanda. Setelah rancangan bangunan dan rencana anggaran diajukan dan mendapat persetujuan pemerintah maka pada tahun 1875 pembangunan dimulai. Untuk menandai lokasi obsevatorium dibuat pilar batu yang memuat tulisan menunjukkan posisi : 06o 11’ Lintang Selatan; 7h 7m 19’ atau 106o 49’ 45” Bujur Timur; elevasi 7 m di atas muka laut (asl = above sea level). Sejak itu obsevatorium menempati bangunan tetap.Bangunan Observatorium Tahun 1875 
2 Dilakukan pengamatan magnet bumi setelah bangunan pemasangan alat magnet selesai dan pada bulan April 1883 magnetograf Adie dapat dipasang dan beroperasi dengan baikPengamatan Magnet Bumi Tahun 1882
3 Telah dilakukan pengamatan cuaca untuk pertanian/perkebunan di Salatiga, Tosari, Sukabumi, Cianjur, Padalarang, Cimahi, Garut, Tomohon dan di kaki gunung bersalju di New Guinea (Papua)Stasiun Pengamatan Cuaca Pertanian/Perkebunan Tahun 1905
4Tempat pemasangan alat pengamatan di TjipetirKelompok Stasiun Pengamatan Tahun 1911
5Tempat pemasangan alat pengamatan di Discovery Oostbank Kelompok Stasiun Pengamatan Tahun 1911
6Tempat pemasangan alat pengamatan di AsembagoesKelompok Stasiun Pengamatan Tahun 1911
7Tempat pemasangan alat pengamatan di TosariKelompok Stasiun Pengamatan Tahun 1911
8

Tempat pemasangan alat pengamatan di Pangerango

Kelompok Stasiun Pengamatan Tahun 1911
9

Dimulai pengamatan udara atas di Batavia (Jakarta) dengan balon teodolit

Pengamatan Udara Atas Tahun 1911
10

Dimulai pengamatan udara atas dengan radiosonde di Jakarta dan Surabaya (Perak)

Radiosonde Tahun 1948
11

Tepatnya tanggal 1 Mei 1963 terjadi peristiwa penyerahan Irian Barat dari UNTEA (United Nations Temporary Executive Authority) kepada Pemerintah Indonesia. Mulai saat itu Irian Barat resmi menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, termasuk Instansi meteorologi. Setelah penyerahan, Instansi Meteorologi di Irian Barat bernama Urusan Meteorologi dan Geofisik Kotabaru Irian Barat yang ada di dalam Dinas Perhubungan dan Pengangkutan. Pada waktu itu di Irian Barat terdapat 11 Stasiun Meteorologi Sinoptik, yakni Mokmer (Biak), Manokwari, Jefman (sorong) ada dua stasiun di pulau dan di daratan besar, Kokonao, Fak-Fak, Nabire, Sentani, Wamena, Mopah (Merauke), Tanahmerah, Mapia. Mapia adalah satu-satunya stasiun meteorologi yang letaknya di pulau kecil (pulau Mapia) dekat khatulistiwa sebelah utara Biak.

Meteorologi Irian Barat Tahun 1963
12

Selama era pembangunan Pelita I sampai Pelita II pembangunan umumnya masih bersifat rehabilitasi. Penambahan yang kelihatan adalah pada pengamatan gempa dengan dibangunnya stasiun gempa baru dengan menggunakan alat seismpgraf periode pendek Kinematirks, meskipun cara pengumpulan datanya masih lambat sehingga apabila terjadi gempa di suatu tempat penentuan pusat gempanya masih memerlukan waktu karena menunggu data dari beberapa stasiun yang diperlukan. Pada akhir tahun 1980 jumlah stasiun gempa yang beroperasi sebanyak 28 lokasi.

Seismograf Kinematriks Tahun 1975
13

Pada tahun 1990 komputer DPS-7000 buatan Bull Perancis. dipasang di Pusat Pengolahan Data Kantor Pusat Jakarta . Komputer tersebut dilengkapi dengan dua buah data net serta sebuah jejaring lokal ethernet yang memungkinkan untuk berkomunikasi antar mainframe DPS-7000 dengan mini komputer SPS-7 yang ada di Kantor Pusat. Dengan komputer tersebut dapat dihasilkan beberapa produk, antara lain :
- olahan data grid ,
- peta rajahan data sinop.
- peta mawar angin (windrose),
- peta hujan,
- peta lokasi pusat gempa

Pengolahan Data Tahun 1990

Gempabumi Terkini

  • 21 Mei 2024, 15:31:58 WIB
  • 5.3
  • 10 km
  • 2.10 LS - 138.20 BT
  • 29 km TimurLaut KASONAWEJA-PAPUA
  • tidak berpotensi TSUNAMI
  • Selengkapnya →

Siaran Pers