STMKG Memulai Madabintal, Persiapkan Generasi Muda untuk Kemajuan BMKG

  • Kholis Nur Cahyo
  • 04 Sep 2023
STMKG Memulai Madabintal, Persiapkan Generasi Muda untuk Kemajuan BMKG

Jakarta (4 September 2023) - Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi, dan Geofisika (STMKG) memulai Masa Dasar Pembinaan Fisik dan Mental dan Moral (Madabintal) bagi calon taruna baru dalam Tahun Akademik 2023/2024. Pembukaan Madabintal ini berlangsung di GOR Kampus STMKG, dengan dihadiri langsung oleh Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati, serta Plt. Ketua STMKG, Suko Prayitno Adi.

Kegiatan Madabintal akan berlangsung selama enam hari, dimulai dari tanggal 4 hingga 9 September 2023 ini, merupakan momen penting bagi calon taruna yang telah melewati seleksi tahap akhir, yakni mereka akan diperkenalkan lebih dekat dengan lingkungan kampus STMKG dan sistem pendidikan yang akan mereka jalani.

Calon taruna akan menjalani serangkaian kegiatan yang dirancang secara khusus agar siap menjalani perkuliahan akademik maupun ketarunaan. Kedepan, mereka akan belajar tentang prinsip-prinsip dasar ilmu pengetahuan tersebut serta memahami pentingnya peran mereka dalam mendukung keberhasilan BMKG dalam menjaga keselamatan dan kesejahteraan masyarakat.

Dalam sambutan disertai diskusi interaktif dengan calon taruna, Dwikorita memberikan pandangan yang mendalam tentang tantangan yang dihadapi oleh BMKG. Fenomena El Nino yang saat ini sedang melanda tanah air, perlu tindak lanjut dan pengambilan keputusan dari pimpinan. BMKG senantiasa memberikan informasi perkembangan El Nino yang diprediksi sejak bulan Desember tahun lalu. Ini adalah contoh konkret bagaimana ilmu meteorologi, klimatologi, dan geofisika memiliki dampak langsung pada kehidupan sehari-hari penduduk Indonesia.

Dwikorita menambahkan bahwa calon taruna baru harus menjalani seluruh rangkaian kegiatan Madabintal dengan semangat dan dedikasi tinggi. Ia mengingatkan mereka bahwa perjalanan ini akan menantang, tetapi juga akan memberikan banyak peluang untuk tumbuh dan berkembang sebagai pemimpin masa depan di bidang Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika.

Acara pembukaan Madabintal di STMKG ini tidak hanya menjadi awal yang baik bagi calon taruna baru, tetapi juga menjadi bukti nyata dari komitmen BMKG dan STMKG dalam mencetak generasi muda yang berkualitas dan siap untuk menghadapi tantangan dalam bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika.

Gempabumi Terkini

  • 21 Mei 2024, 02:42:13 WIB
  • 5.3
  • 10 km
  • 9.28 LS - 112.61 BT
  • Pusat gempa berada di laut 127 km tenggara Kabupaten Malang
  • Dirasakan (Skala MMI): III Karangkates, II Malang, II Jember, II Kepanjen, II Kuta
  • Selengkapnya →
  • Pusat gempa berada di laut 127 km tenggara Kabupaten Malang
  • Dirasakan (Skala MMI): III Karangkates, II Malang, II Jember, II Kepanjen, II Kuta
  • Selengkapnya →

Siaran Pers

Punya Banyak Manfaat, BMKG Berbagi Praktik Baik Teknologi Modifikasi Cuaca dengan TunisiaBali (20 Mei 2024) - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menyebut bahwa Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) memberikan dampak positif di tengah laju perubahan iklim. Hal tersebut disampaikan Dwikorita pada saat pertemuan Bilateral dengan Menteri Agrikultur, Sumber Daya Hidraulik, dan Perikanan Tunisia Abdelmonaam Belaati. "Seiring intensitas cuaca ekstrem yang tinggi memang negara kita (Indonesia-red) banyak menderita akibat bencana yang diakibatkannya dan itulah mengapa TMC menjadi salah satu pendekatan mitigasi yang bisa dilakukan pada saat kita terancam," kata Dwikorita di Posko TMC Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali, Minggu (19/5). Dwikorita menjelaskan bahwa TMC dapat dilakukan untuk memitigasi bencana seperti cuaca ekstrem yang disebabkan oleh perubahan iklim. Misalnya, Indonesia pernah mengalami cuaca esktrem yang disebabkan oleh fenomena El Nino pada 2015, 2016, dan 2019 di mana banyak wilayah yang mengalami kekeringan dan kebakaran hutan. Akibat kejadian tersebut, kata dia, banyak kerugian yang disebabkan dan membuat masyarakat menderita. Oleh karenanya, berdasarkan hasil analisis BMKG pada saat El Ni�o tahun 2023, BMKG telah belajar banyak dan memanfaatkan TMC sebagai bentuk mitigasi terhadap dampak bencana yang dihasilkan. Diterangkan Dwikorita, pada saat El Nino, sering kali terjadi penurunan air tanah sehingga menciptakan lahan yang sangat kering dan sangat sensitif terhadap kebakaran hutan. Secara alami, jika dahan pohon saling bergesekan, maka kebakaran pun bisa terjadi. "Nah, TMC bisa digunakan untuk mengantisipasi kebakaran tersebut dengan menyemai awan-awan di wilayah yang rentan mengalami kebakaran hutan dan lahan. Data yang dimiliki BMKG, Terdapat sekitar 90 atau 80% pengurangan kebakaran hutan," ujarnya. Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt.) Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto menyampaikan bahwa BMKG telah melakukan cloud sheeding selama lima hari untuk menangani bencana hidrometeorologi banjir bandang dan banjir lahar hujan di Sumatra Barat. Sebanyak 15 ton garam disemai di wilayah Sumatra Barat untuk menahan intensitas hujan yang cukup tinggi dan berpotensi membawa material vulkanik sisa letusan Gunung Marapi. TMC dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi intensitas hujan di lereng Gunung Marapi dan memudahkan pencarian korban hilang. Seto menegaskan bahwa TMC sangat penting untuk menyelamatkan hidup manusia, menjamin kemakmuran, dan kesejahteraan manusia karena membantu produksi pertanian di daerah kering. Oleh karenanya usaha ini harus terus dilakukan secara kolektif. Sementara itu, Menteri Agrikultur, Sumber Daya Hidraulik, dan Perikanan Tunisia Abdelmonaam Belaati mengampresiasi kemampuan BMKG dalam melakukan TMC. Menurutnya, TMC merupakan pekerjaan yang sangat baik demi menjaga keberlangsungan hidup manusia. Abdelmonaam bercerita, Tunisia mencatat kekeringan selama 5-7 tahun yang menyebabkan pasokan air berkurang. Dan oleh karenanya, dengan kunjungan ke Indonesia, Tunisia ingin mencari solusi bagaimana TMC bisa dilakukan dengan efektif. Saat ini untuk menanggulangi persoalan tersebut Tunisia sedang melakukan desalinasi air laut atau proses menghilangkan kadar garam dari air sehingga dapat dikonsumsi oleh makhluk hidup. Juga sedang mencoba memikirkan bagaimana bisa menggunakan air bekas dan air olahan. "Dan solusi lainnya adalah bagaimana bisa melakukan modifikasi cuaca. Bagaimana kita bisa mendatangkan hujan ke suatu negara. Itu sangat penting dan itulah sebabnya kami ada di sini hari ini dan berharap dapat terus bekerja sama," pungkasnya. (*) Biro Hukum dan Organisasi Bagian Hubungan Masyarakat Instagram : @infoBMKG Twitter : @infoBMKG @InfoHumasBMKG Facebook : InfoBMKG Youtube : infoBMKG Tiktok : infoBMKG

  • 20 Mei 2024