Perkuat Sistem Peringatan Dini, Super Komputer BMKG Bakal "Disuntik" Teknologi HPC Terkini

  • Hatif Thirafi
  • 10 Jul 2021
Perkuat Sistem Peringatan Dini, Super Komputer BMKG Bakal "Disuntik" Teknologi HPC Terkini

SIARAN PERS

JAKARTA (10 Juli 2021) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) akan meningkatkan super komputer yang ada dengan teknologi High Performance Computing (HPC) terkini, guna memperkuat sistem peringatan dini.

Implementasi Teknologi HPC terkini dapat meningkatkan kemampuan sistem Peringatan Dini Multi Bencana yang melibatkan Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS), Meteorology Early Warning System (MEWS), dan Climate Early Warning System (CEWS).

"Dalam waktu dekat kami berencana mengimplementasikan HPC dengan skala lebih dari 2 PetaFlops. Ini menjadikan sistem peringatan dini BMKG jauh lebih cepat , tepat, dan akurat," ungkap Kepala BMKG Dwikorita Karnawati saat menjadi pembicara kunci dalam diskusi panel "The Future of High-Performance Computing" yang digelar oleh European Union - ASEAN HPC VIRTUAL SCHOOL 2021 yg disiarkan global secara daring, Jumat (9/7/2021).

Diskusi yang diikuti peserta lintas negara tersebut menghadirkan sejumlah pembicara dari berbagai disiplin keilmuan diantaranya Prof. Jose Ignacio Latorre (Direktur Center for Quantum Technologies, Singapura), Dr. Kimmo Koski (direktur CSC, Finlandia) dan Prof. Mateo Valero (Direktur Barcelona Supercomputing Center, Spanyol).

Selain itu, diikuti juga Prof Pascal Bouvry (CEO LuxProvide, CEO Luxembourg HPC Center), Prof Satoshi Matsouka (Direktur RIKEN Center for Computational Science/R-CCS, Jepang) dan Tay Kheng Tiong (ketua ASEAN HPC Taskforce/ CEO A*STAR, Computational Resource Center, Singapura).

Dwikorita memaparkan, keberadaan HPC dalam sistem peringatan dini kebencanaan sangat penting untuk menganalisis berbagai kompleksitas dan ketidakpastian dalam fenomena cuaca, iklim, tektonik dan kegunungapian. Pasalnya, letak geografis Indonesia yang dikontrol oleh lempeng-lempeng tektonik aktif dan dikelilingi oleh cincin api, mengakibatkan hampir semua wilayah berpotensi terjadinya bencana alam. Belum lagi potensi bencana hidrometrologis yang dipicu oleh perubahan iklim global yang juga tidak boleh dikesampingkan.

"Selama periode Juni 2021 saja, telah terjadi 889 gempabumi di Indonesia terdiri dari 850 gempa magnitudo berkekuatan kurang dari 5, 39 kali gempabumi dengan magnitudo di atas 5, dan gempabumi yang dirasakan terjadi 70 kali, sedangkan gempa merusak terjadi dua kali," terangnya.

"Belum lagi ancaman tsunami, dimana dalam kurun waktu tahun 1800 - 2018 Indonesia telah diterjang sebanyak 99 kali tsunami. Ada juga ancaman kebakaran hutan, banjir bandang, siklon tropis, kekeringan yang panjang dan lain sebagainya," tambah dia.

Maka dari itu, lanjut Dwikorita, wajib hukumnya Indonesia terus mengupgrade sistem peringatan dini agar manajemen kebencanaan yang terdiri dari upaya pencegahan, mitigasi, tanggap darurat, dan recovery dapat berjalan dengan baik untuk mewujudkan Zero Victims

Dalam kesempatan tersebut, Dwikorita juga mengajak seluruh negara untuk berkolaborasi dalam hal riset dan inovasi teknologi untuk mitigasi kebencanaan di bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika. Nantinya hasil riset tersebut dapat menjadi bahan perumus kebijakan pencegahan dan penanggulangan bencana di masing-masing negara, serta untuk mengakselerasi inovasi Teknologi di Bidang Kebencanaan.

Di bidang meteorologi, Dwikorita berharap adanya riset mengenai prakiraan cuaca dengan tingkat akurasi mencapai lebih dari 95% persen dengan resolusi tinggi untuk tingkat desa, serta prediksi terjadinya bencana sedini mungkin hingga beberapa hari atau beberapa minggu sebelum peristiwa terjadi.

Sedangkan di bidang klimatologi, diharapkan ada riset bersama tentang prediksi iklim/prediksi musim untuk wilayah Asia Tenggara dengan akurasi prediksi iklim mencapai 90 persen lebih. Serta proyeksi iklim untuk beberapa puluh tahun ke depan hingga akhir abad ini, juga modeling kualitas udara dan gas rumah kaca dengan resolusi dan akurasi tinggi. Adapun di bidang geofisika, Dwikorita menginginkan adanya riset bersama untuk membuat pemodelan tsunami non tektonik atau tsunami atipikal dan sistem peringatan dininya.(*)

Biro Hukum dan Organisasi
Bagian Hubungan Masyarakat

Instagram : @infoBMKG
Twitter : @infoBMKG @InfoHumasBMKG
Facebook : InfoBMKG
Youtube : infoBMKG

Gempabumi Terkini

  • 26 November 2021, 05:05:52 WIB
  • 2.6
  • 8 km
  • 5.36 LS - 104.51 BT
  • Pusat gempa berada di darat 23 km BaratLaut Tanggamus
  • Dirasakan (Skala MMI): I-II Tanggamus, III Ulu Belu, II Semangka
  • Selengkapnya →
  • Pusat gempa berada di darat 23 km BaratLaut Tanggamus
  • Dirasakan (Skala MMI): I-II Tanggamus, III Ulu Belu, II Semangka
  • Selengkapnya →

Siaran Pers