Peringatan 15 tahun Tsunami Aceh : Perkuat Sistem Early Warning tsunami Untuk Infrastruktur

  • Rozar Putratama
  • 20 Nov 2019
Peringatan 15 tahun Tsunami Aceh : Perkuat Sistem Early Warning tsunami Untuk Infrastruktur

Jakarta - Rabu (20/11) Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) membangun infrastruktur peringatan dini gempa bumi dan tsunami di pesisir Daerah Istimewa Yogyakarta (Pantai Parangtritis) dan Purworejo, JawaTengah (Pantai Keburuhan). Infrastruktur berupa radar tsunami ini, dinilai cukup penting mengingat kedua wilayah tersebut merupakan kawasan rawan gempa bumi dan tsunami. Hal ini diungkapkan Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati dalam sambutan untuk memperingati Hari Kesiapsiagaan Tsunami Dunia (5 November) dan 15 tahun Tsunami.

Dwikorita menjelaskan perlu adanya pemahaman karakteristik ancaman tsunami di lokasi tersebut, sebagai langkah pembangunan strategi pengurangan risiko bencana tsunami. Pemahaman itu, lanjut Dwikorita, meliputi kejadian sejarah tsunami masa lalu (paleotsunami) karakteristik gempabumi, dan potensi ancaman tsunami yang dibangkitkan.

Lebih lanjut, Dwikorita menjelaskan bahwa BMKG bersama tim mitigasi tsunami yang terdiri dari gabungan beberapa instansi seperti UGM, ITB, dan Pusat Studi Gempa Nasional telah melakukan rekonstruksi lokasi sumber gempa dan propagasi (perlambatan) gelombang tsunami, sehingga dapat memperkirakan rendaman tsunami yang akan menentukan desain ketinggian bangunan serta jangkauan landasan di rencana lokasi bandara pada tahun 2017. Tsunami Aceh (26 Desember).

Dalam rangka menindaklanjuti agenda pemerintah atau arahan Presiden, Dwikorita menyebutkan bahwa ada 5 arahan. "Lima arahan Presiden, poin kedua adalah melanjutkan pembangunan infrastruktur dan kelima adalah trasnformasi ekonomi, dalam hal ini bandara atau infrastruktur yang berada di sepanjang pantai yang rawan tsunami harus dijaga dan diperkuat agar tangguh dalam mengantipasi potensi tsunami."

"Berdasarkan hasil kajian empiris yang dilakukan BMKG, potensi bencana gempa bumi dan tsunami di subduksi selatan Jawa cukup tinggi, dengan magnitude bisa lebih dari 8,5," imbuh Dwikorita. Dengan potensi itu, BMKG melakukan simulasi model tsunami N2. Dari hasil model simulasi tsunami ini, gempa bumi magnitude dengan kekuatan 8,5 dapat mengakibatkan tsunami dengan ketinggian lebih dari 5 meter di sepanjang pantai Bandara Kulon Progo.

"Dari permodelan inundasi (rendaman), menunjukkan sebagian besar wilayah bandara terendam oleh tsunami dengan kedalaman (yang diukur dari permukaan tanah atau topografi setempat) yang bervariasi dari sekitar 5 sampai 10 meter," ungkap Dwikorita. BMKG pun, lanjut Dwikorita melakukan kajian mikrozonasi sebagai langkah mitigasi untuk menghadapi kemungkinan terjadi bencana.

Ia menekankan kesiapan terhadap bencana alam yang harus terus dibudayakan melalui sosialisasi dan edukasi publik secara menerus, yang disertai dengan praktik-praktik gladi siaga dan evakuasi gempabumi, juga merupakan kunci pengurangan risiko bencana gempa selain kewajiban untuk memperketat penerapan "Building Code" bangunan tahan gempa di lokasi rentan. Seluruh upaya mitigasi tersebut tentunya perlu dilakukan bersama oleh berbagai pihak mulai dari Pemerintah Pusat hingga Pemerintah Daerah, bahkan hingga tingkat desa, dengan melibatkan pihak swasta ataupun filantropi, akademisi/pendidik, peneliti, masyarakat, dan media.

Senada dengan Dwikorita, Menteri Perhubungan Republik Indonesia, Budi Karya Sumadi menjelaskan, perlu dipastikan adanya pengelolaan risiko bencana pesisir, terutama tsunami dalam membangun lebih banyak pelabuhan dan pelabuhan laut, meningkatkan mitigasi bencana. Lanjut Dwikorita, khususnya gempa bumi dan tsunami akan menjadi bagian penting dari strategi pengembangan kota pesisir Indonesia.

"Kami sangat bangga dengan kinerja luar biasa dari Ina-TEWS yang dibangun tahun 2008, hampir semua peringatan tsunami dikeluarkan lebih cepat dari waktu yang ditargetkan yaitu lima menit setelah gempa," ujar Budi.

Namun demikian, tambah Budi Karya, kami perlu didasari pembangunan telah difokuskan pada pembangunan penguatan, dan peningkatan kapasitas di hulu (pemantauan, deteksi, dan diseminasi) dan hilir (respons dan tindakan masyarakat)".

Melalui Hari Kesadaran Tsunami Sedunia 2019 yang berfokus pada infrastruktur kritis, tambah Budi Karya, Indonesia memiliki banyak infrastruktur kritis, BMKG dan Kementerian Perhubungan telah memiliki kerjasama dan koordinasi yang kuat. Oleh karena itu, lanjut Budi Karya, lokakarya harus membuka dimensi baru koordinasi, dan kerjasama tentang bahaya pesisir dan pencegahan bencana terutama yang disebabkan oleh tsunami. "Saya berharap akan ada tindak lanjut lain dalam memperkuat rantai peringatan tsunami ke infrastruktur kritis di bawah Kementerian Perhubungan,"imbuh Budi Karya.

Kepala BNPB, Doni Monardo menyebutkan bahwa saat bencana semua system pendeteksi tidak berfungsi. Maka dibutuhkan ketangguhan masyarakat. "Masyarakat sudah harus terbiasa ketika mereka mengikuti latihan simulasi, maka mereka sudah bisa mengambil keputusan, tidak perlu menunggu alarm peringatan, atau bisa disebut evakuasi mandiri, " ujarnya.

Lanjut Doni, bahwa Desember mendatang BNPB akan membuka program baru yang disebut KATANA (Keluarga Tangguh Bencana). Program ini merupakan lanjutan dari program Destana atau Desa Tangguh Bencana. "Program ini kami rancang untuk jangka waktu lima tahun, dan diharapkan seluruh masyarakat Indonesia pernah mengikuti edukasi dan simulasi khususnya daerah yang rawan akan bencana," tambahnya.

Kegiatan ini BMKG bekerjasama dengan Intergovernmental Oceanographic Commission of the United Nations for Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO-IOC) menyelenggarakan Workshop on Strengthening Tsunami Warning Chain to Critical Infrastructure" pada tanggal 20-22 November 2019. Workshop ini bertujuan untuk memperkuat penyelenggaraan pelabuhan dan bandara di pesisir dalam menerima dan menindaklanjuti peringatan dini tsunami pada saat terjadi potensi tsunami.

Sejumlah 24 (dua puluh empat) peserta internasional dari 15 negara, dan 48 peserta nasional akan turut serta untuk berdiskusi dan berbagi pengalaman dalam workshop international ini. Selain itu 2 (dua) pakar internasional dari Jepang akan hadir memberikan paparan mengenai strategi meningkatkan ketangguhan (resiliency) infrastruktur penting saat diterpa bencana tsunami.

 

Gempabumi Terkini

  • 19 Sep 2020, 20:25 WIB
  • 2.9
  • 6 km
  • 6.71 LS - 107.35 BT
  • Pusat gempa berada di Darat 19 Km BaratDaya Kab. Purwakarta
  • Dirasakan (Skala MMI): II Plered
  • Selengkapnya →
  • Pusat gempa berada di Darat 19 Km BaratDaya Kab. Purwakarta
  • Dirasakan (Skala MMI): II Plered
  • Selengkapnya →

Siaran Pers