Pendekatan Multidisiplin BMKG, Strategi Efektif Hadapi Bencana Hidrometeorologi

  • Kholis Nur Cahyo
  • 28 Nov 2023
Pendekatan Multidisiplin BMKG, Strategi Efektif Hadapi Bencana Hidrometeorologi

Jakarta, 28 November 2023 - Kegiatan Association of Southeast Asian Studies (ASEAS) Annual Conference ke-32 yang digelar di Universitas Indonesia, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati, turut serta sebagai keynote speaker dalam sesi daring. Dwikorita memberikan paparan mengenai pendekatan multidisiplin dalam ilmu lingkungan dan kebumian.

Pada kesempatan tersebut, Dwikorita mengingatkan peserta konferensi tentang dampak serius siklon tropis Seroja yang melanda Indonesia, terutama Nusa Tenggara Timur, pada April 2021. Ia menyoroti keberhasilan disiplin ilmu meteorologi dalam memberikan peringatan dini, dengan prediksi cuaca yang melibatkan pemantauan perkembangan pergerakan siklon tropis, untuk mengatasi kendala dalam penyebaran informasi merata di seluruh wilayah.

"Peringatan ini disampaikan melalui jaringan komunikasi digital, media elektronik, dan lembaga kami di lapangan. Namun, masalah timbul terkait ketidakmerataan akses komunikasi di masyarakat," tutur Dwikorita.

Dwikorita menyoroti urgensi komunikasi risiko yang efektif. Ia menjelaskan bahwa selain memahami aspek ilmiah meteorologi, klimatologi, dan geofisika, penting pula untuk memahami jaringan, komunikasi risiko, dan keterampilan menerjemahkan informasi teknis menjadi bahasa yang dapat dimengerti oleh masyarakat umum.

Mengambil pelajaran dari siklon tropis Seroja, fenomena yang tidak biasa terjadi di wilayah tropis, BMKG telah berkolaborasi sejak 2016 dengan komunitas nelayan dan pemerintah daerah untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terkait kondisi cuaca dan iklim yang mungkin terjadi.

Dwikorita juga mengulas upaya teknis BMKG dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat tentang siklon tropis. Ia menjelaskan penggunaan jaringan pengamatan yang didukung oleh peralatan operasional seperti radar cuaca, satelit, dan peralatan cuaca lainnya. Data dari peralatan tersebut diolah dan disebarkan melalui berbagai saluran, termasuk digital, media sosial, radio, televisi, dan kepada pihak-pihak yang berkepentingan.

Walaupun BMKG memberikan peringatan dini dengan waktu yang memadai, Dwikorita menyampaikan tantangan dalam mendapatkan respons cepat dari masyarakat, disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk kurangnya pemahaman. Pendekatan multidisiplin dianggap sebagai langkah krusial untuk mengatasi kompleksitas fenomena alam dan melibatkan masyarakat dalam upaya mitigasi bencana.

Dwikorita mengajak peserta konferensi untuk aktif terlibat dalam menjawab tantangan perubahan iklim melalui pendekatan multidisiplin dan kerjasama erat antara pemerintah, lembaga riset, dan masyarakat. Dalam penutupnya, ia menekankan bahwa memberdayakan masyarakat dalam menghadapi bencana adalah kunci utama dalam meningkatkan keselamatan dan keberlanjutan.