Kepala BMKG Hadiri 2nd Asia International Water Week di Labuan Bajo, Bahas Ancaman Bencana Hidrometeorologi

  • Ibrahim
  • 16 Mar 2022
Kepala BMKG Hadiri 2nd Asia International Water Week di Labuan Bajo, Bahas Ancaman Bencana Hidrometeorologi

LABUAN BAJO (14 Maret 2022) - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi terjadinya peningkatan jumlah hari hujan hingga tahun 2030. Naiknya jumlah hari dengan hujan itu akan meningkatkan ancaman bencana hidrometeorologi di sejumlah daerah di Indonesia.

"Jumlah curah hujan saat periode musim hujan tidak berubah, tapi jumlah hari saat hujan deras meningkat sehingga berpotensi meningkatkan bencana hidrometrologi," kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam acara "2nd Asia International Water Week" yang dihelat pada 14-16 Maret 2022 di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur.

Mengutip data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bencana Indonesia pada 2021 tercatat sebanyak 5.402. Dua angka tertinggi yaitu bencana cuaca ekstrem sebanyak 1.577 kali dan banjir 1.794 kali.

Selain banjir, ancaman kebakaran hutan dan tanah longsor juga mengintai masyarakat. Untuk menghadapi kondisi ini, Dwikorita mengatakan bahwa BMKG menyiapkan sistem peringatan dini cuaca ekstrem di antaranya Meteorological Early Warning System yang mampu mendeteksi sistem prakiraan cuaca, Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) atau pusat peringatan dini terhadap badai tropis. Kemudian juga telah dikembangkan sistem peringatan dini perubahan iklim yang mampu mendeteksi atas peringatan dini El Nino/La Nina, Peringatan Dini Iklim Ekstrem dan Peringatan Dini Kekeringan, serta kebakaran hutan.

Dwikorita menyebut terdapat dua hal penting dalam pendekatan mengantisipasi terjadinya berbagai bencana alam, terutama hidrometeorologi, di antaranya dengan teknologi dan penyebarluasan atau diseminasi informasi.

"Pengembangan teknologi untuk memungkinkan pengamatan yang lebih intensif dan sistematis, prediksi yang lebih tepat waktu, andal, dan akurat, prediksi, dan peringatan dini," kata dia.

Pendekatan teknologi, kata dia, seperti menggunakan radar satelit dan titik pengamatan yang didukung pemrosesan sistem dengan kecerdasan buatan super komputer untuk peningkatan kemampuan peringatan dini.

Selain itu, lanjut Dwikorita, sistem peringatan dini harus didukung diseminasi atau penyebaran informasi kepada publik. Makanya diseminasi, melalui berbagai kanal media sosial, media elektronik, televisi, radio, koran, dan juga call center.

"Peringatan dini tanpa sosialisasi yang tepat tidak akan berarti apa-apa," katanya.

Dwikorita juga mengatakan, BMKG turut andil mengedukasi petani dan nelayan dalam penggunaan teknologi. BMKG terus mengupayakan Sekolah Lapang Iklim (SLI) sebagai bagian dari edukasi perubahan iklim.

BMKG juga bersinergi dengan kementerian dan lembaga lain untuk memperkuat sistem diteksi dini, di antaranya dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Atas sinergi tersebut, BMKG mengaplikasikan SIH3 atau Sistem Informasi Hidrometeorologi, hidrogeologi dan hidrologi.(*)

Gempabumi Terkini

  • 13 Agustus 2022, 07:18:33 WIB
  • 5.2
  • 10 km
  • 11.49 LS - 119.70 BT
  • 141 km BaratDaya KARERA-SUMBATIMUR-NTT
  • tidak berpotensi TSUNAMI
  • Selengkapnya →
  • 141 km BaratDaya KARERA-SUMBATIMUR-NTT
  • tidak berpotensi TSUNAMI
  • Selengkapnya →

Siaran Pers