Jumpa Pers Perkembangan Cuaca dan Musim Hujan 2017/2018

  • Rozar Putratama
  • 23 Nov 2017

Jakarta - Kamis (23/11), Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika mengundang para jurnalis dalam kegiatan press conference yang mengambil tema Perkembangan Cuaca dan Musim Hujan 2017/2018 di ruang studio mini Gedung C.

Jumpa pers dipimpin Deputi Bidang Klimatologi Drs. Herizal, M.Si dengan didampingi Kepala Pusat Meteorologi Publik Dra. Nurhayati, M.Sc, Kepala Pusat Meteorologi Maritim Nelly Florida Riama, M.Si, dan Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim Dr. Dodo Gunawan.

Dalam kegiatan Jumpa Pers tersebut Deputi Bidang Klimatologi memaparkan pada bulan September 2017, BMKG merilis bahwa MUSIM HUJAN 2017/2018 secara umum akan dimulai pada akhir Oktober - November 2017. Berdasarkan analisis perkembangan musim hujan pada November Dasarian II didapat bahwa sebagian besar wilayah Indonesia sudah mengalami Musim Hujan sebesar 61% atau sebanyak 209 ZOM sedangkan sebanyak 39% yaitu 133 ZOM masih mengalami musim kemarau, adapun wilayah yang belum memasuki musim hujan yaitu sebagian Lampung, Jawa Timur, Sebagian Bali Nusa Tenggara, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara.

Monitoring dinamika atmosfer sampai dengan November dasarian II tahun 2017 menunjukkan kondisi Netral menuju La Nina lemah (indeks ENSO = -0,95) dikatakan kondisi La Nina apabila indeks ENSO kurang dari -0.5. Sementara itu Indeks Indian Ocean Dipole (IOD) Mode pada nilai "Positif" (Indeks DMI = +0.05), hal ini menunjukan bahwa kondisi IOD masih pada Neutral. Sedangkan untuk kondisi anomali suhu muka laut, secara umum masih berada pada kondisi anomali positif sebesar 0.28oC (hangat), artinya dukungan untuk terjadinya penguapan dan peluang hujan di Indonesia cukup tinggi.

Berdasarkan analisis curah hujan pada dasaraian II November 2017 didapat bahwa kondisi curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia lebih basah dari normalnya dan juga lebih basah jika dibandingkan tahun 2016 di bulan dan dasarian yang sama. Pada beberapa wilayah Indonesia terdapat wilayah dengan curah hujan tinggi.

BMKG memprediksi kondisi ENSO akan berpotensi La Nina Lemah, prediksi ini juga sejalan juga dengan prediksi dari berberapa institusi dunia seperti JAMSTEC, BOM dan NOAA yang juga memprediksi bahwa akan terjadi La nina lemah hingga Maret 2018. Adapun peluang terjadinya La Nina lemah tersebut adalah sebesar 67%. Dipole Mode diprediksi Normal hingga akhir tahun, berdasarkan hal tersebut maka dampak Dipole Mode di Indonesia tidak terlalu signifikan, tidak akan terjadi penambahan atau pun pengurangan dari curah hujan terutama pada wilayah Indonesia bagian barat. Untuk anomali Suhu Muka Laut di Perairan Indonesia, pada bulan Desember umumnya Anomali SST perairan Indonesia dan sekitarnya diprediksi netral hingga anomali positif. Wilayah Nino 3.4 terjadi anomali suhu negatif. Samudera Hindia didominasi anomali positif hingga netral. Pada bulan Jan - Mei 2018 perairan Indonesia diprediksi akan berangsur-angsur netral, untuk wilyah Nino 3.4 akan beranomali negatif sedangkan Samudera Hindia masih didominasi dengan kondisi Netral.

Puncak musim hujan akan diprediksi terjadi pada bulan Desember 2017 hingga Februari 2018. Oleh karena itu, perlu diwaspadai dampak yang ditimbulkan terutama untuk daerah-daerah yang rentan terhadap bencana yang ditimbulkan seperti banjir, tanah longsor, genangan, angin kencang, pohon tumbang, khususnya wilayah Sumatera, Jawa dan Bali - Nusra mengingat peluang curah hujan ekstrim pada bulan-bulan tersebut akan semakin meningkat.

Saat ini terdapat beberapa indikasi penyebab hujan lebat di sekitar Indonesia, antara lain munculnya sebuah bibit Siklon Tropis di Samudera Hindia Selatan Jawa Timur serta adanya Sirkulasi siklonik di Perairan Barat Sumatera, Laut Banda dan di Laut Cina Selatan mengakibat secara tidak langsung membentuk pola belokan dan pertemuan angin di wilayah Indonesia. Selain itu indikasi aktifnya pola Inter Tropical Convergene Zone (ITCZ) yang terbentuk memanjang dari Sumatera Selatan, Selat Karimata, Laut Jawa, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara hingga Laut Banda juga turut memicu potensi hujan lebat di beberapa wilayah.

Diperkirakan dalam beberapa hari kedepan masih terdapat peningkatan potensi hujan lebat disertai kilat/petir dan angin kencang di wilayah:

  • Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kep. Riau, Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Lampung
  • Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTB dan NTT
  • Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah bagian Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan
  • Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan dan Gorontalo, Maluku, Papua Barat dan Papua
Serta potensi Gelombang tinggi 1,25 hingga 2,5 meter diperkirakan terjadi di di Perairan utara & barat Aceh, Perairan barat Bengkulu - Lampung, Selat Sunda bag.selatan, Perairan selatan Jawa hingga P. Sumba, Perairan Kep. Anambas - Natuna, L. Jawa, Perairan selatan Kalimantan, L. Sulawesi, Perairan Kep. Sangihe - Talaud, L. Maluku bag.selatan, Perairan utara P.Halmahera, L.Halmahera, L. Cina Selatan, Perairan barat Kep. Simeulue hingga Kep. Mentawai, Samudra Hindia barat Sumatra hingga selatan NT, Perairan utara Papua Barat hingga Papua. L. Cina Selatan, Perairan barat Kep. Simeulue hingga Kep. Mentawai, Samudra Hindia barat Sumatra hingga selatan NTB.

Masyarakat dihimbau agar waspada dan berhati-hati terhadap dampak yang dapat ditimbulkan seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, pohon tumbang dan jalan licin. Bagi masyarakat yang hendak memperoleh informasi terkini, BMKG senantiasa membuka layanan informasi cuaca 24 jam, yaitu melalui:

  • call center 021-6546318;
  • http://www.bmkg.go.id;
  • follow twitter @infobmkg;
  • aplikasi iOS dan android "Info BMKG";
  • atau dapat langsung menghubungi kantor BMKG terdekat.