Memperigati HMD Ke-71 Stamet Juanda Adakan Webinar

  • Rachmat Hidayat
  • 30 Mar 2021
Memperigati HMD Ke-71 Stamet Juanda Adakan Webinar

Sidoarjo - Senin (29/03), Dalam rangka Hari Meteorologi Dunia ke-71 Tahun 2021 Stasiun Meteorologi Juanda Sidoarjo mengadakan Webinar dengan tema "Memahami Cuaca, Iklim dan Tsunami untuk Mitigasi Kebencanaan", Kegiatan ini dilaksanakan pada pukul 09.00 sampai dengan 12.00 WIB secara virtual via Zoom dan live streaming YouTube Info BMKG Juanda. Webinar ini dibuka oleh Kepala Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Wilayah III Denpasar Bpk. Agus Wahyu Raharjo, S.P. selaku Keynote Speaker, menyampaikan sedikit sambutanya menyampaikan secara umum potensi kebencanaan di Provinsi Jawa Timur baik itu hidrometeorologi maupun gempa bumi dan tsunami serta mengucapkan terimakasih dan selamat mengikuti kegiatan webinar dengan baik kepada seluruh peserta webinar.

Kegiatan webinar ini diikuti oleh peserta dari Instansi terkait dan Masyarakat Umum. Ada 5 (lima) Narasumber pada webinar ini yaitu Kepala Stasiun Meteorologi Juanda Sidoarjo Bpk. I Wayan Mustika, S.Si., M.Si., Kepala Stasiun Klimatologi Malang Bpk. Anung Suprayitno, S.Si., Kepala Bidang Pencegahan & Kesiapsiagaan BPBD Prov. Jawa Timur Bpk. Gatot Soebroto, S.E., M.PSDM. Kepala Stasiun Geofisika Malang Bpk. Ma'muri, S.Si., M.Ti., dan Forecaster Senior Stasiun Meteorologi Maritim Perak Surabaya Bpk. Fajar Setiawan, S.Si..

Dalam pemaparannya masing-masing narasumber membawakan materi sesuai bidangnya terkait pemanfaatan informasi cuaca, iklim, gempabumi & tsunami dari BMKG untuk menentukan langkah strategis dalam mengantisipasi dan mitigasi bencana alam serta terus meningkatkan sinergitas antar instansi pemerintah di Prov. Jawa Timur. Webinar yang dengan pembawa acara PMG Muda Stasiun Meteorologi Juanda Sidoarjo Fitria Hidayati dengan Moderator Koordinator Bidang Kemitraan SRPB Prov. Jawa Timur Aslichatul Insiyah. berlangsung cukup menarik dan antusias peserta cukup tinggi terbukti pada sesi diskusi dan tanya jawab berlangsung banyak pertanyaan masuk dari peserta webinar kepada para narasumber.

Diharapkan dengan adanya webinar ini bisa menambah wawasan untuk seluruh peserta dalam mengantisipasi potensi bencana hidrometeorologi, gempabumi dan tsunami di Wilayah Jawa Timur dan peningkatan sinergisitas antar instansi Pemerintah di Provinsi Jawa Timur serta seluruh masyarakat di Jawa timur memahami dengan potensi kebencanaan yang ada dan dapat melakukan mitigasi dengan baik demi keamanan dan keselamatan bersama.

Gempabumi Terkini

  • 21 Mei 2024, 02:42:13 WIB
  • 5.3
  • 10 km
  • 9.28 LS - 112.61 BT
  • Pusat gempa berada di laut 127 km tenggara Kabupaten Malang
  • Dirasakan (Skala MMI): III Karangkates, II Malang, II Jember, II Kepanjen, II Kuta
  • Selengkapnya →
  • Pusat gempa berada di laut 127 km tenggara Kabupaten Malang
  • Dirasakan (Skala MMI): III Karangkates, II Malang, II Jember, II Kepanjen, II Kuta
  • Selengkapnya →

Siaran Pers

Punya Banyak Manfaat, BMKG Berbagi Praktik Baik Teknologi Modifikasi Cuaca dengan TunisiaBali (20 Mei 2024) - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menyebut bahwa Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) memberikan dampak positif di tengah laju perubahan iklim. Hal tersebut disampaikan Dwikorita pada saat pertemuan Bilateral dengan Menteri Agrikultur, Sumber Daya Hidraulik, dan Perikanan Tunisia Abdelmonaam Belaati. "Seiring intensitas cuaca ekstrem yang tinggi memang negara kita (Indonesia-red) banyak menderita akibat bencana yang diakibatkannya dan itulah mengapa TMC menjadi salah satu pendekatan mitigasi yang bisa dilakukan pada saat kita terancam," kata Dwikorita di Posko TMC Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali, Minggu (19/5). Dwikorita menjelaskan bahwa TMC dapat dilakukan untuk memitigasi bencana seperti cuaca ekstrem yang disebabkan oleh perubahan iklim. Misalnya, Indonesia pernah mengalami cuaca esktrem yang disebabkan oleh fenomena El Nino pada 2015, 2016, dan 2019 di mana banyak wilayah yang mengalami kekeringan dan kebakaran hutan. Akibat kejadian tersebut, kata dia, banyak kerugian yang disebabkan dan membuat masyarakat menderita. Oleh karenanya, berdasarkan hasil analisis BMKG pada saat El Ni�o tahun 2023, BMKG telah belajar banyak dan memanfaatkan TMC sebagai bentuk mitigasi terhadap dampak bencana yang dihasilkan. Diterangkan Dwikorita, pada saat El Nino, sering kali terjadi penurunan air tanah sehingga menciptakan lahan yang sangat kering dan sangat sensitif terhadap kebakaran hutan. Secara alami, jika dahan pohon saling bergesekan, maka kebakaran pun bisa terjadi. "Nah, TMC bisa digunakan untuk mengantisipasi kebakaran tersebut dengan menyemai awan-awan di wilayah yang rentan mengalami kebakaran hutan dan lahan. Data yang dimiliki BMKG, Terdapat sekitar 90 atau 80% pengurangan kebakaran hutan," ujarnya. Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt.) Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto menyampaikan bahwa BMKG telah melakukan cloud sheeding selama lima hari untuk menangani bencana hidrometeorologi banjir bandang dan banjir lahar hujan di Sumatra Barat. Sebanyak 15 ton garam disemai di wilayah Sumatra Barat untuk menahan intensitas hujan yang cukup tinggi dan berpotensi membawa material vulkanik sisa letusan Gunung Marapi. TMC dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi intensitas hujan di lereng Gunung Marapi dan memudahkan pencarian korban hilang. Seto menegaskan bahwa TMC sangat penting untuk menyelamatkan hidup manusia, menjamin kemakmuran, dan kesejahteraan manusia karena membantu produksi pertanian di daerah kering. Oleh karenanya usaha ini harus terus dilakukan secara kolektif. Sementara itu, Menteri Agrikultur, Sumber Daya Hidraulik, dan Perikanan Tunisia Abdelmonaam Belaati mengampresiasi kemampuan BMKG dalam melakukan TMC. Menurutnya, TMC merupakan pekerjaan yang sangat baik demi menjaga keberlangsungan hidup manusia. Abdelmonaam bercerita, Tunisia mencatat kekeringan selama 5-7 tahun yang menyebabkan pasokan air berkurang. Dan oleh karenanya, dengan kunjungan ke Indonesia, Tunisia ingin mencari solusi bagaimana TMC bisa dilakukan dengan efektif. Saat ini untuk menanggulangi persoalan tersebut Tunisia sedang melakukan desalinasi air laut atau proses menghilangkan kadar garam dari air sehingga dapat dikonsumsi oleh makhluk hidup. Juga sedang mencoba memikirkan bagaimana bisa menggunakan air bekas dan air olahan. "Dan solusi lainnya adalah bagaimana bisa melakukan modifikasi cuaca. Bagaimana kita bisa mendatangkan hujan ke suatu negara. Itu sangat penting dan itulah sebabnya kami ada di sini hari ini dan berharap dapat terus bekerja sama," pungkasnya. (*) Biro Hukum dan Organisasi Bagian Hubungan Masyarakat Instagram : @infoBMKG Twitter : @infoBMKG @InfoHumasBMKG Facebook : InfoBMKG Youtube : infoBMKG Tiktok : infoBMKG

  • 20 Mei 2024