Kunjungan Karya Ilmiah Remaja ke Stageof Malang

  • Rozar Putratama
  • 24 Feb 2024
Kunjungan Karya Ilmiah Remaja ke Stageof Malang

Malang, (23/2) - Stasiun Geofisika Kelas III Malang menerima kunjungan 23 siswa/i dari beserta 1 (satu) guru pendamping dari ekstrakurikuler Karya Ilmiah Remaja (KIR) SMA Negeri 1 Kesamben. Kunjungan ini merupakan bagian dari Workshop Pelatihan Olimpiade Penelitian sekolah tersebut yang bertujuan untuk menambah pengetahuan tentang cuaca, iklim dan gempabumi serta cara melindungi diri. Rombongan disambut oleh Plh. Kepala Stasiun Geofisika Kelas III Malang, Dana Ristanto, S. Si. dan jajaran Staf Operasional.

Pada kunjungan ini, pemberian materi pada siswa/i terbagi menjadi 2 (dua) sesi. Sesi pertama siswa/i diberikan paparan materi tentang pengenalan iklim, cuaca, gempabumi dan tsunami serta mitigasinya dan juga diperkenalkan gejala-gejala alam yang dapat merugikan seperti banjir dan longsor. Pemberian materi ini disampaikan oleh petugas operasional yaitu Dana Ristanto, S. Si.. Pada sesi ini juga dilakukan tanya-jawab tentang maateri yang disampaikan.

Kemudian dilanjutkan dengan sesi kedua yaitu pengenalan peralatan yang ada di Stasiun Geofisika Malang. Yang pertama yaitu, pengenalan peralatan Geofisika. Peralatan Geofisika yang dikenalkan antara lain peralatan pengamatan gempabumi beserta software Analisa Seiscomp, peralatan pengamatan listrik udara Nexstorm, peralatan WRS NG, dan Intensitymeter dengan pemateri yaitu, Ken Wirawan, M.T. Yang kedua, pengenalan peralatan Meteorologi yaitu pengenalan peralatan yang ada di Taman Alat Meteorologi dengan pemateri Umi Eka Sabrina, S. Si.. Di taman alat siswa/i diberikan materi alat-alat meteorologi yang dipakai untuk mengamati unsur cuaca serta bagaimana cara kerjanya yang membuat para siswa/i menjadi antusias dan tertarik dalam belajar. Setelah mendapatkan materi dan mengenal peralatan yang digunakan, acara kunjungan ini kemudian ditutup dengan kegiatan foto bersama.

Plh. Kepala Stasiun Geofisika Malang mengucapkan terima kasih kepada pihak sekolah yang memfasilitasi siswa/i pada kunjungan edukasi ini dan semoga bermanfaat khususnya kepada anak - anak terkait edukasi dini terkait bencana. Ucapan terimakasih juga disampaikan oleh Guru Perwakilan SMA Negeri 1 Kesamben dan permohonan maaf apabila ada kekurangan.

Dari kegiatan kunjungan ini diharapkan para siswa/i dapat lebih mengenal BMKG khususnya Stasiun Geofisika Malang serta untuk mempersiapkan generasi yang cerdas, siap, dan tangguh dalam menghadapi bencana alam.

Gempabumi Terkini

  • 21 Mei 2024, 02:42:13 WIB
  • 5.3
  • 10 km
  • 9.28 LS - 112.61 BT
  • Pusat gempa berada di laut 127 km tenggara Kabupaten Malang
  • Dirasakan (Skala MMI): III Karangkates, II Malang, II Jember, II Kepanjen, II Kuta
  • Selengkapnya →
  • Pusat gempa berada di laut 127 km tenggara Kabupaten Malang
  • Dirasakan (Skala MMI): III Karangkates, II Malang, II Jember, II Kepanjen, II Kuta
  • Selengkapnya →

Siaran Pers

Punya Banyak Manfaat, BMKG Berbagi Praktik Baik Teknologi Modifikasi Cuaca dengan TunisiaBali (20 Mei 2024) - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menyebut bahwa Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) memberikan dampak positif di tengah laju perubahan iklim. Hal tersebut disampaikan Dwikorita pada saat pertemuan Bilateral dengan Menteri Agrikultur, Sumber Daya Hidraulik, dan Perikanan Tunisia Abdelmonaam Belaati. "Seiring intensitas cuaca ekstrem yang tinggi memang negara kita (Indonesia-red) banyak menderita akibat bencana yang diakibatkannya dan itulah mengapa TMC menjadi salah satu pendekatan mitigasi yang bisa dilakukan pada saat kita terancam," kata Dwikorita di Posko TMC Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali, Minggu (19/5). Dwikorita menjelaskan bahwa TMC dapat dilakukan untuk memitigasi bencana seperti cuaca ekstrem yang disebabkan oleh perubahan iklim. Misalnya, Indonesia pernah mengalami cuaca esktrem yang disebabkan oleh fenomena El Nino pada 2015, 2016, dan 2019 di mana banyak wilayah yang mengalami kekeringan dan kebakaran hutan. Akibat kejadian tersebut, kata dia, banyak kerugian yang disebabkan dan membuat masyarakat menderita. Oleh karenanya, berdasarkan hasil analisis BMKG pada saat El Ni�o tahun 2023, BMKG telah belajar banyak dan memanfaatkan TMC sebagai bentuk mitigasi terhadap dampak bencana yang dihasilkan. Diterangkan Dwikorita, pada saat El Nino, sering kali terjadi penurunan air tanah sehingga menciptakan lahan yang sangat kering dan sangat sensitif terhadap kebakaran hutan. Secara alami, jika dahan pohon saling bergesekan, maka kebakaran pun bisa terjadi. "Nah, TMC bisa digunakan untuk mengantisipasi kebakaran tersebut dengan menyemai awan-awan di wilayah yang rentan mengalami kebakaran hutan dan lahan. Data yang dimiliki BMKG, Terdapat sekitar 90 atau 80% pengurangan kebakaran hutan," ujarnya. Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt.) Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto menyampaikan bahwa BMKG telah melakukan cloud sheeding selama lima hari untuk menangani bencana hidrometeorologi banjir bandang dan banjir lahar hujan di Sumatra Barat. Sebanyak 15 ton garam disemai di wilayah Sumatra Barat untuk menahan intensitas hujan yang cukup tinggi dan berpotensi membawa material vulkanik sisa letusan Gunung Marapi. TMC dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi intensitas hujan di lereng Gunung Marapi dan memudahkan pencarian korban hilang. Seto menegaskan bahwa TMC sangat penting untuk menyelamatkan hidup manusia, menjamin kemakmuran, dan kesejahteraan manusia karena membantu produksi pertanian di daerah kering. Oleh karenanya usaha ini harus terus dilakukan secara kolektif. Sementara itu, Menteri Agrikultur, Sumber Daya Hidraulik, dan Perikanan Tunisia Abdelmonaam Belaati mengampresiasi kemampuan BMKG dalam melakukan TMC. Menurutnya, TMC merupakan pekerjaan yang sangat baik demi menjaga keberlangsungan hidup manusia. Abdelmonaam bercerita, Tunisia mencatat kekeringan selama 5-7 tahun yang menyebabkan pasokan air berkurang. Dan oleh karenanya, dengan kunjungan ke Indonesia, Tunisia ingin mencari solusi bagaimana TMC bisa dilakukan dengan efektif. Saat ini untuk menanggulangi persoalan tersebut Tunisia sedang melakukan desalinasi air laut atau proses menghilangkan kadar garam dari air sehingga dapat dikonsumsi oleh makhluk hidup. Juga sedang mencoba memikirkan bagaimana bisa menggunakan air bekas dan air olahan. "Dan solusi lainnya adalah bagaimana bisa melakukan modifikasi cuaca. Bagaimana kita bisa mendatangkan hujan ke suatu negara. Itu sangat penting dan itulah sebabnya kami ada di sini hari ini dan berharap dapat terus bekerja sama," pungkasnya. (*) Biro Hukum dan Organisasi Bagian Hubungan Masyarakat Instagram : @infoBMKG Twitter : @infoBMKG @InfoHumasBMKG Facebook : InfoBMKG Youtube : infoBMKG Tiktok : infoBMKG

  • 20 Mei 2024