BMKG Rangkul 5 K/L Bangun Sistem Peringatan Dini Rob

  • Dwi Rini
  • 29 Mar 2017
BMKG Rangkul 5 K/L Bangun Sistem Peringatan  Dini Rob

Jakarta, (29/3). Seperti yang kita ketahui bahwa Indonesia merupakan negara maritim dan 60% wilayah Indonesia berupa persisir, terdapat hampir 93 ribu warga tinggal di wilayah pesisir. Tidak hanya itu, kita pun memiliki garis pantai ketiga terpanjang di dunia (99.093 km) tentunya kondisi ini memiliki peluang yang sangat besar terhadap ancaman bencana. Kondisi inilah yang menjadikan wilayah Indonesia rawan bencana seperti Banjir Pesisir / Rob, tsunami, gelombang badai (storm surge) yang saat ini mengancam masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir.

Menyadari kondisi ini, BMKG terus berupaya memberikan informasi peringatan dini dengan mengembangkan sistem peringatan dini melalui kegiatan Coastal Inundation Forcasting Demonstration Project Indonesia (CIFDP-I). Kegiatan ini telah dimulai sejak tahun 2013 atas asistensi dari WMO.

Seperti yang dikatakan Kepala BMKG, Dr. Andi Eka Sakya, M. Eng didepan media massa Rabu pagi di Kantor BMKG bahwa Implementasi CIFDP -Indonesia telah memasuki pada tahap keempat, yaitu: evaluasi sistem dan pra-operasional.

"Tahun 2018 sistem sudah mulai beroperasional dan dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Melalui sistem ini dapat dijadikan sebagai Decision Support System (DSS) pada level kebijakan bidang bencana dan mitigasi," imbuh Andi Eka Sakya.

CIFDP-I merupakan hasil kerjasama antara beberapa lembaga dan kementerian dari awal fase (fase 0) melalui berbagai forum, seperti seminar, workshop, dan sharing antar lembaga/kementerian.

Kerjasama ini pun di lakukan di bawah payung kesepakatan perjanjian kerjasama atau yang disebut dengan Devinitive National Agreement (DNA) yang telah ditandatangani pada hari ini. Melalui kerjasama ini diharapkan tercapainya tujuan pembangunan sistem peringatan dini banjir pesisir/Rob yang memberikan manfaat bagi masyarakat pesisir.

Perjanjian kerjasama ini melibatkan 5 Kementerian/Lembaga, yaitu Pusat Meteorologi Maritim BMKG, Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air Kementerian Pupera, Direktorat Pendayagunaan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil KKP, Pusat Jaring Kontrol Geodesi dan Geodinamika BIG, dan Direktorat Kesiapsiagaan BNPB.

Sistem ini akan diimplementasikan di Jakarta dan Semarang sebagai pilot project dengan pertimbangan kedua daerah tersebut memiliki dampak yang begitu besar akibat adanya bencana rob ini.

Andi Eka menambahkan dalam keterangannya bahwa melalui sistem peringatan dini kita dapat mengetahui prakiraan ketinggian banjir rob dan luasan dampak dari banjir rob sehingga PEMDA dapat memgambil keputusan untuk memetakan daerah mana yang termasuk "zona merah"

Sementara Perwakilan dari WMO, Dr. Sarah Grimes mengutarakan bahwa CIFDP merupakan kegiatan yang di asistensi dari WMO sebagai langkah untuk kesiapsiagaan terhadap bencana dan mitigasi.

Sarah menambahkan terdapat beberapa tim ahli dari WMO ikut berperan masukan tentang apa-apa yang menjadi kebutuhan Indonesia untuk membangun sebuah sistem yang diharapkan dapat membantu masyarakat di wilayah pesisir.

Kegiatan Coastal Inundation Forecasting Demonstration Project Indonesia Phase 2 Review Meeting ini dihadiri oleh beberapa pembicara seperti:

  • Sarah Grimes, Scientific Officer JCOMM and GOOS, World Meteorological Organization (WMO);
  • Paul Davies, Chief Meteorologist UK Met Office;
  • Kevin Horsburgh, Head of Marine Physics and Ocean Climate, NERC National Oceanography Centre - UK;
  • Dr Graeme Smart, Principal Scientist - Natural Hazards and Hydrodynamics, National Institute of Water and Atmospheric Research - New Zealand;
  • Deepak Vatvani, Senior Advisor - Deltares.

  • 19 Jul 2018, 19:23:35 WIB
  • 5.8 SR
  • 10 Km
  • 9.69 LS - 112.80 BT
  • 19 Jul 2018, 19:23:35 WIB
  • 5.8
  • 10 Km
  • 9.69 LS 112.8 BT
  • Pusat gempa berada di Laut 161 km Tenggara Kab.MALANG
  • Dirasakan (Skala MMI) : I-II Sawahan, I-II Kediri, I-II Pandaan, I-II Denpasar, III Blitar, III Malang,
  • Selengkapnya →

Siaran Pers & Info Aktual