Analisis Cuaca Kejadian Banjir dan Tanah Longsor (7 Maret 2018) di Lembang Tumbang Datu Sangalla Utara Kabupaten Tana Toraja

  • 27 Mar 2018
  • ADI YULIYANTO, S.Tr (SPT. PMG Pelaksana Sta. Met. Kelas IV Pongtiku - Tana Toraja BMKG)

Hujan yang terjadi pada hari Rabu tanggal 7 Maret 2018 yang mengakibatkan banjir di Kecamatan Sangalla Utara Toraja. Dari data penakar hujan Stasiun Meteorologi Pongtiku hujan hanya tercatat 3.0 mm pada pengukuran jam 12.00 UTC (jam 20.00 WITA). Hujan terjadi jam 09.00 UTC (17.00 WITA)-11.00 UTC (19.00 WITA). Namun menurut BPBD Tana Toraja terjadi hujan sangat lebat di Desa Tumbang Datu Sangalla Utara. Berdasarkan analisis Suhu Muka laut di perairan Indonesia yang hangat diatas 270C memberikan pengaruh yang signifikan terhadap proses penguapan di wilayah perairan Indonesia yang berdampak terjadinya pertumbuhan awan-awan konvektif yang mengakibatkan terjadinya hujan sedang hingga lebat di wilayah Indonesia pada umumnya dan wilayah Tana Toraja pada khususnya. Daerah Tekanan Rendah (999 hpa) di Selatan Indonesia berpengaruh terhadap terjadinya shearline di atas wilayah Sulawesi Selatan khususnya wilayah Tana Toraja yang berdampak terhadap banyaknya pertumbuhan awan-awan hujan. Kelembaban udara yang tinggi di lapisan bawah menunjukkan bahwa banyaknya kandungan uap air di wilayah Tana Toraja (latitude -3.2 derajat LS dan longitude 119.54 derajat BT) dan sangat memenuhi syarat untuk proses terjadinya pertumbuhan awan-awan hujan. Dari pantauan image satelit Himawari BMKG jam 07.00 UTC-15.00 UTC menunjukkan bahwa banyak terdapat awan-awan konvektif Cumulunimbus di hampir seluruh wilayah Tana Toraja yang mengakibatkan terjadinya hujan sangat lebat pada tanggal 7 Maret 2018 yang mengakibatkan terjadinya banjir di Desa Tumbang Datu Sangalla Utara.


Klik tautan ini jika PDF di atas tidak muncul.

Artikel Lainnya

Tanggal 10 April 1815, dunia mengenang letusan mahadahsyat dari Gunung Tambora. Lebih dari 2 abad telah berlalu, dan hingga saat ini letusannya dikenal sebagai salah satu letusan gunung berapi terbesar dalam sejarah. Tak hanya di Indonesia, dampak letusannya dirasakan hingga ke daratan Eropa dan merubah iklim dunia dalam beberapa tahun ke depan. Mengapa demikian ? Hal yang perlu diketahui bahwa cuaca dan iklim memiliki sifat yang sangat dinamis. Banyak faktor yang mempengaruhinya seperti kekuatan fenomenan cuaca dan iklim, waktu kejadian, luasan kejadian baik yang terjadi di lautan maupun yang terjadi di atmosfer. Oleh karena itu apa yang terjadi di daratan akan mempengaruhi kondisi di atmosfer begitu pula sebaliknya apa yang terjadi di atmosfer akan berpengaruh terhadap kondisi daratan. Hal ini pula yang terjadi pada letusan gunung berapi. Letusan kecil pun dapat mempengaruhi cuaca dan iklim di bumi akibat material letusan yang di keluarkan oleh gunung berapi.

Berdasarkan analisis secara global dari MJO ditemukan tidak adanya keterkaitan secara signifikan terhadap kejadian hujan di wilayah Balikpapan. Analisis pola Streamline menunjukkan adanya pergerakan massa udara yang kaya akan uap air dari Samudera Pasifik menuju ke belahan bumi bagian selatan karena di wilayah BBS terdapat banyak pola tekanan rendah, dimana pada hakikatnya massa udara akan bergerak dari tekanan tinggi menuju ke tekanan rendah. Massa udara yang kaya akan uap air ini melewati wilayah Balikpapan, dan terlihat adanya pembelokan angin di sekitar wilayah Kalimantan, hal ini menyebabkan massa udara yang kaya akan uap air karena berasal dari samudera yang luas mengalami pumpunan massa udara di atas wilayah Balikpapan sehingga kandungan uap air di atas wilayah Balikpapan sangat besar dan berpotensi terbentuknya awan-awan konvektif. Kondisi kelembapan udara diatas wilayah Balikpapan pada tanggal 17 Maret 2018 sangat lembab dari lapisan bawah hingga lapisan atas yaitu dari lapisan permukaan, 850 mb, 700mb, 500mb hingga 200 mb berkisar antara 80%-90%, dimana kita ketahui kelembapan udara yang tinggi menunjukkan kandungan uap air yang besar, sehingga pembentukan awan-awan konvektif di atas wilayah Balikpapan sangan signifikan. Hujan lebat yang terjadi pada tanggal 17 Maret 2018 di wilayah Balikpapan yang menyebabkan banjir dan tanah longsor ditinjau dari analisis satelit Himawari 8 EH, ditemukan adanya pembentukan awan-awan konvektif yang di identifikasi dari suhu puncak awannya yang menunjukkan bahwa awan yang terbentuk berjenis awan konvektif yaitu awan Cumulunimbus (gambar citra satelit jenis awan) yang sangat besar dan terus meluas dimulai dari jam 13.00 UTC, semakin meluas pada pukul 14.00 UTC dan mulai menghilang/punah pada 20.00 UTC . Dari analisis citra radar juga terlihat pembentukan awan konvektif pada tanggal 17 Maret 2018 di wilayah Kota Balikpapan dengan nilai reflektivitas antara 38-48 DBZ. Hal ini memicu terjadinya hujan lebat yang terjadi merata hampir di seluruh wilayah Balikpapan dan berlangsung cukup lama.

Aceh merupakan daerah sumber distribusi gempabumi yang sangat aktif dibandingkan beberapa wilayah Indonesia, karena dipengaruhi oleh aktifitas Subduksi dan Sesar aktif disepanjang pulau Sumatera. Kejadian gempabumi di Provinsi Aceh sangat bervariasi pada tiap segmen daerah zona subduksi dan segmen sesar wilayah Aceh, sehingga dapat diasosiasikan terhadap jumlah frekuensi kejadian gempabumi dengan tren aktifitas di zona seismotektonik wilayah tersebut. Hal ini dibuktikan dengan adanya akumulasi stress yang berbeda-beda tingginya di tiap lokasi. Berdasarkan pemahaman kondisi seismotektonik di wilayah tersebut, analisa kualitas data kegempabumian sangat diperlukan dalam penentuan tingkat kewaspadaan terhadap keaktifan sumber gempabumi wilayah Provinsi Aceh. Data katalog yang presisi sangat dibutuhkan sebagai data referensi untuk merelokasi hiposenter gempabumi.

Kondisi atmosfer pada saat terjadinya Banjir di Kec.Natar, Kec.teluk Betung Selatan, Kec.Pasir Sakti ditemukan adanya pengaruh regional berupa pola tekanan yang menunjukan adanya tekanan rendah di Barat Australia dan Barat Lampung dan pola angin yang mengindikasikan adanya pembentukan awan konvektif akibat dari adanya belokan angin yang mengakibatkan perlambatan massa udara sehingga menyebabkan peningkatan massa udara yang berpotensi menumbuhkan awan konvektif Cumulonimbus diatas wilayah Lampung bagian Selatan dan Timur. Kemudian Adanya sirkulasi MJO yang cukup aktif di fase 3, yang berarti Berkontribusi pada proses pembentukan awan di Indonesia. Demikian juga untuk kondisi lokal, labilitas udara pada sore hari menunjukan kondisi labil dengan potensi thunderstorm yang sangat kuat.

Hujan yang terjadi pada tanggal 8 Maret 2018 telah menyebabkan bencana banjir bandang di Kecamatan Sianjur Mula-mula, Kabupaten Samosir. Berdasarkan informasi dari Balai Wilayah Sungai Sumatera II Medan, bencana banjir terparah menerjang sebuah bangunan laboratorium SMP Negeri 2 Kecamatan Sianjur Mula-mula dan beberapa rumah warga sehingga mengganggu proses belajar mengajar di sekolah tersebut. Lebih lanjut lagi, jembatan Binanga Date di Dusun I Siboro Desa Bonan Dolok ambruk / terputus sehingga aktivitas masyarakat menjadi terhambat. Untuk itu, perlu dilakukan analisis mengenai kondisi curah hujan dan dinamika atmosfer yang terjadi selama kejadian tersebut.

Terjadi banjir di beberapa wilayah di Bangka yang merendam rumah warga, persawahan. Akses jalan terputus di wilayah Muntok Bangka Barat dan lainnya pada 11 Maret 2018 dini hari hingga pagi hari.

Sebanyak 9 (Sembilan) kabupaten di wilayah Kalimantan Barat terdapat titik panas yang signifikan pada dasarian ke-2 Februari 2018. Kejadian tersebut diikuti munculnya asap di Kabupaten Mempawah, Kubu Raya, Ketapang dan Kota Pontianak. Para Bupati telah menetapkan status siaga darurat asap untuk menanggulangi kebakaran hutan dan lahan yang telah terjadi. Salah satunya adalah Bupati Mempawah melalui SK Bupati No. 85/2018 pada 13 Februari 2018.

Cuaca Ektrim Hujan dengan intensitas ringan hingga lebat dan berdurasi 3- 7 Jam di Bandar Lampung pada malam hingga pagi hari mengakibatkan dua rumah longsor di Perumahan Gedung Meneng Kec.Raja Basa Bandar Lampung, dan terjadi banjir setinggi lutut orang dewasa di Jalan Pramuka Kec.Kemiling. Berdasarkan informasi dari media online, bahwa hujan deras yang terjadi mulai pukul 23.00 Wib Minggu (04/2) hingga pagi hari, Sumber berita www.radarlampung.co.id. Dari analisis angin 3000 feet tanggal 04 Maret 2018 jam 00 dan 12 UTC, terlihat adanya gangguan cuaca skala regional (Shearline) di wilayah Lampung bagian barat dan selatan menyebabkan terjadinya perlambatan massa udara yang membawa uap air, sehingga terjadi pengangkatan massa udara ke lapisan atas yang membentuk awan-awan hujan. Dari data observasi Stamet Radin Inten II Lampung, terlihat perubahan cuaca mulai signifikan pada jam 16 UTC, dan puncaknya Hujan disertai petir tercatat pada jam 17 UTC hingga jam 01 UTC.Dari pantauan citra satelit menunjukan konsentrasi awan di Wilayah Lampung bagian Tengah dan Selatan sangat kuat, suhu puncak awan menunjukkan antara -65,0 derajat C s.d - 75,0 derajat C termasuk jenis awan Cb yang sangat kuat dan menjulang tinggi. Analisis sounding yang diperoleh dari cross section didapat bahwa kondisi labilitas wilayah Bandar Lamapung dan sekitarnya sangat labil dan RH lapisan dari 850 s.d 500 mb sangat lembab berkisar antara 70%, artinya asupan energi untuk pembentukan awan Cb sangat mendukung.

Pengamatan atau observasi terhadap beberapa unsur cuaca menjadi sangat vital. Hal ini menjadi salah satu acuan bagi seorang prakirawan dalam membuat prakiraan cuaca maupun peringatan dini cuaca. Oleh karena itu, dibutuhkan ilmu dan pengetahuan serta pengalaman yang baik untuk mengamati unsur-unsur cuaca tersebut. Hal ini dikarenakan kondisi unsur-unsur cuaca yang cepat berubah atau berfluktuasi. Setiap pengamat atau observer setiap saat harus memantau perkembangan serta perubahan tiap-tiap unsur cuaca guna mneghasilkan data meteorologi yang akurat yang nantinya tentu akan berpengaruh terhadap prakiraan cuaca yang dibuat oleh seorang prakirawan. Pengamatan terhadap beberapa unsur-unsur cuaca harus dilakukan dengan baik dan benar sehingga menghasilkan data-data akurat yang kemudian bisa digunakan sebagai acuan dalam penelitian di bidang meteorologi mapun kontruksi bangunan.

  • 24 Apr 2018, 10:05:37 WIB
  • 5.2 SR
  • 140 Km
  • 8.51 LS - 118.31 BT
  • 24 Apr 2018, 22:44:57 WIB
  • 4.5
  • 10 Km
  • 0.8 LU 120.12 BT
  • Pusat gempa berada di laut 6 km Utara Ogoamas-Kab. Donggala
  • Dirasakan (Skala MMI) : III Ogoamas,
  • Selengkapnya →

Siaran Pers & Info Aktual