Analisis Cuaca Saat Terjadi Banjir di Wilayah Kab. Sumbawa (11 Februari 2017)

  • 14 Feb 2017
  • DENNY AGUS ABRIAWAN (PMG Pelaksana Sta. Met. Kelas III Sultan Muhammad Kaharuddin - Sumbawa Besar BMKG)
  • SOFI AULIA SUPROBO (SPT. PMG Pelaksana Sta. Met. Kelas III Sultan Muhammad Kaharuddin - Sumbawa Besar BMKG)

Banjir menggenangi tujuh kecamatan di Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, Sabtu, 11 Februari 2017. Kepala Pusat Data Informasi dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana Sutopo Purwo Nugroho mengatakan banjir tersebut disebabkan oleh luapan sungai. "Selama lima hari terakhir, hujan deras berlangsung," ucapnya melalui keterangan tertulisnya, Sabtu, 11 Februari 2017. Tujuh kecamatan tersebut antara lain Kecamatan Labuan Badas, Empang, Terano, Sumbawa, Unter Iwes, Moyo Utara, dan Moyo Hilir. Akibatnya, 40.219 jiwa terdampak banjir dengan ketinggian hingga 70 sentimeter ini. Untuk sementara, korban mengungsi di masjid dan kantor pemerintah daerah."Pengungsi sering bolak-balik ke rumah dan tempat pengungsian," ujarnya.

Artikel Lainnya

Setelah dilakukan analisa terhadap beberapa parameter cuaca di atas, maka dapat disimpulkan bahwa penyebab tingginya gelombang di Laut Jawa di akibatkan oleh pengaruh dari adanya sistem tekanan rendah (1000hpa) di Laut China Selatan yang menyebabkan adanya pergerakan massa udara dari Indonesia ke Laut China Selatan dengan kecepatan angin yang cukup signifikan sehingga mengakibatkan tingginya gelombang laut. Berdasarkan analisis data arah dan kecepatan angin permukaan air laut serta tinggi gelombang pada tanggal 15 Juli 2017 saat terjadi tenggelamnya KLM Karya Bersama, tinggi gelombang mencapai 1.00 - 3.00 Meter termasuk dalam kategori tinggi dan kecepatan angin berkisar antara 8 - 30 Knots atau 16 - 60 Km/Jam. Berdasarkan hasil analisa dari citra radar stamet iskandar (HWIND) jam 08.00 - 08.50 WIB pada sekitaran wilayah muara seruyan kecepatan angin berkisar antara 15-30 Knots atau 30-60 Km/Jam, hal ini yang meyebabkan tingginya gelombang di sekitar muara seruyan dan mengakibatkan teggelamnya KLM Karya Bersama.

Berdasarkan data dari Badan Mateorologi Klimatologi dan Geofisika serta ditunjang data input prakiraan cuaca yang digunakan dalam operasional Stasiun Meteorologi Klas I Pangkalpinang, kondisi cuaca di wilayah Kepulauan Bangka Belitung umumnya berawan dengan potensi hujan ringan hingga sedang. Namun masih perlu diwaspadai adanya potensi hujan lebat pada sebagian wilayah Bangka Belitung terutama pada siang/sore hari.

Berdasarkan data dari Badan Mateorologi Klimatologi dan Geofisika serta ditunjang data input prakiraan cuaca yang digunakan dalam operasional Stasiun Meteorologi Klas I Pangkalpinang, kondisi cuaca di wilayah Kepulauan Bangka Belitung umumnya berawan dengan potensi hujan ringan hingga sedang. Namun masih perlu diwaspadai adanya potensi hujan lebat pada sebagian wilayah Bangka Belitung terutama pada siang/sore hari dan dini hari.

Sumber utama dari gangguan pada bumi khususnya medan geomagnet bumi yaitu Matahari. Matahari memancarkan elektromagnetik yang sangat kuat ke bumi yang dapat menghasilkan fenomena-fenomena seperti aurora, coronal holes, cme, badai matahari dan lain- lain. Dampak badai geomagnetik memang tidak secara langsung berdampak ke manusia, tetapi berdampak pada teknologi yang digunakan oleh manusia. Dampak ini diantaranya yaitu terganggunya sinyal radio HF maupun terganggunya sinyal yang dipancarkan oleh satelit sehingga dapat berpengaruh terhadap komunikasi. Hal ini dirasakan pada pengguna handphone, BTS, Komunikasi Pesawat dan lain-lain. Dampak lainnya yang begitu fenomenal yaitu terbakarnya trafo pembangkit listrik yang pernah terjadi di daerah Quebec pada tahun 1989.

Analisis Kejadian Hujan Lebat di Medan dan Sekitarnya (24 Juni 2017)

Dari peta streamline, pola angin dengan ketinggian 3000 feet pada tanggal 03 Juli 2017 jam 00 UTC menunjukkan adanya arus siklonik tertutup atau Eddy yang berpusat di Selat Karimata sebelah barat Kalimantan Barat. Adanya belokan angin (shearline) di sekitar Eddy secara otomatis terjadi di atas Kepulauan Bangka Belitung khususnya di Pulau Belitung. Kondisi ini menyebabkan perlambatan kecepatan angin sehingga meningkatkan pengangkatan udara ke atas dan potensi pertumbuhan awan-awan konvektif yang dapat mengakibatkan hujan lebat.

Berdasarkan gambar gerak semu matahari, tanggal 01 Juli 2017 terlihat posisi matahari berada di Belahan Bumi Utara (BBU). Hal ini berarti radiasi matahari akan lebih banyak diterima di daerah BBU dibandingkan dengan di deaerah BBS. Hal ini dapat menimbulkan pemanasan yang lebih banyak di daerah BBU yang dapat berakibatkan pada penurunan tekanan dan peningkatan awan-awan konvektif di daerah BBU.

Kejadian curah hujan ekstrim yang terjadi pada pertengahan bulan Juni 2017 di wilayah NTB khususnya di wilayah Kota Mataram dan sebagian Lombok Barat merupakan fenomena yang jarang terjadi. Bulan Juni merupakan bulan musim kemarau di wilayah NTB, tetapi karena adanya ganguan dinamika atmosfer sehingga dapat terjadi kondisi ekstrim. Curah hujan yang terjadi pada tanggal 12-13 Juni 2017 hampir terjadi merata di wilayah Lombok walaupun dengan intensitas yang berbeda. Curah hujan dengan intensitas tinggi umumnya terjadi di wilayah Kota Mataram dan sebagian Kabupaten Lombok Barat. Seperti dilansir dari Republika.co.id wilayah kota Mataram yang terdampak paah yaitu di wilayah Kekalik Jaya kecamatan Sekarbela. Sementara untuk wilayah Lombok Barat seperti dilansir dari kicknews.today terdapat 340 kepala keluarga mengungsi di kecamatan Labuapi. Selain di wilayah Labuapi genangan air juga terjadi di desa Lembuak kecamatan Narmada. Berdasarkan informasi dari kepala BPBD Kabupaten Lombok Barat, banjir terjadi bukan hanya karena hujan lebat yang terjadi dari siang hari yaitu pukul 13.00 wita hingga pukul 19.00 wita tetapi juga disebabkan oleh saluran air yang tidak berfungsi normal sehingga tidak dapat menampung limpahan air dari wilayah yang lebih tinggi.

Identifikasi Cuaca Terkait Kejadian Banjir dan Tanah Longsor di Ambon

Pemerintah mempunyai otoritas untuk menetapkan awal puasa dan hari raya umat islam, mengadakan sidang itsbat setiap tahunnya. Hal ini sangat perlu dilakukan, mengingat adanya perbedaan di masyarakat dalam memahami dan menentukan awal bulan qamariyah. Namun demikian pemerintah tidak dapat memaksakan keputusanya untuk dilaksanakan secara menyeluruh oleh masyarakat. Banyak pro dan kontra terhadap sidang itsbat yang diadakan oleh pemerintah. Ada yang menilai bahwa sidang istbat hanyalah seremonial atau tidak ada urgensinya, meski pemerintah sudah menetapkan awal bulan, namun kenyataanya masyarkat tetap menjalankan sesuai dengan keyakinan masing-masing. Keyakinan seseorang tidak dapat dipertentangkan meski itu dengan ulasan teori ilmiah. Setiap ormas islam memiliki kriteria tersendiri dan mempunyai pengikut yang selalu melaksanakan ketetapan ormas tersebut. Persatuan dan keseragaman awal puasa dan hari raya tidak akan terwujud jika hanya pemerintah saja yang mengupayakan. Maka perlulah setiap ormas islam juga menghilangkan ego demi terwujudnya satu keputusan bersama. Kriteria yang ditetapkan setiap ormas merupakan hasil ijtihad yang dapat diubah seiring perkembangan teknologi.

  • 20 Jul 2017, 11:12:19 WIB
  • 5.1 SR
  • 10 Km
  • 9.23 LS - 110.41 BT
  • 20 Jul 2017, 15:29:58 WIB
  • 3 SR
  • 10 Km
  • 0.77 LS 100.74 BT
  • Pusat gempa berada di darat 9 km TimurLaut Solok
  • Dirasakan (Skala MMI) : I-II Aro Suka Solok,
  • Selengkapnya →

Siaran Pers & Info Aktual