Analisis Kualitas Udara Jakarta (01-30 Juni 2017)

  • 04 Agu 2017
  • Sub Bidang Informasi Polusi Udara (IPU) (BMKG)

Terjadinya perbedaan kondisi udara udara Jakarta yang bisa dilihat secara visual dengan mudah oleh masyarakat umum pada waktu pra, saat dan pasca libur Hari Raya Idul Fitri 1438 H. Kondisi cuaca (hujan, kelembaban udara, keberadaan lapisan inversi, arah dan kecepatan angin) pada kurun waktu tersebut yang mempengaruhi kualitas udara saat itu.

Artikel Lainnya

Terdapat bentangan awan Cumulonimbus yang cukup luas, mulai dari Kota Singkawang hingga Kab. Kayong Utara (termasuk perairan di sebelah baratnya) pada Tanggal 09 Agustus 2017 pukul 20.00 - 23.00 WIB yang dicurigai sebagai Sistem Konvektif Skala Meso/Mesoscale Convective System. Curah hujan 24 jam yang terukur di Stasiun Klimatologi Mempawah yaitu sebesar 54.7 mm, termasuk dalam kategori lebat. Kecepatan angin maksimum yang tercatat di Stasiun Klimatologi Mempawah sebesar 29 Km/jam.

Hujan yang terjadi disebabkan karena adanya pumpunan/pertemuan angin (konvergensi) di wilayah utara Papua dan didukung oleh kondisi suhu permukaan laut yang cukup hangat di sekitar Papua. Hal ini menyebabkan terjadi hujan dengan kategori hujan lebat-sangat lebat di seluruh wilayah Kota dan Kabupaten Jayapura.

Secara analisis global, hujan sedang yang terjadi di wilayah kota Nabire dan sekitarnya dipengaruhi OLR, Indeks ENSO serta kondisi SST yang cukup hangat. Adanya pola Low (daerah tekanan rendah), pola konvergensi & pola shearline (belokan angin) di sekitar wilayah Nabire yang menyebabkan terjadinya pembentukan awan - awan konvektif penghasil hujan. Kelembaban relatif (RH) pada lapisan 850, 700, 500 & 200 mb bernilai 70 - 100%. Hal ini menunjukkan bahwa pada saat kejadian hujan sedang kondisi udara basah hingga lapisan 200 mb, sangat berpotensi untuk perbentukan awan-awan konvektif diatas wilayah Nabire Dari klasifikasi jenis awan diketahui awan yang terbentuk adalah awan Cumulonimbus (Cb) yang dapat diketahui berdasarkan suhu puncak awan pada counter line satelit Himawari 8 EH yaitu (-75) s/d (-80) 0C yang berpotensi menimbulkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. Kondisi atmosfer yang labil.

Bencana angin puting beliung kembali terjadi di Kabupaten Bulukumba, Kamis (13/7/2017). Kali ini 10 rumah yang berada di Desa Topanda Kecamatan Rilau Ale, Bulukumba, disapu angin sekitar pukul 13.20 Wita.

Secara analisis global, hujan lebat yang terjadi di wilayah kota Nabire dan sekitarnya dipengaruhi OLR,Indeks ENSO serta kondisi SST yang cukup hangat. Adanya pola Eddy (sirkulasi daerah tertutup), pola konvergensi & pola shearline (belokan angin) di sekitar wilayah Nabire yang menyebabkan terjadinya pembentukan awan–awan konvektif penghasil hujan. Kelembaban relatif (RH) pada lapisan 850, 700, 500 & 200 mb bernilai 50-90%. Hal ini menunjukkan bahwa pada saat kejadian hujan lebat kondisi udara basah hingga lapisan 200 mb, sangat berpotensi untuk perbentukan awan-awan konvektif diatas wilayah Nabire Dari klasifikasi jenis awan diketahui awan yang terbentuk adalah awan Cumulonimbus (Cb) yang dapat diketahui berdasarkan suhu puncak awan pada counter line satelit Himawari 8 EH yaitu (-75) s/d (-80) 0C yang berpotensi menimbulkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. Kondisi atmosfer yang labil.

Secara analisis global, hujan lebat dua hari berturut-turut yang terjadi di wilayah kota Nabire dan sekitarnya dipengaruhi OLR, Indeks ENSO serta kondisi SST yang cukup hangat. Terdapat pola gangguan cuaca yakni 2 (dua) daerah tekanan rendah 1010 hpa (Low Pressure). Hal tersebut menandakan bahwa kondisi yang mendukung aktifnya pergerakan massa udara dari wilayah Indonesia bagian selatan menuju wilayah Indonesia bagian utara Adanya pola Eddy (sirkulasi daerah tertutup) di sebelah timur perairan Papua Nugini, pola konvergensi & pola shearline (belokan angin) di sekitar wilayah Nabire yang menyebabkan terjadinya pembentukan awan-awan konvektif penghasil hujan. Kelembaban relatif (RH) pada lapisan 850, 700, 500 & 200 mb bernilai 60-100%. Hal ini menunjukkan bahwa pada saat kejadian hujan lebat kondisi udara basah hingga lapisan 200 mb, sangat berpotensi untuk perbentukan awan-awan konvektif diatas wilayah Nabire Dari klasifikasi jenis awan diketahui awan yang terbentuk adalah awan Cumulonimbus (Cb) yang dapat diketahui berdasarkan suhu puncak awan pada counter line satelit Himawari 8 EH yaitu (-75) s/d (-80) derajat Celcius yang berpotensi menimbulkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.

Penelitian tentang perubahan nilai medan magnet bumi terkait dengan aktifitas stress pada mantel bumi bagian atas telah lama dilakukan, dan muncul istilah Tectonomagnetism ( Nagata, 1969). Sedangkan perubahan medan magnet bumi yang berhubungan dengan kejadian gempabumi adalah Seismomagnetic ( Stacey, 1963). Proses tektonik stress berhubungan dengan tiga jenis efek 1) Dilatancy (Scholz, 1973) 2) Electrokinetic 3) Piezomagnetic (Stacey,1972).

Berdasarkan pengukuran curah hujan yang dilakukan di Stasiun klimatologi Jembrana-Bali, dapat dilaporkan telah terjadi hujan ekstrim (lebih dari 100 mm/hari) pada Senin 26 Juni 2017. Hujan mulai terjadi sekitar pukul 13.00 WITA dan semakin meluas hingga pukul 02.00 WITA dini hari, dengan puncak hujan sekitar pukul 18.00 hingga 21.00 WITA. Dalam kurun waktu 12 jam, curah hujan tertakar sebanyak 104.2 Liter di alat penakar hujan Stasiun Klimatologi Jembrana. Informasi yang dihimpun dari media masa (27 Juni 2017) menyebutkan Hujan yang mengguyur Kota Negara sejak sore Hingga malam hari tersebut mengakibatkan sejumlah titik banjir. Titik terparah yang mengalami banjir adalah pemukiman warga di dekat Sungai Kaliakah, Desa Kaliakah, Kecamatan Negara (Gambar 1). Ketinggian air hingga merendam tempat tidur dan perabot warga. Dari informasi terdapat ratusan rumah yang terkena banjir. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini

Meskipun Indonesia secara langsung tidak dilintasi siklon tropis, tapi pengaruhnya tetap ada seperti hujan lebat yangdsertai angin kencang dan gelombang tinggi. Hal lain yang hampir dilupakan para pakar cuaca yaitu bagaimana karakteristik unsur cuaca secara vertical sebelum, saat dan sesudah siklon tropis tumbuh disekitarnya. Salah satu siklon tropi yang terbentuk di area pemantauan TCWC Jakarta yaitu Siklon Tropis Bakung yang terjadi pada bulan Desember 2014. Kajian ini membahas dampak siklon tropis Bakung terhadap profil vertikal suhu, Lifting index, Kindex terkait dengan peluang terjadinya thunderstorm dan wind shear vertical. Sampel data diambil dari stasiun yang dekat dengan posisi siklon tropis, yakni Cengkareng, Padang, Pangkal Pinang, Bengkulu, Palembang, Lampung, dan Serang. Analisa yang dilakukan yakni analisa terhadap Lapse rate, Indeks peluang terjadinya Thunderstorm, Vertical Wind Shear dan analisa Hodograf. Dari hasil analisa diperoleh bahwa siklon tropis Bakung berlangsung selama tiga hari dengan pergerakan kearah Barat- Barat daya. Keadaan lapse rate di Padang, Cengkareng dan Pangkal Pinang umumnya berkisar antara 5.0-5.5 derajat Celsius/km lebih rendah dari nlia standarnya 9,8 derajat Celsius/km. indeks Lifting dan K indek umumnya sebelum, saat dan sesduah ada siklon menunjukan peluang trejadinya thunderstorm cukup tinggi, analisa hodograph di staasiun meteorologi penelitian menunjukan stabilitas udara yang labil, data hasil analisa windshear umumnya menunjukan intensitas lemah.

  • 19 Agu 2017, 04:00:49 WIB
  • 5.2 SR
  • 10 Km
  • 6.25 LS - 128.13 BT
  • 18 Agu 2017, 07:12:13 WIB
  • 4 SR
  • 30 Km
  • 5.34 LS 123.52 BT
  • Pusat gempa berada di darat 3 km barat daya Wanci
  • Dirasakan (Skala MMI) : II-III Wanci, II Kaledupa,
  • Selengkapnya →

Siaran Pers & Info Aktual