Analisis Kejadian Tanah Longsor di Kab. Deli Serdang, Sumatera Utara (15 September 2017)

  • 18 Sep 2017
  • SITI CHODIJAH, SP, M.I.Kom (PMG Muda Sta. Klim. Kelas I Deli Serdang BMKG)
  • NIKITA PUSPARINI, A.Md, M.Si (PMG Pelaksana Lanjutan Sta. Klim. Kelas I Deli Serdang BMKG)
  • CARLES ALEXANDER TARI, S.TP (Kepala Seksi Data dan Informasi Sta. Klim. Kelas I Deli Serdang BMKG)

Berdasarkan laporan dari Kepala Desa Kecamatan Biru-biru, Kabupaten Deli Serdang, telah terjadi bencana tanah longsor yang diduga akibat tingginya intensitas curah hujan yang berlangsung selama sekitar 6 jam. Analisis dilakukan pada beberapa pos hujan di Kab. Deli Serdang yang letaknya berada di sekitar lokasi kejadian longsor, yaitu Pos Hujan Biru-biru, Sibolangit, dan Pancur Batu.


Klik tautan ini jika PDF di atas tidak muncul.

Artikel Lainnya

Curah hujan yang turun sejak beberapa hari terakhir ini, membuat sejumlah lokasi di empat wilayah kecamatan didaerah ini makin parah akibat terkena dampak banjir. Hingga saat ini, ketinggian banjir mencapai 4 meter, membuat mayoritas rumah panggung milik warga Terendam banjir akibat luapan dua danau terbesar di Sulsel, yaitu, danau Sidenreng, Sidrap dan danau Tempe, Kabupaten Wajo (http://www.inikata.com/banjir-di-sidrap-makin-parah-dan-meluas-hingga-4-kecamatan/). Banjir terjadi di Desa Mojong, Kecamatan Watang Sidenreng, Lawatedong, Kecamatan Maritenggae, Teteaji, Kecamatan Tellu Limpoe, dan Wette e Kecamatan Panca Lautang.Banjir yang melanda sejumlah kawasan di Sidrap ini merupakan terparah dalam dua bulan terakhir. Keempat wilayah ini memang merupakan langganan banjir setiap musim hujan tiba. Topografi keempat kawasan yang berada di pesisir Danau Sidenreng tersebut, membuat wilayah ini sering dilanda banjir, bahkan setiap tahun banjir di daerah ini sering terjadi (http://news.rakyatku.com/read/107899/2018/07/01/banjir-rendam-4-kecamatan-di-sidrap).

Indonesia Tsunami Early Warning System (INA-TEW)S yang telah resmi beroperasi sejak 11 November 2018 telah mengalami banyak pencapaian dalam upaya memberikan info dini dalam rangka mitigasi gempa dan tsunami. Pusat Gempa Nasional (PGN) bersama 10 Pusat Gempa Regional (PGR) dilengkapi dengan lebih dari 165 seismometer broadband untuk determinasi parameter gempa, 220 lebih akselerograf untuk memperkirakan dampak gempa, dan Jaringan pengamatan muka air laut. Jaringan yang telah terintegrasi secara real time tersebut mampu menghasilkan info dini gempa dan mulai disebarluaskan mulai menit ke-5 bahkan bisa lebih cepat lagi setelah gempa terjadi, melalui sistim diseminasi info gempa menggunakan semua moda komunikasi. Jika gempa terindikasi tsunami maka ada pemutakhiran tingkat ancaman tsunami 15 detik setelahnya. Sesuai SOP, PGN merilis info gempa dengan Magnitudo di atas 5 dan peringatan dini, sedangakan PGR merilis info gempa magnitudo kurang dari 5 pada daerah yang menjadi wewenangnya. Info gempa PGR dihasilkan melalui determinasi oleh PGR dan stasiun geofisika yang ada di wilayah regional tersebut. Satu kejadian gempa akan ditentukan oleh beberapa stasiun geofisika, kemudian PGR akan memilih satu hasil terbaik berdasarkan keakuratan dan kepastian prosesnya.

Metode penentuan lokasi hiposenter dapat mengalami kekeliruan yang dipengaruhi oleh ketidaksesuaian dari struktur kecepatan lapisan yang digunakan. Prinsip dasar perhitungan relokasi pada metode Double-Difference adalah membandingkan dua hiposenter yang berdekatan terhadap stasiun pencatat gempabumi, asumsi bahwa jarak kedua hiposenter tersebut harus lebih dekat dibandingkan dengan jarak antara hiposenter tersebut ke stasiun pencatat gempabumi. Hal ini dilakukan agar raypath dan waveform dari kedua hiposenter yang berpasangan dianggap mendekati sama. Perbedaan waktu tempuh dari kedua hiposenter dapat digunakan untuk mengetahui jarak kedua hiposenter ke stasiun pencatat, sehingga kesalahan model kecepatan bawah permukaan lebih kecil.

Analisis Curah Hujan Saat Terjadi Banjir di Kab. Sinjai, Sulawesi Selatan (14 Mei 2018)

Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak pada pertemuan empat lempeng yaitu Lempeng Eurasia, Indo-Australia, Pasifik, dan Laut Filipina (Hall 2002). Pulau Sulawesi termasuk Bagian dari Timur Indonesia, yang tatanan tektoniknya dipengaruhi oleh Lempeng Eurasia yang berada di Baratlaut Pulau Sulawesi, Mikro Filipin di Utara Sulawesi, Lempeng Pasifik di Timurlaut Sulawesi dan Lempeng Indo Australia di Barat Daya Sulawesi. Sesar Palu Koro merupakan sesar utama di Pulau Sulawesi dan tergolong sebagai sesar aktif (Bellier et al. 2001), sesar Palu Koro yang memanjang kurang lebih 240 km dari utara (Kota Palu) ke selatan (Malili) hingga Teluk Bone (Suliyanti et al. 2015). Sesar ini merupakan sesar sinistral aktif dengan kecepatan pergeseran sekitar 25 - 30 mm/tahun (Kaharuddin, Hutagalung, and Nurhamdan 2011). Selain Sesar Palu Koro, terdapat aktivitas penyusupan lempeng tektonik mikro laut Sulawesi hingga kedalaman mencapai 100 km dibawah lengan utara Sulawesi (Santoso dan Soehaimi. A, 2010).

Metode gravitasi merupakan salah satu metode geofisika terapan untuk menentukan benda dan struktur batuan yang terdapat di bawah permukaan bumi berdasarkan perbedaan densitas (?) material penyusunnya. Telah dilakukan penentuan densitas batuan dengan menggunakan metode parasnis dalam pengolahan data gravitasi untuk sebagian daerah Jakarta, Banten dan Jawa Barat yang terdampak akibat gempa bumi Lebak 23 Januari 2018 berdasarkan 11 stasiun pencatat gempa bumi. Kemudian dikorelasikan dengan nilai intensitas pada saat gempa bumi Lebak. Nilai rata-rata densitas (?) yang didapat yaitu 2.4308 gr/cm3 yang merupakan batuan dengan sebagian besar komposisi merupakan sedimen sehingga ditemukan korelasi yang cukup kuat dengan tingkat intensitas yang relatif tinggi.

Tangerang Selatan adalah kota yang terletak di provinsi jawa barat di indonesia, Tangerang Selatan mengalami iklim musim hujan tropis (Am) menurut Klasifikasi iklim Koppen. Terjadinya hujan menyebabkan kenaikan pada permukaan air tanah yang berdampak pada berubah nya nilai gaya berat. Nilai anomali gaya berat ini dapat diketahui dengan pendekatan perhitungan empiris presipitasi dan anomali gaya berat. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data curah hujan yang didapatkan dari Stasiun Klimatologi Pondok Betung, Tangerang Selatan pada tahun 2012 sampai 2017. Dari hasil perhitungan, di wilayah Tangerang Selatan mengalami perubahan nilai gaya berat sebesar 9.56 - 17.14 uGal pada puncak musim penghujan dan 0.32 - 4.69 uGal pada puncak musim kemarau.

Pulau Sulaswei merupakan pulau yang seismisitasnya sebagian besar dipengaruhi oleh sesar Palu Koro dan sesar Matano. Gravity merupakan salah satu metode geofisika non-destruktif yang mengukur perbedaan kontras densitas bawah permukaan untuk interpretasi struktur geologi bawah permukaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi kedalaman sedimen dan batas diskontinuitas wilayah sesar Palu Koro menggunakan metode power spectral density.Data yang digunakan adalah data anomali gravity dari TOPEX disekitaran wilayah sesar Palu Koro. Metode analisis power spectral density merupakan metode yang menganalisis fenomena osilator harmonic di alam. Prinsip analisis spectral ini mengacu pada transformasi deret fourier, mengubah domaian waktu menjadi domain frekuensi. Dari hasil pengolahan diperoleh jika batuan sekitar sesar Palu Koro merupakan batuan Tersier dengan initial body density sebesar 2,4 gr/cm3 . Kedalaman diskontinuitas dangkal berkisar antara 595,8 m hiingga 2.3889 km dengan rata-rata kedalaman sebesar 1.4570 km. Sedangkan Kedalaman diskontinuitas dalam berkisar antara 13.0536 km hingga 76.204 km dengan rata-rata kedalaman sebesar 36.0987 km.

Telah terjadi hujan dengan intensitas lebat - sangat lebat di seluruh wilayah Kabupaten Kapuas Hulu pada tanggal 27 Mei 2018, sementara pada tanggal 28 Mei 2018 beberapa wilayah mengalami hujan dengan intensitas sedang - lebat. Sebelumnya pada tanggal 23 - 25 Mei 2018, telah terjadi hujan dengan intensitas lebat - sangat lebat di seluruh wilayah Kab. Kapuas Hulu. Faktor skala global yang dominan pada kejadian banjir ini adalah suhu muka air laut yang cukup hangat yang bisa berkontribusi dalam proses pembentukan awan-awan di wilayah Kalbar. Faktor skala synoptik yang ikut mendukung antara lain terbentuknya daerah konvergensi dan sirkulasi siklonik hal ini berpotensi memicu pertumbuhan awan konvektif yang dapat menimbulkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di beberapa wilayah Kalimantan Barat.

Banjir merendam sejumlah rumah di Kecamatan Baranti, Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan tiga desa yang terkena dampak banjir tersebut, yakni Desa Passeno, Tonronge, dan Simpo. Sumber (http://makassar.tribunnews.com/2018/05/14/banjir-landa-3-desa-di-baranti-sidrapratusan-rumah-terendam). Lokasi Banjir berada pada bagian Timur Laut Pegunungan Bawakaraeng. Saat ini BMKG telah memiliki beberapa peralatan untuk mengukur curah hujan pada wilayah Kabupaten Sidrap yang digunakan untuk monitoring terjadinya curah hujan besar akibat cuaca ekstream. Adapun lokasi banjir dan lokasi sebaran alat pengukur curah hujan (pos hujan) di ilustrasikan pada gambar dibawah ini.

  • 15 Jul 2018, 11:09:25 WIB
  • 5.2 SR
  • 106 Km
  • 3.35 LS - 140.04 BT
  • 15 Jul 2018, 21:03:57 WIB
  • 4.5
  • 134 Km
  • 8.71 LS 119.48 BT
  • Pusat gempa berada di laut 65 km barat daya Manggarai Barat
  • Dirasakan (Skala MMI) : II Bima,
  • Selengkapnya →

Siaran Pers & Info Aktual