Informasi Indeks Ekstrem Perubahan Iklim

Kejadian iklim ekstrem merupakan salah satu dampak perubahan iklim yang dapat juga mengganggu kegiatan diberbagai sektor. Nilai-nilai ekstrem yang diukur dalam perubahan iklim berdasar IPCC (2007) adalah terdiri dari 81 indeks. Dari 81 indeks tersebut tidak semua diperlukan di wilayah Indonesia, dan Pusat Perubahan Iklim dan Kualitas Udara (PusPIKU), Deputi Bidang Klimatologi BMKG, sesuai tugas pokok dan fungsinya berkewajiban menyediakan informasi perubahan iklim bagi publik dan beberapa sektor lainnya, yang biasanya disebut climate sensitive sectors (sektor-sektor yang sensitif terhadap iklim). Ketersediaan informasi perubahan iklim yang merupakan produk-produk dari PusPIKU tersebut didasarkan atas hasil analisis dari data pengamatan yang dilakukan oleh sejumlah Stasiun BMKG. Dari 81 indeks tersebut, BMKG sudah dapat menyediakan beberapa produk utama meliputi produk-produk yang ditampilkan dalam bentuk peta berbasis website.

Data berikut ini berasal dari data observasi yang dilaporkan oleh sejumlah UPT (Unit Pelaksana Teknis) BMKG daerah menggunakan CMSS (Computerized Message Switching System) dan GTS (Global Telecommunication System). Pengamatan observasi yang dilakukan secara rutin di seluruh UPT BMKG daerah dilaporkan ke Pusat Database BMKG dan dunia internasional (WMO) setiap tiga jam yang telah ditentukan yaitu jam 00, 03, 06, 09, 12, 15, 18, 21 UTC dalam format synoptik yang merupakan standar internasional sesuai Manual On Code WMO tentang Penyandian Synop dan Peraturan KBMG No. SK.38/KT.104/KB/BMG-2006 tentang Tata Cara Tetap Pelaksanaan Pengamatan, Penyandian, Pelaporan dan Pengarsipan Data Meteorologi Permukaan.

Data observasi dalam kode synop yang terkumpul di Pusat Database BMKG kemudian dikelompokan ke dalam data sesuai variable iklim yang ada dan kemudian diolah oleh Pusat Perubahan Iklim Dan Kualitas Udara menjadi informasi-informasi nilai dan frekuensi ekstrem sesuai acuan indeks-indeks yang dikeluarkan ETCCDI (Expert Team on Climate Change Detection Indices) setiap tahun dan kemudian diolah secara otomatis sehingga dapat ditampilkan kedalam bentuk peta melalui web. Informasi yang berbentuk peta ini sudah dapat diakses dalam redaksi buku Perubahan Iklim Dan Kualitas Udara yang diterbitkan dalam satu tahun dua kali oleh Pusat Perubahan iklim dan Kualitas Udara.

Semua data dibuat analisisnya dari beberapa parameter cuaca/iklim sebagai bahan informasi perubahan iklim di Indonesia. Analisis yang disajikan dalam bentuk spasial meliputi terjadinya curah hujan ekstrem dengan kriteria curah hujan di atas 50 mm dalam satu hari pada tahun 2012. Untuk meninjau bagaimana pengaruh banyaknya hari hujan terhadap iklim atau perubahan iklim, maka dianalisis pula kejadian frekuensi jumlah hari hujan berturut-turut terpanjang (Wet Spell) dan frekuensi jumlah hari tidak hujan berturut-turut terpanjang (Dry Spell) di wilayah Indonesia selama periode setahun tersebut. Selain curah hujan dan hari hujan dalam analisis perubahan iklim ini, dipetakan juga suhu dalam periode tahun 2012 dan rentang periode tahun 2003-2012.

Berikut adalah contoh nilai indeks iklim ekstrem dalam bentuk peta:

Indeks R50


Indeks Rd


Indeks RMax


Indeks RMaxAbs


Indeks TMax


Indeks TMaxAbs


Indeks TMinAbs


Indeks Wetspell