Analisis Cuaca Terkait Kejadian Banjir di Wilayah Kab. Aceh Utara (3 Januari 2018)

  • 05 Jan 2018
  • SYAHRIR (PMG Pelaksana Lanjutan Sta. Met. Kelas I Sultan Iskandar Muda - Banda Aceh BMKG)

Banjir kembali merendam 30 desa di Kecamatan Pirak Timu dan Matangkuli, Kabupaten Aceh Utara, Rabu (3/1/2018). Banjir disebabkan meluapnya air Sungai Keureuto akibat hujan deras.

Artikel Lainnya

Wilayah Nusa Tenggara Timur secara geografis berbatasan dengan Laut Flores di bagian Utara, dan Samudera Indonesia dan Benua Australia bagian Selatan. Wilayah Nusa Tenggara Timur dan sekitarnya merupakan bagian dari kerangka sistem tektonik Indonesia. Daerah ini termasuk dalam jalur Pegunungan Mediteranian (TransAsiatic) dan berada pada zona pertemuan lempeng. Pertemuan kedua lempeng ini bersifat konvergen, dimana keduanya bertumbukan dan salah satunya, yaitu lempeng Indo-Australia, menyusup ke dalam lempeng Eurasia. Batas pertemuan lempeng ini ditandai dengan adanya palung lautan (oceanic Trough), terbukti dengan ditemukanya palung disebelah selatan Pulau Timor yang dikenal dengan Timor through. Nusa Tenggara Timur secara phisiografi kepulauan ini dibatasi oleh bagian barat Nusa Tenggara barat, di bagian timur oleh Busur Banda dan di bagian utara oleh Laut Flores dan di bagian selatan oleh Samudera Hindia. Secara geologi kepulauan ini terletak di pusat Busur Banda, yang terbentuk oleh rangkaian kepulauan gunung api muda. Secara tektonik, rangkaian gunung ini akibat subduksi lempeng indo-australia terhadap busur banda.

Telah terjadi hujan intensitas lebat di hampir semua wilayah Kalbar pada tanggal 09-13 Januari 2018. Hujan Sangat tinggi yaitu di Kab. Sambas pada tanggal 11 Januari 2018 sebesar 212 mm memicu terjadinya genangan / banjir di Kab. Sambas. Hujan sedang-lebat selama 4 hari berturut-turut mulai tanggal 9-13 Januari 2018 di Kota Pontianak dan Kubu Raya juga memicu terjadinya genangan air.

Matahari adalah bola raksasa yang terbentuk dari gas hidrogen dan helium. Matahari termasuk bintang berwarna putih yang berperan sebagai pusat tata surya. Beragam aktivitas di permukaannya telah dipelajari secara mendalam dan terinci. Ada aktivitas di permukaan matahari yang kadang menguat dan kadang melemah. Kombinasi aktivitas radiasi dan aktifitas magnetnya diduga berperan besar pada siklus aktivitas matahari yang periodik terutama periode 11 tahunan. Aktivitas matahari adalah kondisi dinamik di matahari akibat perubahan medan magnetiknya yang ditunjukan dengan ledakan matahari(flare), semburan gas matahari ( filamen), lontaran materi korona(CME), bintik matahari (sunspot, dan lubang korona (coronal hole).

Provinsi Aceh dipengaruhi oleh aktifitas tektonik yang berasal dari pergerakan lempeng di zona subduksi yang terletak sekitar 250 km di sebelah barat daya Pulau Sumatera, hal tersebut menjadi pembangkit gempabumi yang sering terjadi. Kejadian gempabumi di Provinsi Aceh sangat bervariasi pada tiap segmen daerah zona subduksi dan segmen sesar wilayah aceh, sehingga dapat diasosiasikan terhadap jumlah frekuensi kejadian gempabumi dengan tren aktifitas di zona seismotektonik wilayah tersebut. Hal ini dibuktikan dengan adanya akumulasi stress yang berbeda-beda tingginya di tiap lokasi. Kajian ini menganalisis sederhana daerah-daerah yang terjadi kegempaan yang dirasakan dari data katalog gempabumi SeisComP3,JISVIEW, TDS dan SPS-3 di Stasiun Geofisika Mata Ie Banda Aceh, serta data pembanding dari laman situs Inatews BMKG periode 01 Januari 2016 sampai dengan 15 Desember 2017 berjumlah 43 kejadian dengan batasan wilayah meliputi 2 derajat - 6.5 derajat LU dan 93 derajat - 98.5 derajat BT.

Letak geografi Kab.Lampung Utara yang berada di sebelah Utara Prov.Lampung berbatasan dengan sebelah Utara Kab.Way Kanan, sebelah selatan Kab.Lampung Tengah, sebelah Timur Kab.Tubabar, dan sebelah Barat Kab. Lampung Barat, dan topografinya terbagi menjadi dua bagian, sebelah timur dataran rendah dan sebelah barat daerah perbukitan (bukit barisan). Sedangkan kondisi cuacanya dipengaruhi oleh monsun. Secara Klimatologi di wilayah Lampung bulan Desember dan Januari merupakan puncak musim penghujan. Berdasarkan informasi media www.teraslampung.com, pada tanggal 29 Desember 2017 telah terjadi cuaca ekstrim berupa hujan dengan intensitas lebat yang mengakibatkan ratusan rumah di Kab.Lampung Utara terendam banjir akibat diguyur hujan deras sejak malam dini hari hingga pagi, sore dan malam hari. Banjir juga menyebabkan dua pohon tumbang sehingga menimpa rumah warga dan merendam 6 unit mobil dan 1 unit sepeda motor. Berdasarkan data yang dimiliki BPBD Lampung Utara, korban banjir terbanyak terjadi di kelurahan Cempedak 75 unit rumah, Kelurahan Tanjung Aman 49 unit rumah, Kelurahan Tanjung Harapan 15 unit rumah 1 sekolah, dan Kelurahan Kelapa Tujuh 19 unit rumah. Banjir juga merendam sawah, Kolam pemancingan ikan, jalan lintas tengah Sumatera. Dari data curah hujan Stasiun Geofisika Kotabumi, curah hujan yang tercatat pada tanggal 29 Desember 2017 jam 07.00 WIB 157 mm/hari dan termasuk kategori Ekstrim. Pantauan citra satelit menunjukan konsentrasi awan di wilayah Lampung Utara sangat kuat, suhu puncak awan menunjukan antara -60 derajat C s.d -70,5 derajat C, ini berarti termasuk jenis awan Cb yang sangat kuat dan menjulang tinggi. Kemudina dari analisis Sounding yang diperoleh dari cross section didapat bahwa kondisi labilitas wilayah Ka.Lampung Utara dan sekitarnya sangat labil dan RH lapisan dari 850 s.d 500 mb sangat lebab berkisar antara 70 s.d 85%, ini berarti asupan energi untuk pembentukan awan Cb sangat mendukung. Kemudian dari analisa angin 3000 Feet, terbentuk adanya Pola Konvergensi pada tanggal 28 Desember 2017 jam 12 UTC di atas wilayah Lampung bagian Utara dan Pola Shearlines pada tanggal 29 Desember 2017 jam 00 UTC, ini berarti pengaruh gangguan cuaca Skala Meso sangat mendukung dalam pembentukan cuaca ekstrim. Dapat disimpulkan bahwa curah hujan yang tinggi dan berdurasi lama disebabkan kuatnya labilitas udara di atas wilayah Lampung Utara dan diperkuat lagi gangguan cuaca skala meso.

Sejak tahun 2010 telah dikembangkan 12 unit intensitymeter rekayasa yang terpasang di beberapa UPT daerah (stasiun MKG). Intensitymeter Rekayasa sendiri adalah alat yang dibuat oleh teknisi Bidang Instrumentasi Kalibrasi dan Rekayasa Peralatan Geofisika BMKG. Alat tersebut dibuat untuk mampu mengukur intensitas gempabumi dan menyatakan dalam skala intensitas. Adapun tujuan dari perekayasaan ini adalah untuk pemberdayaan kemampuan teknisi BMKG dalam penguasaan teknologi.

Dari sejumlah bencana banjir dan longsor yang terjadi, dapat diketahui bahwa penyebab utama adalah faktor meteorologis unsur curah hujan terutama intensitas hujan, distribusi hujan, dan durasi hujan. Faktor lain penyebab banjir adalah sifat-sifat fisis dari permukaan tanah, kandungan air tanah, dan permukaan tanah(tanah gundul, tanah yang ditumbuhi tanaman-tanaman dan lain-lain). Kondisi Iklim di wilayah Lampung bagian barat sangat berbeda dengan kabupaten-kabupaten lainnya yang ada di wilayah Provinsi Lampung karena Topografi Lampung bagian Barat memiliki khas tersendiri yaitu diapit oleh Bukit Barisan disebelah Timur dan Samudra Hindia sebelah Barat. Oleh karenanya iklim wilayah Lampung bagian barat dan pesisir bersifat lokal dan sangat mudah berubah dan memiliki potensi terjadinya cuaca ekstrim. Berdasarkan informasi media www.lampost.co dan www.tribunnews.com lihat Lampiran III hal.10. Pada tanggal 26 Nopember 2017 telah terjadi cuaca ekstrim berupa hujan dengan intensitas lebat yang mengakibatkan jalur lintas liwa-krui dikabarkan terputus dan satu rumah hanyut tersapu banjir bandang setelah hujan lebat dan banjir bandang pada minggu, 26 Nopember 2017, banjir terjadi di Pekon Kubu Perahu, Liwa Lampung Barat. Kemudian Banjir bandang juga terjadi di aliran Way(sungai) Laay, Kec.Karya Penggawa Kab.Pesisir Barat, sekitar pukul 16.00 WIB, luapan aliran sungai Way Laay merendam areal persawahan milik warga setempat dan merendam jalan akses ke beberapa Desa. Hasil analisis citra satelit dengan aplikasi Soft.SATAID menunjukan terlihat suhu puncak awan Cb mencapai rata-rata -60 s.d -72,5 dan suhu yang sangat dingin ini merupakan kreteria jenis awan Cb yang sangat kuat dan menjulang tinggi, konsentrasi awan di sebagian wilayah Lampung bagian Barat sangat kuat, dan dari data angin 3000 feet, pengaruh tekanan rendah (1006 s.d 1004 MB) di sebelah Selatan Jawa menyebabkan terbentuknya Trough diatas wialayah Lampung bagian barat sehingga memengaruhi terbentuk pertemuan massa udara di atas wilayah Lampung bagian barat dan mengakibatkan tumbuhnya awan-awan konvektif kuat yang menghasilkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat dan berdurasi lama.

Pusat Gempa Regional IV yang ada di Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Wilayah IV Makassar merupakan salah satu pusat gempa Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika yang bertugas untuk menganalisa kejadiankejadian gempa yang terjadi di wilayah Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, sebagian wilayah Sulawesi Tengah, Teluk Tomini, Selat Makassar, Kalimantan Timur, dan Laut Flores.

Gempabumi Aceh yang terjadi 13 tahun lalu, tepatnya pada tanggal 26 Desember 2004 pada 07:58:53 WIB dengan episentrum di lepas pesisir barat Sumatera yang berada diantara pulau Simeuleu dan daratan Sumatera dengan kekuatan 9,1 - 9,3 SR dimana kekuatan gempabumi ini setara dengan 1.500 kali bom atom Hiroshima, gempabumi ini merupakan gempabumi terbesar ketiga yang pernah tercatat di seismograf dan mempunyai durasi terlama sepanjang sejarah, sekitar 8 sampai 10 menit. Dan gempabumi aceh tersebut juga menimbulkan bencana tsunami dengan ketinggian mencapai hingga 30 meter, dan menyebabkan sekitar 250.000 korban jiwa tewas akibat bencana tsunami ini. Bencana ini merupakan salah satu bencana yang paling mematikan sepanjang sejarah, Indonesia merupakan negara yang berdampak paling besar yaitu sekitar 200 ribu korban jiwa, diikuti Srilanka sekitar 31 ribu jiwa, India sekitar 10 ribu jiwa dan berdampak ke beberapa negara lain seperti Thailand, Myanmar, Maldives, Malaysia, Somalia, Tanzania, Bangladesh, dan Kenya.

  • 15 Jan 2018, 13:31:51 WIB
  • 5.0 SR
  • 234 Km
  • 0.51 LU - 123.66 BT
  • 23 km BaratLaut BOLAANGMONGONDOWSEL-SULUT
  • tidak berpotensi TSUNAMI
  • Selengkapnya →
  • 15 Jan 2018, 22:39:58 WIB
  • 3.1 SR
  • 10 Km
  • 1.36 LU 99.44 BT
  • Pusat gempa berada di darat 18 km utara Padangsidempuan
  • Dirasakan (Skala MMI) : I-II Aekgodang,
  • Selengkapnya →

Siaran Pers & Info Aktual