Analisis Kejadian Cuaca Ekstrim Tanah Longsor di Wilayah Kota Ambon, Desa Karang Panjang dan Kebun Cengkeh (08 Juni 2017)

  • 11 Jun 2017
  • JENLY FRANSISKA USPESSY, A.Md (PMG Pelaksana Lanjutan Sta. Met. Kelas II Pattimura - Ambon BMKG)

Berdasarkan analisis dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa kejadian tanah longsor yang terjadi di Desa Karang Panjang dan Kebun Cengkeh pada tanggal 08 Juni 2017, diakibatkan oleh adanya shearline/belokan angin disekitar wilayah Maluku sehingga menyebakan pembentukan awan-awan hujan berupa awan Altostratus dan Cumulonimbus disekitar wilayah Pulau Arnbon. Selain itu pun, Pulau Arnbon sedang berada pada musim penghujan sehingga keadaan tanah yang sudah jenuh dan tidak dapat lagi menyerap bahkan menampung air dalam jumlah yang besar.

Artikel Lainnya

Dari pantauan citra radar yang dikeluarkan oleh BMKG Padang pada tanggal 14 dan 15 Februari 2018, kondisi atmosfer Sumatera Barat cukup labil dan kumpulan awan di sekitar Padang dan perairan Sumatera Barat cukup tinggi. Terdapat terdapat transport uap air dari arah perairan ke wilayah pesisir barat Sumatera Barat, termasuk Kota Padang dan sekitarnya. Kumpulan awan tebal tersebut berpotensi mengakibatkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat dan dapat berdampak pada terjadinya gangguan cuaca di sekitarnya.

Sebaran hujan lebat yang terjadi pada tanggal 13 Februari 2018 terjadi di wilayah Kota Jayapura, dengan curah hujan tertinggi tercatat di Stageof Angkasapura sebesar 131 mm dan Pos hujan Polimak 123 mm. Hujan yang terjadi disebabkan karena adanya belokan angin yang biasa disebut dengan shearline di wilayah utara Papua, akibat dari adanya belokan pola angin tersebut dapat memicu pertumbuhan awan konvektif juga didukung oleh kondisi suhu permukaan laut yang cukup hangat di sekitar Papua. Hal ini menyebabkan terjadi hujan dengan kategori hujan lebat sangat lebat di seluruh wilayah Kota dan Kabupaten Jayapura. Citra satelit cuaca menunjukkan adanya awan Cumulonimbus mulai pukul 21.00 WIT hingga pukul 01.00 WIT. Cukup luasnya cakupan awan CB yang terbentuk menunjukkan hujan berlangsung lama dan dalam wilayah yang luas. BBMKG Wilayah V Jayapura telah mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem yang didiseminasikan melalui media sosial (WA dan Telegram) dan Website Balai V Pkl. 21.00 WIT dan Update Peringatan Dini Cuaca Ekstrim Pkl. 23.00 WIT.

Berdasarkan hasil analisis semua unsur cuaca di atas dapat disimpulkan bahwa hujan lebat di wilayah kota Maumere 85,6 mm yang mengakibatkan terjadinya banjir di wilayah Kec.Alok barat Kota Maumere pada tgl 18 Februari 2018 di sebabkan oleh adanya tekanan rendah di Samudera Hindia sebelah selatan Indonesia yang mengakibatkan terjadinya trough dan belokan angin di selatan pulau Flores. Kondisi tersebut menyebabkan petumbuhan awan Cumulunimbus (Cb) dan memberikan peluang hujan berkelanjutan dengan intensitas sedang hingga lebat. Hal ini juga didukung dengan SST yang hangat pada wilayah tersebut.

nformasi media online tanggal 19 Februari 2018 terjadi cuaca ekstrim berupa hujan dengan intensitas lebat yang mengakibatkan Belasan rumah di Dusun Wayareng Desa Mulyoasri Kecamatan Bumiagung Lampung Timur terendam banjir. Selain itu, banjir yang terjadi akibat luapan Sungai Way Areng mengakibatkan puluhan hektar areal persawahan dan kolam ikan ikut terendam. Sungai Wayareng meluap akibat hujan deras yang terjadi mulai pukul 18.00 Wib, Minggu (18/2), Sumber berita www.radarlampung.co.id. Dari data angin 3000 ft, Adanya gangguan cuaca skala regional (Shearline) dalam beberapa hari sejak tgl 16-18 Februari 2018 telah memicu terjadinya hujan dengan intensitas ringan hingga lebat di wilayah Kec.Bumi Agung Kab.Lampunt Timur. Kemudian yang menjadi puncaknya Tanggal 18 saat sungai Way Areng yang tidak mampu lagi menerima curah hujan karena Intensitas hujan yang lebat dan berdurasi lama, sehingga meluap dan menyebabkan beberapa rumah, sawah yang berada tidak jauh dari sungai terendam banjir. Dari pantauan citra satelit menunjukan konsentrasi awan di Wilayah Lampung Timur sangat kuat, suhu puncak awan menunjukan antara -70 derajat C s.d -75,1 derajat C termasuk jenis awan Cb yang sangat kuat dan menjulang tinggi. Analisis sounding yang diperoleh dari cross section didapat bahwa kondisi labilitas wilayah Kabupaten Lampung Utara dan sekitarnya sangat labil dan RH lapisan dari 850 s.d 500 mb sangat lembab berkisar antara 80 s.d 90%, artinya asupan energi untuk pembentukan awan Cb sangat mendukung.

Kelembaban minimum yang mencapai 25 persen di wilayah Toraja sangat dipengaruhi faktor global yaitu ENSO -0.88 (Lanina lemah) dan MJO lemah di kuadran 6 serta anomali Suhu muka laut Netral yang berdampak pada minimnya pasokan uap air untuk pertumbuhan awan. Tropical Cyclon yang terjadi di Samudera Hindia berdampak terhadap tingginya kecepatan angin di Toraja yang menuju ke pusat tekanan rendah di pusat siklon, sehingga belokan angin, konvergensi (daerah pumpunan angin) dan adveksi (aliran massa udara horisontal) minim terjadi di Toraja. Wilayah Toraja sangat tergantung dari proses adveksi atau aliran massa udara horisontal yang membawa uap air dari daerah pantai/lautan ke wilayah Toraja, karena wilayah Toraja yang sebagian besar wilayahnya merupakan daratan dan dataran tinggi sehingga sangat minim terjadinya proses Konveksi sebagai syarat pembentukan awan.

"Apakah tingkat goncangan gempabumi akibat pergeseran lempeng sangat variatif?". Pertanyaan ini seringkali muncul dan diperdebatkan oleh khayalak ramai, seperti buah bibir yang tak kunjung padam kala sebuah gempa besar melanda suatu wilayah. "... dan apakah sama goncangannya tiap tahun?". Untuk menjawab hal tersebut, kami mencoba membuka cara berfikir masyarakat agar slogan informasi yang benar, akurat dan tepat adalah bukan suatu ketidakpastian belaka. Data yang diuji ialah data kejadian gempabumi yang berhasil dianalis terlokalisasi oleh teman-teman yang bertugas di BMKG Stasiun Geofisika Klas I Palu sejak tahun 2016 hingga 2017.

Kejadian hujan di wilayah galela yang mencapai 72 mm terjadi pada malam hari disebabkan oleh adanya penumpukan massa udara di wilayah utara pulau Halmahera akibat dari adanya pola tekanan udara rendah di sebelah timur laut pulau Halmahera dan diperkuat oleh adanya belokan pola angina di utara pulau Halmahera yang memicu pertumbuhan awan konvektif. Suhu muka laut yang hangat memiliki pengaruh besar terhadap banyaknya suplai uap air yang tersedia di udara sehingga memicu semakin giat pertumbuhan awan, terutama awan konvektif. Dari citra satelit, diketahui bahwa hujan yang terjadi akibat dari adanya awan konvektif (Cumulonimbus) yang tumbuh dengan suhu puncak awan mencapai -62 derajat C, Sehingga hujan yang dihasilkan cenderung memiliki intensitas lebat.

Aktifitas tektonik di Provinsi Aceh dipengaruhi oleh pergerakan lempeng di zona subduksi yang terletak sekitar 250 km di sebelah Barat Daya Pulau Sumatera, hal tersebut menjadi pembangkit gempabumi yang sering terjadi. Kejadian gempabumi di Provinsi Aceh sangat bervariasi pada tiap segmen daerah zona subduksi dan segmen sesar wilayah aceh, sehingga dapat diasosiasikan terhadap jumlah frekuensi kejadian gempabumi dengan tren aktifitas di zona seismotektonik wilayah tersebut. Data katalog yang presisi sangat dibutuhkan sebagai data referensi untuk merelokasi hiposenter gempabumi. Data waktu tiba gelombang yang digunakan dalam menentukan hiposenter adalah data katalog gempabumi BMKG-SeisComP3 periode 01 Januari 2018 sampai dengan 31 Januari 2018, dengan jumlah 40 event gempabumi dan fase gelompang P dan S yang terekam berjumlah 664 Phase. Wilayah kajian meliputi 0 derajat-8.0 derajat LU dan 90.0 derajat-99.0 derajat BT. Kajian penentuan relokasi gempabumi ini menggunakan metode Double-Difference (hypoDD), dengan uji validasi hasil histogram residual waktu tempuh menggunakan model kecepatan 1-D Vp bawah permukaan IASP91

Hujan yang terjadi disebabkan karena adanya pusat tekanan rendah di wilayah utara Papua sehingga menyebabkan terganggunya sirkulasi angin dan juga didukung oleh kondisi SST yang cukup hangat serta nilai kelembaban yang cukup dingin juga didukung oleh Anomali OLR yang bernilai negatif di sekitar Wilayah Papua, Sehingga hal ini menyebabkan terjadi hujan dengan kategori hujan ringan hingga sedang di seluruh wilayah kota Jayapura khususnya Wilayah Utara Papua. Meskipun demikian, hujan sedang hingga lebat tidak terus menerus terjadi namun bergantung pada proses tumbuhnya awan-awan konvektiv.

Stasiun Meteorologi Klas I Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan merupakan salah satu dari Unit Pelaksana Teknis dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang berlokasi di Provinsi Kalimantan Timur, tepatnya di daerah Kota Balikpapan. Stasiun Meteorologi Klas I Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan merupakan stasiun meteorologi yang memiliki tupoksi memberikan pelayanan data meteorologi guna memberikan informasi kepada masyarakat maupun instansi-instansi terkait yang membutuhkan data meteorologi. Walaupun merupakan salah satu stasiun meteorologi yang tugas utamanya melayani pelayanan informasi cuaca untuk penerbangan, Stasiun Meteorologi Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan juga memberikan informasi terkait tentang keadaan unsur cuaca. Melalui data-data yang diamati melalui pengamatan alat otomatis maupun konvensional dan didukung pula dengan adanya pengamatan radar cuaca yang menghasilkan data guna memberikan informasi tentang keadaan unsur cuaca, mengenai peringatan dini termasuk pula di dalamnya memberikan informasi prakiraan cuaca yang diupdate tiap hari maupun mingguan. Dari unsur cuaca yang diamati tiap hari inilah untuk selanjutnya diolah dan dianalisis untuk mendapatkan kesimpulan tentang informasi keadaan cuaca pada bulan-bulan terkait.

  • 24 Feb 2018, 17:02:34 WIB
  • 5.3 SR
  • 10 Km
  • 2.03 LU - 98.95 BT
  • 24 Feb 2018, 17:02:34 WIB
  • 5.3
  • 10 Km
  • 2.03 LU 98.95 BT
  • Pusat gempa berada di darat 16 km Barat Daya Tapanauli Utara
  • Dirasakan (Skala MMI) : II-III Siborongborong,
  • Selengkapnya →

Siaran Pers & Info Aktual