Analisis Kejadian Cuaca Ekstrim Tanah Longsor di Wilayah Kota Ambon, Desa Karang Panjang dan Kebun Cengkeh (08 Juni 2017)

  • 11 Jun 2017
  • JENLY FRANSISKA USPESSY, A.Md (PMG Pelaksana Lanjutan Sta. Met. Kelas II Pattimura - Ambon BMKG)

Berdasarkan analisis dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa kejadian tanah longsor yang terjadi di Desa Karang Panjang dan Kebun Cengkeh pada tanggal 08 Juni 2017, diakibatkan oleh adanya shearline/belokan angin disekitar wilayah Maluku sehingga menyebakan pembentukan awan-awan hujan berupa awan Altostratus dan Cumulonimbus disekitar wilayah Pulau Arnbon. Selain itu pun, Pulau Arnbon sedang berada pada musim penghujan sehingga keadaan tanah yang sudah jenuh dan tidak dapat lagi menyerap bahkan menampung air dalam jumlah yang besar.

Artikel Lainnya

Kelembaban minimum yang mencapai 25 persen di wilayah Toraja sangat dipengaruhi faktor global yaitu ENSO -0.88 (Lanina lemah) dan MJO lemah di kuadran 6 serta anomali Suhu muka laut Netral yang berdampak pada minimnya pasokan uap air untuk pertumbuhan awan. Tropical Cyclon yang terjadi di Samudera Hindia berdampak terhadap tingginya kecepatan angin di Toraja yang menuju ke pusat tekanan rendah di pusat siklon, sehingga belokan angin, konvergensi (daerah pumpunan angin) dan adveksi (aliran massa udara horisontal) minim terjadi di Toraja. Wilayah Toraja sangat tergantung dari proses adveksi atau aliran massa udara horisontal yang membawa uap air dari daerah pantai/lautan ke wilayah Toraja, karena wilayah Toraja yang sebagian besar wilayahnya merupakan daratan dan dataran tinggi sehingga sangat minim terjadinya proses Konveksi sebagai syarat pembentukan awan.

"Apakah tingkat goncangan gempabumi akibat pergeseran lempeng sangat variatif?". Pertanyaan ini seringkali muncul dan diperdebatkan oleh khayalak ramai, seperti buah bibir yang tak kunjung padam kala sebuah gempa besar melanda suatu wilayah. "... dan apakah sama goncangannya tiap tahun?". Untuk menjawab hal tersebut, kami mencoba membuka cara berfikir masyarakat agar slogan informasi yang benar, akurat dan tepat adalah bukan suatu ketidakpastian belaka. Data yang diuji ialah data kejadian gempabumi yang berhasil dianalis terlokalisasi oleh teman-teman yang bertugas di BMKG Stasiun Geofisika Klas I Palu sejak tahun 2016 hingga 2017.

Kejadian hujan di wilayah galela yang mencapai 72 mm terjadi pada malam hari disebabkan oleh adanya penumpukan massa udara di wilayah utara pulau Halmahera akibat dari adanya pola tekanan udara rendah di sebelah timur laut pulau Halmahera dan diperkuat oleh adanya belokan pola angina di utara pulau Halmahera yang memicu pertumbuhan awan konvektif. Suhu muka laut yang hangat memiliki pengaruh besar terhadap banyaknya suplai uap air yang tersedia di udara sehingga memicu semakin giat pertumbuhan awan, terutama awan konvektif. Dari citra satelit, diketahui bahwa hujan yang terjadi akibat dari adanya awan konvektif (Cumulonimbus) yang tumbuh dengan suhu puncak awan mencapai -62 derajat C, Sehingga hujan yang dihasilkan cenderung memiliki intensitas lebat.

Aktifitas tektonik di Provinsi Aceh dipengaruhi oleh pergerakan lempeng di zona subduksi yang terletak sekitar 250 km di sebelah Barat Daya Pulau Sumatera, hal tersebut menjadi pembangkit gempabumi yang sering terjadi. Kejadian gempabumi di Provinsi Aceh sangat bervariasi pada tiap segmen daerah zona subduksi dan segmen sesar wilayah aceh, sehingga dapat diasosiasikan terhadap jumlah frekuensi kejadian gempabumi dengan tren aktifitas di zona seismotektonik wilayah tersebut. Data katalog yang presisi sangat dibutuhkan sebagai data referensi untuk merelokasi hiposenter gempabumi. Data waktu tiba gelombang yang digunakan dalam menentukan hiposenter adalah data katalog gempabumi BMKG-SeisComP3 periode 01 Januari 2018 sampai dengan 31 Januari 2018, dengan jumlah 40 event gempabumi dan fase gelompang P dan S yang terekam berjumlah 664 Phase. Wilayah kajian meliputi 0 derajat-8.0 derajat LU dan 90.0 derajat-99.0 derajat BT. Kajian penentuan relokasi gempabumi ini menggunakan metode Double-Difference (hypoDD), dengan uji validasi hasil histogram residual waktu tempuh menggunakan model kecepatan 1-D Vp bawah permukaan IASP91

Hujan yang terjadi disebabkan karena adanya pusat tekanan rendah di wilayah utara Papua sehingga menyebabkan terganggunya sirkulasi angin dan juga didukung oleh kondisi SST yang cukup hangat serta nilai kelembaban yang cukup dingin juga didukung oleh Anomali OLR yang bernilai negatif di sekitar Wilayah Papua, Sehingga hal ini menyebabkan terjadi hujan dengan kategori hujan ringan hingga sedang di seluruh wilayah kota Jayapura khususnya Wilayah Utara Papua. Meskipun demikian, hujan sedang hingga lebat tidak terus menerus terjadi namun bergantung pada proses tumbuhnya awan-awan konvektiv.

Stasiun Meteorologi Klas I Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan merupakan salah satu dari Unit Pelaksana Teknis dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang berlokasi di Provinsi Kalimantan Timur, tepatnya di daerah Kota Balikpapan. Stasiun Meteorologi Klas I Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan merupakan stasiun meteorologi yang memiliki tupoksi memberikan pelayanan data meteorologi guna memberikan informasi kepada masyarakat maupun instansi-instansi terkait yang membutuhkan data meteorologi. Walaupun merupakan salah satu stasiun meteorologi yang tugas utamanya melayani pelayanan informasi cuaca untuk penerbangan, Stasiun Meteorologi Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan juga memberikan informasi terkait tentang keadaan unsur cuaca. Melalui data-data yang diamati melalui pengamatan alat otomatis maupun konvensional dan didukung pula dengan adanya pengamatan radar cuaca yang menghasilkan data guna memberikan informasi tentang keadaan unsur cuaca, mengenai peringatan dini termasuk pula di dalamnya memberikan informasi prakiraan cuaca yang diupdate tiap hari maupun mingguan. Dari unsur cuaca yang diamati tiap hari inilah untuk selanjutnya diolah dan dianalisis untuk mendapatkan kesimpulan tentang informasi keadaan cuaca pada bulan-bulan terkait.

Letak Topografi Kota Metro yang berupa dataran yang luas, menjadikan pembentukan awan-awan konvektif lokal sangat kuat terjadi. Meskipun Iklim Kota Metro di pengaruhi Monsun, tetapi awan hujannya banyak dipengaruhi oleh proses Konvektif. Fenomena cuaca ekstrim berupa kejadian puting beliung yang terjadi di Desa Purwosari Kec.Metro Utara pada tanggal 04 Januari 2018 sekitar pukul 15.30 WIB mengakibatkan kerusakan pada beberapa bangunan, seperti minimarket, kios, toko dan rumah warga. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut, namun sebagian pepohonan dan atap rumah warga mengalami kerusakan dan jalan akses menuju Desa purwosari terhadang oleh ranting dan pohon yang roboh, sumber : www.lampungtribunnews.com. Berdasarkan Analisa SATAID puncak awan Cb saat kejadian mencapai -70,5 derajat C, ini berarti tergolong awan Cb yang sangat kuat dengan tinggi puncak awan yang sangat tinggi. Kemudian diketahui bahwa pengaruh cuaca skala lokal yang kuat dan diperkuat adanya gangguan cuaca skala regional, yaitu terdapat Tropical Storm "BOLAVEN" di Laut Cina selatan, sehingga pola angin di atas wilayah Lampung membentuk shearline (belokan angin. Shearline sangat berperan dalam mempengaruhi pengangkatan massa udara yang nantinya berkembang menjadi awan Hujan.

Kondisi atmosfer pada saat terjadinya puting beliung di desa Karang Anyar Kec.Labuhan Maringgai Kab.Lampung Timur ditemukan adanya pengaruh regional berupa pola tekanan yang menunjukan adanya tekanan rendah di Utara Australia dan pola angin yang mengindikasikan adanya pembentukan awan konvektif akibat dari adanya belokan angin yang mengakibatkan perlambatan massa udara sehingga menyebabkan peningkatan massa udara yang berpotensi menumbuhkan awan konvektif Cumulonimbus. Demikian juga untuk kondisi lokal labilitas udara pada siang hari menunjukan kondisi labil dengan potensi thunderstorm

Berdasarkan hasil analisa dari beberapa indikator di atas dapat disimpulkan bahwa hujan sedang s.d lebat disertai angin kencang yang terjadi di Merauke pada tanggal 27-28 Januari 2018 di akibatkan karena adanya pengaruh dari SST yang cukup hangat menyebabkan pertumbuhan area tekanan udara rendah di belahan bumi selatan meningkat dengan selisih tekanan udara yang tinggi dengan belahan bumi utara. Selisih tekanan udara ini menyebabkan angin kencang serta adanya daerah konvergensi atau kumpulan massa udara di sekitar Papua bagian Selatan.

Kalimantan barat merupakan wilayah di khatulistiwa dengan tingkat curah hujan yang cukup tinggi. Menurut BMKG, Kalimantan Barat pada umumnya memiliki jenis iklim ekuatorial dengan perbedaan musim kemarau dan penghujan yang tidak jelas. Secara umum pola iklim ekuatorial mempunyai curah hujan yang cukup tinggi sepanjang tahun. Curah hujan yang cukup tinggi ini banyak dimanfaatkan oleh warga Kalimantan Barat. Umumnya yang tinggal di wilayah dengan kondisi lahan gambut. Karena areal dengan lahan gambut memiliki air tanah yang keruh, masam dan kehitaman.

  • 19 Feb 2018, 17:38:37 WIB
  • 5.6 SR
  • 100 Km
  • 4.71 LS - 132.44 BT
  • 18 Feb 2018, 11:40:14 WIB
  • 4.4
  • 31 Km
  • 7.62 LS 106.71 BT
  • Pusat gempa berada di laut 80 Km Barat Daya Kota Sukabumi
  • Dirasakan (Skala MMI) : II Cianjur, II Sukabumi ,
  • Selengkapnya →

Siaran Pers & Info Aktual