Ulasan Guncangan Tanah Akibat Gempa Deli Serdang Sumatera Utara 16 Januari 2017

  • Robby Wallansha
  • 17 Jan 2017
Ulasan Guncangan Tanah Akibat Gempa Deli Serdang Sumatera Utara 16 Januari 2017

Gempabumi terjadi dengan magnitude 5.6 SR pada Senin, 16 Januari 2017 jam 19:42:12 WIB. Pusat gempa berada di kedalaman 10 km 28 km barat laut Kabupaten Deliserdang dengan episenter di darat. Peta tingkat guncangan (shakemap) BMKG menunjukkan bahwa dampak gempabumi darat gengan M5.6 tersebut dirasakan meluas di wilayah Propinsi Sumatra Utara. Gempa ini dirasakan bervariasi mulai skala intensitas II-III SIG (setara dengan II-VI MMI). Beberapa kota meraakan cukup kuat mencapai III-IV MMI diantaranya Medan dan Tebing Tinggi. Sedangkan wilayah dekat dengan episenter diperkirakan mengalami guncangan kuat sampai dengan kerusakan ringan pada skala III SIG (V-VI MMI) diantaranya dimungkinkan pada kota Sibolangit dan Karo. Kota-kota lain mengalami dampak guncangan lebih kecil sekitar II-III MMI. Sampai saat in belum ada laporan kerusakan dari lapangan. Hasil monitoring BMKG hingga saat ini sudah terjadi 9 kali gempabumi susualn dengan kekuatan yang lebih kecil dari gempa utamanya.

A. Peak Ground Acceleration (PGA)

Kerusakan dan keruntuhan bangunan akibat gempabumi terjadi karena bangunan tidak mampu mengantisipasi getaran tanah (ground motion) Peak Ground Acceleration (PGA) yang ditimbulkannya. Besarnya getaran tanah akibat gempabumi dipengaruhi oleh tiga hal, sumber gempa (source), jalur penjalaran gelombang (path), dan pengaruh kondisi tanah setempat (site). Dapat difahami bahwa sumber gempa yang besar dan dekat akan menimbulkan getaran tanah yang juga besar. Demikian halnya kondisi tanah setempat berupa endapan sedimen tebal dan lunak juga akan menimbulkan fenomena amplifikasi yang memperbesar nilai getaran tanah di permukaan. Nilai Peak Ground Acceleration (PGA) dari gempa bumi yang terjadi di Kabupaten Deliserdang 16 Januari 2017 jam 19:42:12 WIB dapat di lihat pada Tabel 1. Dua nilai PGA terbesar terdapat pada akselerograf Kantor Balai Besar Wilayah I Medan (MEBW) dengan nilai PGA 73.2253 gal pada jarak 34 km dari pusat gembabumi, selanjutnya adalah akselerograf Tuntungan (TSI) dengan PGA 22.1391 gal pada jarak 24.408 gal. Pengaruh lokal yaitu nilai Vs30 (site effect factor) pada stasiun MEBW adalah 168.78 m/s termasuk jenis tanah lunak (SNI 1726-2012). Sedangkan Vs30 pada stasiun TSI adalah sebesar 246 m/s termasuk jenis tanah sedang (SNI 1726-2012). Pengaruh lokal inilah yang menjadi salah satu faktor penyebab stasiun MEBW memiliki nilai PGA lebih besar dari stasiun TSI, meskipun jarak MEWB relatif lebih jauh dengan episenter jika dibadingkan dengan jarak TSI dengan episenter.

B. Peak Spectral Acceleration (PSA)

Dari hasil analisa spectral acceleration dapat dilihat nilai maksimum percepatan dicapai pada periode tertentu. Hasil analisa "quick analysis" spektra dari rekaman data akselerograf terdekat yaitu stasiun TSI dan MEBW ditunjukkan pada Gambar 3. Nilai maksimum percepatan untuk stasiun TSI dicapai pada periode 0.3 detik sebesar kurang lebih 93 gal. Sedangkan Nilai maksimum percepatan untuk stasiun MEBW dicapai pada periode 0.3 detik sebesar kurang lebih 349 gal.

Oleh :

(Robby Wallansha, Aditya Setyo Rahman, Dadang Permana, Ariska Rudyanto, Sigit Pramono)

  • 24 Feb 2017, 15:22:35 WIB
  • 5.1 SR
  • 182 Km
  • 4.68 LU - 96.90 BT
  • 22 Feb 2017, 12:31:34 WIB
  • 3.3 SR
  • 10 Km
  • 4.67 LS 121.94 BT
  • Pusat gempa berada di darat 4km Tenggara Bombana
  • Dirasakan (Skala MMI) : I-II Rumbia,

Siaran Pers & Info Aktual