The Eighteenth Meeting United Nations Open-ended Informal Consultative Process on Oceans and the Law of the Sea

  • Murni Kemala Dewi
  • 18 Mei 2017
The Eighteenth Meeting United Nations Open-ended Informal Consultative Process on Oceans and the Law of the Sea

New York- Kepala BMKG, Dr. Andi Eka Sakya, menghadiri pertemuan Eighteenth Meeting United Nations Open-ended Informal Consultative Process on Oceans and the Law of the Sea yang dilaksanakan di Kantor Pusat PBB di New York 15-19 Mei 2017. Pertemuan ini mengambil tema "The effects of climate change on oceans".

Pada Pertemuan ini, Kepala BMKG mewakili Indonesia menyampaikan pandangan umum terhadap penyelenggaraan pertemuan ini. Dalam pandangan umum tersebut, disampaikan bahwa Indonesia berharap dan optimis bahwa pertemuan ini akan memberi kontribusi positif dalam pencapaian target SDG 14, karena mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim akan berdampak pada upaya menjadikan laut lebih sehat dan lebih berkelanjutan, dengan tujuan utama untuk menyelamatkan bumi dan generasi penerus kita dari dampak perubahan iklim.

Kepala BMKG juga menyampaikan pengalaman Indonesia khususnya BMKG dalam menghadapi efek perubahan iklim melalui presentasi berjudul "The effect of climate change on people living in coastal areas in Indonesia: mitigation and adaptation experience and possible international cooperation". Dalam presentasinya disampaikan bahwa Indonesia telah mengembangkan Multi Hazard Early Warning System yang berhasil diterapkan dan bermanfaat bagi end-user. Salah satu bentuk nyatanya adalah penyelenggaraan Sekolah Lapang Iklim (SLI), bukan hanya di seluruh provinsi di Indonesia tetapi juga di negara-negara ASEAN dan negara-negara Pasifik Barat Daya. Kegiatan ini telah dikembangkan ke sektor perikanan dan kegiatan tambak garam, serta bagi masyarakat yang tinggal di daerah pesisir untuk meningkatkan kewaspadaan mereka menghadapi bencana berbasis pesisir, termasuk tsunami.

Indonesia merupakan negara yang rentan terhadap bencana dan juga rentan terhadap dampak perubahan iklim, khususnya masyarakat dan area pesisir. Indonesia menyadari bahwa sekecil apapun kebijakan terhadap lautan memiliki pengaruh terhadap iklim global, mengingat salah satu peran lautan sebagai regulator iklim. Dengan menyadari sepenuhnya ancaman yang ditimbulkan oleh perubahan iklim, Indonesia telah menempatkan lautan sebagai prioritas utama dan telah membuat sejumlah kebijakan dan usaha nyata untuk memperbaiki kesehatan lautan kita. ICP merupakan wahana yang tepat untuk berbagi pengalaman kepada dunia, atau setidaknya negara-negara yang memiliki masalah yang sama.

  • 26 Mei 2017, 11:15:01 WIB
  • 5.0 SR
  • 10 Km
  • 10.15 LS - 118.93 BT
  • 28 Mei 2017, 10:18:50 WIB
  • 4.4 SR
  • 25 Km
  • 9.63 LS 119.55 BT
  • Pusat gempa berada di darat 17 km Timurlaut Sumbabarat
  • Dirasakan (Skala MMI) : III-IV Tambolaka,
  • Selengkapnya →

Siaran Pers & Info Aktual