60 Tahun Kolaborasi Indonesia-Jepang Menuju Penanganan Bencana 4.0

  • Murni Kemala Dewi
  • 15 Mei 2018
60 Tahun Kolaborasi Indonesia-Jepang Menuju Penanganan Bencana 4.0

Jakarta, 14 Mei 2018/ Tahun ini Jepang dan Indonesia menyambut 60 tahun hubungan diplomatik sejak ditandatanganinya Perjanjian Perdamaian Jepang-Indonesia pada tanggal 20 Januari 1958. Sebagai "mitra strategis", kedua negara selalu memperkuat kerja sama di berbagai bidang, salah satunya dalam penanganan bencana. BMKG merupakan salah satu lembaga pemerintah Indonesia yang memiliki hubungan erat dengan Jepang menyangkut masalah ini. Apalagi jika dilihat dari keadaan wilayah, dimana Indonesia dan Jepang sama-sama berada di wilayah yang termasuk disaster prone area (wilayah yang memiliki banyak bencana).

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati mengakui bahwa pada saat ini, BMKG masih memiliki cukup banyak keterbatasan dibandingkan Jepang dalam hal teknologi penanganan bencana. Contohnya saja saat ini Jepang telah mampu memberikan peringatan dini tsunami dalam waktu 3 menit. Sementara Indonesia masih dikisaran 5 menit. Tantangan BMKG saat ini dalam waktu 5 tahun harus mampu melompatkan inovasi teknologi agar setara dengan kemajuan 10 hingga 20 tahun ke depan, seperti yang telah dicapai Jepang saat ini.

Dilain pihak adanya permasalahan dalam merapatkan sistim jaringan dan sensor yang menjadi sebuah tantangan tersendiri di negara kepulauan besar seperti Indonesia. Masih ada wilayah-wilayah di Indonesia yang memiliki kekosongan sensor peringatan dini yang tentu saja menjadi berbahaya jika terjadi bencana yang tak terduga.

Menghadapi tantangan-tantangan yang ada, BMKG saat ini berusaha meningkatkan pelayanan dengan cara memanfaatkan big data, artificial intelligent dan internet of thing. Program BMKG 4.0 saat ini diusung dalam rangka mengatasi segala permasalahan yang ada. Untuk bisa melancarkan jalannya program ini, kerjasama antara BMKG dan pemerintah Jepang sangat dibutuhkan. Terutama dalam hal transfer teknologi dan pelatihan sumber daya manusia.

Semua hal ini disampaikan Kepala BMKG dihadapan peserta symposium Indonesia-Japan Development Cooperation yang mengangkat tema "Building the Future Based on Trust". Turut mendampingi Kepala BMKG, Deputi Bidang Geofisika, Dr.Ir. Muhamad Sadly M.Eng.

  • 26 Mei 2018, 05:23:43 WIB
  • 5.2 SR
  • 188 Km
  • 7.71 LS - 128.41 BT
  • 26 Mei 2018, 03:15:00 WIB
  • 4.4
  • 6 Km
  • 7.2 LS 106.88 BT
  • Pusat gempa berada di darat 30 km Barat Daya Kota Sukabumi
  • Dirasakan (Skala MMI) : II-III Pelabuhan Ratu, II-III Sukabumi, II-III Cisaat, II-III Sagaranten,
  • Selengkapnya →

Siaran Pers & Info Aktual