Melihat Potensi Sumber Gempabumi Dan Tsunami Aceh

  • 14 Sep 2017
  • ABDI JIHAD, S.Si, VRIESLEND HARIS BANYUNEGORO, S.Tr (Sta. Geof. Kelas III Mata Ie - Banda Aceh)

Ditinjau dari sudut pandang potensi bencana, Indonesia dikenal sebagai salah satu negara yang memiliki potensi bencana yang sangat tinggi, tidak terkecuali gempabumi dan tsunami. Secara tatanan tektonik, Indonesia terletak pada batas pertemuan tiga lempeng tektonik yang sangat aktif. Tiga lempeng tersebut adalah lempeng IndoAustralia, lempeng Eurasia dan lempeng Pasifik. Ketiganya berperan aktif dalam membentuk tatanan tektonik yang kompleks pada wilayah Indonesia. Konsekuensinya, terbentuk pola interaksi antar lempeng tektonik yang saling bertumbukan (konvergen), saling menjauh (divergen) dan saling bersinggungan (Transform). Palung Sunda (Sunda Trench), bukit barisan, rangkaian gunung api serta keberadaan sesar aktif menjadi bukti bahwa wilayah ini memiliki stuktur tektonik yang sangat kompleks. Informasi ini yang menjadi faktor utama wilayah Indonesia dikatakan rawan terhadap gempabumi dan tsunami. Berdasarkan hal tersebut, Indonesia menjadi magnet tersendiri bagi para ilmuwan kebencanaan untuk melakukan penelitian. Sumatra menjadi salah satu dari beberapa pulau di Indonesia yang mendapat perhatian khusus dari para peneliti dalam melakukan penelitian kebencanaan khusunya terkait potensi gempabumi dan tsunami.

Artikel Lainnya

Cuaca ekstrim Angin puting beliung yang terjadi di Desa Brajaasri, Kec.Way Jepara Kab.Lampung Timur pada hari selasa tanggal 14 Nopember 2017 sekitar pukul 14.30 WIB, menyebabkan satu roboh dan puluhan rumah rusak ringan. Tidak ada korban jiwa dari peristiwa tersebut tetapi kerugian materi yang cukup besar. Dari info dilapangan sebelum kejadian terlihat banyak awan-awan gelap yang mengumpul, udara mendadak sangat dingin, petir dan kilat terdengar yang diikuti hujan. kemudian dari bawah awan muncul angin yang berbentuk corong turun. Kemudian banyak warga masyarakat panik berlarian, berteriak saat melihat banyak puing-puing rumah dan pohon yang terangkat keatas dan berputar, sumber : www.lampost.co.lihat lampiran III hal.13. Kondisi Topografi Kec.Way Jepara yang merupakan daerah pesisir timur, dimana berbatasan langsung dengan laut jawa Sehingga kondisi cuacanya sangat cepat berubah, lihat lampiran II hal.12. Berdasarkan Analisa SATAID diketahui suhu puncak awan Cb mencapai -73,5 derajat C,ini berarti kategori jenis Awan Cb yang sangat kuat, kemudian dari historis pertumbuhan awan terlihat adanya aktivitas signifikan pada jam 05 s.d 09 UTC, dari time series awan Cb kita dapat melihat perkembangan awan, mulai dari tahap tumbuh, dewasa dan punah awan diatas wilayah Kec. Way jepara. Pada saat kejadian diketahui bahwa pengaruh cuaca skala lokal yang kuat dan diperkuat adanya shearlines atau belokan angin disebelah timur Lampung memberikan pengaruh kuat dalam pembentukan awan Cb Tunggal penyebab kejadian puting beliung.

Sejumlah rumah warga di desa Kuala Dua di Rt 12,27 Rw 01 terendam banjir. Rata - rata ketinggian air mencapai betis sampai lutut orang dewasa. Runway Bandara Supadio digenangi air yang menyebabkan terhambatnya aktivitas penerbangan di bandara tersebut.

Kejadian banjir di SMP 28 Batam dan sejumlah komplek perumahan di kota Batam pada 14 November 2017. (Sumber : kompas.com, batam.tribunnews.com)

Telah terjadi hujan dengan intensitas sangat lebat di wilayah Kubu Raya pada tanggal 11 November 2017 khususnya di wilayah Bandara SUpadio dan sekitarnya. Faktor skala global yang dominan mempengaruhi terjadinya hujan sangat lebat tersebut yaitu hangatnya suhu muka laut dan anomali suhu muka laut yang positif di wilayah Kalbar. Faktor skala sinoptik yang dominan mempengaruhi terjadinya hujan sangat lebat tersebut yaitu adanya sirkulasi Eddy di wilayah Kalimantan yang dapat memicu terbentuknya awan-awan konvektif khususnya di wilayah Kalbar.

Hujan dengan intensitas lebat disertai petir pada tanggal 02 November 2017 yang menyebabkan genangan air di jalan dan tinggi air di parit-parit meningkat.

Dari sejumlah bencana banjir dan longsor yang terjadi, dapat diketahui bahwa penyebab utama adalah faktor meteorologis unsur curah hujan terutama intensitas hujan, distribusi hujan, dan durasi hujan. Faktor lain penyebab banjir adalah sifat-sifat fisis dari permukaan tanah, kandungan air tanah, dan permukaan tanah(tanah gundul, tanah yang ditumbuhi tanaman-tanaman dan lain-lain). Kondisi Iklim di wilayah Lampung bagian barat sangat berbeda dengan kabupaten- kabupaten lainnya yang ada di wilayah Provinsi Lampung karena Topografi Lampung bagian Barat memiliki khas tersendiri yaitu diapit oleh Bukit Barisan disebelah Timur dan Samudra Hindia sebelah Barat. Oleh karenanya iklim wilayah Lampung bagian barat dan pesisir bersifat lokal dan sangat mudah berubah dan memiliki potensi terjadinya cuaca ekstrim. Berdasarkan informasi media www.lampost.co lihat Lampiran I hal.10-11, pada tanggal 09 Nopember 2017 telah terjadi cuaca ekstrim berupa hujan dengan intensitas lebat yang mengakibatkan ratusan rumah warga di Pekon Mulangmaya dan Rajabasa, Kec.Ngaras Kab.Pesisir Barat, terendam banjir dengan ketinggian 1(satu) meter. Hasil analisis citra satelit dengan aplikasi Soft.SATAID menunjukan terlihat suhu puncak awan Cb mencapai rata-rata -60 s.d -72,5 dan suhu yang sangat dingin ini merupakan kreteria jenis awan Cb yang sangat kuat dan menjulang tinggi, konsentrasi awan di sebagian wilayah Lampung bagian Barat sangat kuat, dan dari data angin 3000 feet, pengaruh tekanan rendah (1005 s.d 1006 mb) di sebelah Barat Lampung menyebabkan terbentuknya konvergensi diatas wialayah Lampung bagian barat sehingga memengaruhi terbentuk pertemuan massa udara di atas wilayah Lampung bagian barat dan mengakibatkan tumbuhnya awan-awan konvektif kuat yang menghasilkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat dan berdurasi lama.

Hujan yang terjadi pada hari Kamis tanggal 26 Oktober 2017 yang mengakibatkan banjir di Bandara Pongtiku Tana Toraja yang di muat di berita online Kareba Toraja.com. Dari data penakar hujan Stasiun Meteorologi Pongtiku tercatat 29.7 mm pada pengukuran jam 09.00 UTC (jam 17.00 WITA). Hujan terjadi jam 08.00 UTC (16.00 WITA)-09.00 UTC (17.00 WITA). Dari data kriteria hujan yang ditetapkan BMKG bahwa hujan >20 mm/jam dikategorikan dalam kriteria Hujan Sangat Lebat.

Kelembaban minimum yang mencapai 32 persen di wilayah Toraja sangat dipengaruhi faktor global yaitu ENSO Normal, MJO lemah di kuadran 3 serta anomali Suhu muka laut negatif yang berdampak pada minimnya pertumbuhan awan.

Nilai anomali SML perairan Aceh bagian Utara hangat bila dibandingan anomalinya. Adanya pusat tekanan rendah (Low Pressure ) di wilayah di samudera hindia Barat Sumatera dan Laut Cina Selatan yang dapat menyebabkan Shearline ( Belokan angin ) di Wilayah Propinsi Aceh sehingga terjadi penumpukan massa udara yang cukup signifikan dan menyebabkan terjadinya potensi hujan. Citra satelit Himawari08 Image IR dan time series suhu puncak awan pada saat bencana Banjir di wilayah Aceh Utara dapat mendukung kejadian bencana tersebut. Penggunanan data curah hujan per 3 jaman dari satelit Tropical Rainfall Measuring Mission (TRMM) untuk mengatasi kekosongan data dilokasi kejadian seperti pada wilayah Aceh Utara Hasil akumulasi hujan per 3 jaman dari satelit TRMM adalah berintensitas sedang hingga lebat untuk kejadian banjir wilayah tersebut.

Telah terjadi banjir yang menerjang 4 Desa di 3 Kecamatan yang terletak di Kabupaten Tanggamus. Akibat dari banjir ini puluhan rumah mengalami kerusakan yang cukup parah. Banjir yang dipicu oleh hujan deras ini menyebabkan meluapnya salah satu sungai di Kecamatan Napal Kabupaten Tanggamus. Air yang merendam 4 Desa ini diperkirakan setinggi 1 meter. Hujan lebat yang diprediksi terjadi di wilayah Tanggamus ini masih merupakan awal dari musim hujan untuk wilayah Lampung yang diprediksi mengalami puncak musim hujan pada bulan Desember hingga Januari tahun depan.