Analisis Kejadian Banjir di Kecamatan Mowewe Kabupaten Kolaka Timur Provinsi Sulawesi Tenggara (21 Juli 2018)

  • 25 Jul 2018
  • RINO INDRA NATSIR (PMG Pelaksana Lanjutan Sta. Met. Kelas II Maritim Kendari BMKG)

Berdasarkan hasil analisis kondisi meteorologis di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kejadian banjir akibat hujan lebat di Kecamatan Mowewe Kabupaten Kolaka Timur disebabkan oleh beberapa hal diantaranya : 1. Suhu muka laut (SST) yang hangat. 2. Kelembaban udara di lapisan 850 mb hingga 700 mb yang sangat tinggi. 3. Adanya konvergensi yang diakibatkan perlambatan kecepatan angin. 4. Terdapat awan konvektif di wilayah Kecamatan Mowewe Kabupaten Kolaka Timur yang menyebabkan hujan Sedang hingga Lebat.


Klik tautan ini jika PDF di atas tidak muncul.

Artikel Lainnya

Provinsi Sumatera Barat merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki potensi gempabumi dan tsunami yang tinggi. Tiga sumber utama pembangkit gempabumi aktif di wilayah ini yaitu jalur subduksi / penujaman lempeng (Megathrust), sesar Mentawai (Mentawai fault) dan sesar besar Sumatera (the great Sumatran fault). Berdasarkan catatan sejarah, bencana gempabumi merusak di wilayah Sumatera Barat pernah terjadi pada tahun 1822, 1835, 1981, 1991, 2005, dan 2009 di Padang, 1926 dan 1943 di Singkarak, 1977 di Pasaman, 2003 di Agam, serta tahun 2007 di Bukittinggi. Gempabumi yang disertai tsunami pernah terjadi pada tahun 1861 di Mentawai, 1904 di Sori-sori dan pada tahun 2010 kembali terjadi di Mentawai. Jika dilihat dari aktifitas seismik yang terjadi diwilayah Sumatera Barat dalam kurun waktu setengah tahun ini, kejadian yang terjadi cukup signifikan. Dari awal bulan Januari hingga Juni 2018, Stasiun Geofisika Kelas I Silaing Bawah telah mencatat 75 kejadian gempabumi dengan Magnitudo berkisar 2.3 SR hingga 4.9 SR.

Seperti kita ketahui wilayah Nusa Tenggara Barat merupakan wilayah yang memiliki perkembangan pesat perekonominya dalam 5 tahun terakhir, yang mana sumber ekonomi terbesar tersebut adalah dari sektor pertanian, perkebunan serta petambangan dan pariwisata. Hingga akhir tahun 2017 Badan Pusat Statistik (BPS) Nasional merilis terus terjadi peningkatan pemasukan ekonomi dari beberapa sektor yang telah disebutkan diatas. Walaupun dalam kondisi yang sama terjadi peningkatan juga dari masyarakat Indonesia yang terjangkit penyakit baik itu Demam Berdarah Dengeu (DBD), Ispa, demam, influenza dan lain sebagainya. Arti nya ketika di periode puncak musim kemarau hingga peralihan musim sangat berpengaruh erat terhadap beberapa aktifitas masyarakat.

Metode gravity merupakan salah satu metode geofisika yang dapat menggambarkan bentuk struktur bawah permukaan berdasarkan variasi medan gravity yang ditampilkan oleh perbedaan densitas antar batuan. Variasi densitas batuan dapat menginterpretasikan anomali gravity sehingga memberikan informasi keadaan batuan yang terdapat dibawah permukaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi kedalaman sedimen yang dilakukan dengan menggunakkan metode gravity yaitu dengan menggunakan metode analisis power spectrum. Metode analisis power spectrum juga merupakan salah satu metode gravity yang sering digunakan untuk mengetahui kedalaman batas diskontinuitas. Studi kasus pada penelitian ini adalah pada Pulau Bali, Indonesia, yang merupakan wilayah dengan seismisitas cukup tinggi karena terdapat back-arc thrust sebagai akibat dari tumbukan lempeng IndoAustralia dan Eurasia. Pulau Bali secara geologi berumur masih muda, batuan tertua berumur miosen sehingga sedimentasi di wilayah Bali tidak terlalu tebal. Data anomali gravity yang digunakan adalah data TOPEX di wilayah Pulau Bali. Berdasarkan hasil analisis diperoleh nilai estimasi kedalaman sedimen Pulau Bali rata-rata sebesar 810,6 meter dan untuk nilai estimasi kedalaman diskontinuitas mohorovicic rata-rata sebesar 6348,6 meter.

Pada tanggal 02 September 2009 telah terjadi gempa bumi kuat dan merusak dengan Magnitudo Mw 7.0. Berdasarkan data dari USGS, gempa bumi tersebut terjadi di barat daya Kota Tasikmalaya, Jawa Barat pada pukul 14:55:01 WIB dengan episenter 7,77 LS 107,324 BT, di kedalaman 49,5 km. Sebanyak 15 orang meninggal, 27 orang terluka di Jakarta, dan terjadi kerusakan parah di Tasikmalaya. Untuk dapat mengidentifikasi adanya anomali perubahan nilai gaya berat akibat gempa ini, dilakukan perhitungan harian SBA (Simple Bouguer Anomaly) menggunakan citra Satelit GRACE (Gravity Recovery and Climate Experience) pada 15 hari sebelum dan 15 hari sesudah kejadian gempa. Hasil perhitungan menunjukan adanya penurunan nilai SBA secara signifikan pada 15 hari sebelum gempa. Penurunan maksimum terjadi pada tanggal 27/08/2009 ke tanggal 28/08/2009 sebesar 0,000375856 mGal. Pada 1 hari sebelum gempa terjadi penurunan SBA sebesar 0.000067442 mGal. Penurunan nilai SBA terjadi sampai tanggal 07/09/2009 yang kemudian diikuti dengan kenaikan nilai SBA secara perhalan

Identifikasi densitas menggunakan metode Parasnis serta pemisahan anomali regional dan residual menggunakan Moving Average Filter kawasan Dieng telah dilakukan berdasarkan data anomali medan gravitasi. Data Anomali medan gravitasi yang digunakan berasal dari Pusat Seismologi Teknik, Geofisika Potensial dan Tanda Waktu BMKG. Proses pengolahan, pemodelan dan interpretasi data dilakukan dengan software Ms. Excel 2010 dan Surfer 11. Nilai yang didapatkan pada perhitungan mengggunakan metode Parasnis adalah 2.3968 gr/cm3 . Nilai ini menunjukkan kesesuaian dengan densitas batuan yang dominan di daerah tersebut yaitu batuan Andesit. Pada pola kontur Anomali Bouger sederhana menunjukkan bahwa nilai anomali tertinggi adalah +68.1825 mgal terletak pada 110.0325 BT dan 7.3421 LS , sedangkan nilai terendah adalah -87.3120 mgal terletak pada 110.0749 BT dan 7.3802 LS. Penelusuran dengan menggunakan daerah Dieng sebagai titik acuan menunjukkan bahwa nilai anomali meningkat ke arah Barat Laut daerah Dieng dan menurun ke arah Tenggara Dieng.

Curah hujan yang turun sejak beberapa hari terakhir ini, membuat sejumlah lokasi di empat wilayah kecamatan didaerah ini makin parah akibat terkena dampak banjir. Hingga saat ini, ketinggian banjir mencapai 4 meter, membuat mayoritas rumah panggung milik warga Terendam banjir akibat luapan dua danau terbesar di Sulsel, yaitu, danau Sidenreng, Sidrap dan danau Tempe, Kabupaten Wajo (http://www.inikata.com/banjir-di-sidrap-makin-parah-dan-meluas-hingga-4-kecamatan/). Banjir terjadi di Desa Mojong, Kecamatan Watang Sidenreng, Lawatedong, Kecamatan Maritenggae, Teteaji, Kecamatan Tellu Limpoe, dan Wette e Kecamatan Panca Lautang.Banjir yang melanda sejumlah kawasan di Sidrap ini merupakan terparah dalam dua bulan terakhir. Keempat wilayah ini memang merupakan langganan banjir setiap musim hujan tiba. Topografi keempat kawasan yang berada di pesisir Danau Sidenreng tersebut, membuat wilayah ini sering dilanda banjir, bahkan setiap tahun banjir di daerah ini sering terjadi (http://news.rakyatku.com/read/107899/2018/07/01/banjir-rendam-4-kecamatan-di-sidrap).

Indonesia Tsunami Early Warning System (INA-TEW)S yang telah resmi beroperasi sejak 11 November 2018 telah mengalami banyak pencapaian dalam upaya memberikan info dini dalam rangka mitigasi gempa dan tsunami. Pusat Gempa Nasional (PGN) bersama 10 Pusat Gempa Regional (PGR) dilengkapi dengan lebih dari 165 seismometer broadband untuk determinasi parameter gempa, 220 lebih akselerograf untuk memperkirakan dampak gempa, dan Jaringan pengamatan muka air laut. Jaringan yang telah terintegrasi secara real time tersebut mampu menghasilkan info dini gempa dan mulai disebarluaskan mulai menit ke-5 bahkan bisa lebih cepat lagi setelah gempa terjadi, melalui sistim diseminasi info gempa menggunakan semua moda komunikasi. Jika gempa terindikasi tsunami maka ada pemutakhiran tingkat ancaman tsunami 15 detik setelahnya. Sesuai SOP, PGN merilis info gempa dengan Magnitudo di atas 5 dan peringatan dini, sedangakan PGR merilis info gempa magnitudo kurang dari 5 pada daerah yang menjadi wewenangnya. Info gempa PGR dihasilkan melalui determinasi oleh PGR dan stasiun geofisika yang ada di wilayah regional tersebut. Satu kejadian gempa akan ditentukan oleh beberapa stasiun geofisika, kemudian PGR akan memilih satu hasil terbaik berdasarkan keakuratan dan kepastian prosesnya.

Metode penentuan lokasi hiposenter dapat mengalami kekeliruan yang dipengaruhi oleh ketidaksesuaian dari struktur kecepatan lapisan yang digunakan. Prinsip dasar perhitungan relokasi pada metode Double-Difference adalah membandingkan dua hiposenter yang berdekatan terhadap stasiun pencatat gempabumi, asumsi bahwa jarak kedua hiposenter tersebut harus lebih dekat dibandingkan dengan jarak antara hiposenter tersebut ke stasiun pencatat gempabumi. Hal ini dilakukan agar raypath dan waveform dari kedua hiposenter yang berpasangan dianggap mendekati sama. Perbedaan waktu tempuh dari kedua hiposenter dapat digunakan untuk mengetahui jarak kedua hiposenter ke stasiun pencatat, sehingga kesalahan model kecepatan bawah permukaan lebih kecil.

Analisis Curah Hujan Saat Terjadi Banjir di Kab. Sinjai, Sulawesi Selatan (14 Mei 2018)

  • 13 Agu 2018, 00:23:12 WIB
  • 5.4 SR
  • 10 Km
  • 2.84 LU - 128.06 BT
  • 14 Agu 2018, 15:35:03 WIB
  • 4.3
  • 12 Km
  • 1.39 LS 120.52 BT
  • Pusat gempa berada di Darat 26 km Barat Poso
  • Dirasakan (Skala MMI) : II-III Poso,
  • Selengkapnya →

Siaran Pers & Info Aktual