Analisis Kondisi Cuaca Saat Terjadi Banjir di Kabupaten Lampung Utara (Studi Kasus tanggal 29 Desember 2017)

  • 10 Jan 2018
  • ADI SAPUTRA, S.Si (PMG Muda Sta. Met. Kelas I Radin Inten II - Bandar Lampung BMKG)
  • FAHRIZAL, S.P. (PMG Muda Sta. Met. Kelas I Radin Inten II - Bandar Lampung BMKG)

Letak geografi Kab.Lampung Utara yang berada di sebelah Utara Prov.Lampung berbatasan dengan sebelah Utara Kab.Way Kanan, sebelah selatan Kab.Lampung Tengah, sebelah Timur Kab.Tubabar, dan sebelah Barat Kab. Lampung Barat, dan topografinya terbagi menjadi dua bagian, sebelah timur dataran rendah dan sebelah barat daerah perbukitan (bukit barisan). Sedangkan kondisi cuacanya dipengaruhi oleh monsun. Secara Klimatologi di wilayah Lampung bulan Desember dan Januari merupakan puncak musim penghujan. Berdasarkan informasi media www.teraslampung.com, pada tanggal 29 Desember 2017 telah terjadi cuaca ekstrim berupa hujan dengan intensitas lebat yang mengakibatkan ratusan rumah di Kab.Lampung Utara terendam banjir akibat diguyur hujan deras sejak malam dini hari hingga pagi, sore dan malam hari. Banjir juga menyebabkan dua pohon tumbang sehingga menimpa rumah warga dan merendam 6 unit mobil dan 1 unit sepeda motor. Berdasarkan data yang dimiliki BPBD Lampung Utara, korban banjir terbanyak terjadi di kelurahan Cempedak 75 unit rumah, Kelurahan Tanjung Aman 49 unit rumah, Kelurahan Tanjung Harapan 15 unit rumah 1 sekolah, dan Kelurahan Kelapa Tujuh 19 unit rumah. Banjir juga merendam sawah, Kolam pemancingan ikan, jalan lintas tengah Sumatera. Dari data curah hujan Stasiun Geofisika Kotabumi, curah hujan yang tercatat pada tanggal 29 Desember 2017 jam 07.00 WIB 157 mm/hari dan termasuk kategori Ekstrim. Pantauan citra satelit menunjukan konsentrasi awan di wilayah Lampung Utara sangat kuat, suhu puncak awan menunjukan antara -60 derajat C s.d -70,5 derajat C, ini berarti termasuk jenis awan Cb yang sangat kuat dan menjulang tinggi. Kemudina dari analisis Sounding yang diperoleh dari cross section didapat bahwa kondisi labilitas wilayah Ka.Lampung Utara dan sekitarnya sangat labil dan RH lapisan dari 850 s.d 500 mb sangat lebab berkisar antara 70 s.d 85%, ini berarti asupan energi untuk pembentukan awan Cb sangat mendukung. Kemudian dari analisa angin 3000 Feet, terbentuk adanya Pola Konvergensi pada tanggal 28 Desember 2017 jam 12 UTC di atas wilayah Lampung bagian Utara dan Pola Shearlines pada tanggal 29 Desember 2017 jam 00 UTC, ini berarti pengaruh gangguan cuaca Skala Meso sangat mendukung dalam pembentukan cuaca ekstrim. Dapat disimpulkan bahwa curah hujan yang tinggi dan berdurasi lama disebabkan kuatnya labilitas udara di atas wilayah Lampung Utara dan diperkuat lagi gangguan cuaca skala meso.


Klik tautan ini jika PDF di atas tidak muncul.

Artikel Lainnya

Metode gravitasi merupakan salah satu metode geofisika terapan untuk menentukan benda dan struktur batuan yang terdapat di bawah permukaan bumi berdasarkan perbedaan densitas (?) material penyusunnya. Telah dilakukan penentuan densitas batuan dengan menggunakan metode parasnis dalam pengolahan data gravitasi untuk sebagian daerah Jakarta, Banten dan Jawa Barat yang terdampak akibat gempa bumi Lebak 23 Januari 2018 berdasarkan 11 stasiun pencatat gempa bumi. Kemudian dikorelasikan dengan nilai intensitas pada saat gempa bumi Lebak. Nilai rata-rata densitas (?) yang didapat yaitu 2.4308 gr/cm3 yang merupakan batuan dengan sebagian besar komposisi merupakan sedimen sehingga ditemukan korelasi yang cukup kuat dengan tingkat intensitas yang relatif tinggi.

Tangerang Selatan adalah kota yang terletak di provinsi jawa barat di indonesia, Tangerang Selatan mengalami iklim musim hujan tropis (Am) menurut Klasifikasi iklim Koppen. Terjadinya hujan menyebabkan kenaikan pada permukaan air tanah yang berdampak pada berubah nya nilai gaya berat. Nilai anomali gaya berat ini dapat diketahui dengan pendekatan perhitungan empiris presipitasi dan anomali gaya berat. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data curah hujan yang didapatkan dari Stasiun Klimatologi Pondok Betung, Tangerang Selatan pada tahun 2012 sampai 2017. Dari hasil perhitungan, di wilayah Tangerang Selatan mengalami perubahan nilai gaya berat sebesar 9.56 - 17.14 uGal pada puncak musim penghujan dan 0.32 - 4.69 uGal pada puncak musim kemarau.

Pulau Sulaswei merupakan pulau yang seismisitasnya sebagian besar dipengaruhi oleh sesar Palu Koro dan sesar Matano. Gravity merupakan salah satu metode geofisika non-destruktif yang mengukur perbedaan kontras densitas bawah permukaan untuk interpretasi struktur geologi bawah permukaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi kedalaman sedimen dan batas diskontinuitas wilayah sesar Palu Koro menggunakan metode power spectral density.Data yang digunakan adalah data anomali gravity dari TOPEX disekitaran wilayah sesar Palu Koro. Metode analisis power spectral density merupakan metode yang menganalisis fenomena osilator harmonic di alam. Prinsip analisis spectral ini mengacu pada transformasi deret fourier, mengubah domaian waktu menjadi domain frekuensi. Dari hasil pengolahan diperoleh jika batuan sekitar sesar Palu Koro merupakan batuan Tersier dengan initial body density sebesar 2,4 gr/cm3 . Kedalaman diskontinuitas dangkal berkisar antara 595,8 m hiingga 2.3889 km dengan rata-rata kedalaman sebesar 1.4570 km. Sedangkan Kedalaman diskontinuitas dalam berkisar antara 13.0536 km hingga 76.204 km dengan rata-rata kedalaman sebesar 36.0987 km.

Telah terjadi hujan dengan intensitas lebat - sangat lebat di seluruh wilayah Kabupaten Kapuas Hulu pada tanggal 27 Mei 2018, sementara pada tanggal 28 Mei 2018 beberapa wilayah mengalami hujan dengan intensitas sedang - lebat. Sebelumnya pada tanggal 23 - 25 Mei 2018, telah terjadi hujan dengan intensitas lebat - sangat lebat di seluruh wilayah Kab. Kapuas Hulu. Faktor skala global yang dominan pada kejadian banjir ini adalah suhu muka air laut yang cukup hangat yang bisa berkontribusi dalam proses pembentukan awan-awan di wilayah Kalbar. Faktor skala synoptik yang ikut mendukung antara lain terbentuknya daerah konvergensi dan sirkulasi siklonik hal ini berpotensi memicu pertumbuhan awan konvektif yang dapat menimbulkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di beberapa wilayah Kalimantan Barat.

Banjir merendam sejumlah rumah di Kecamatan Baranti, Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan tiga desa yang terkena dampak banjir tersebut, yakni Desa Passeno, Tonronge, dan Simpo. Sumber (http://makassar.tribunnews.com/2018/05/14/banjir-landa-3-desa-di-baranti-sidrapratusan-rumah-terendam). Lokasi Banjir berada pada bagian Timur Laut Pegunungan Bawakaraeng. Saat ini BMKG telah memiliki beberapa peralatan untuk mengukur curah hujan pada wilayah Kabupaten Sidrap yang digunakan untuk monitoring terjadinya curah hujan besar akibat cuaca ekstream. Adapun lokasi banjir dan lokasi sebaran alat pengukur curah hujan (pos hujan) di ilustrasikan pada gambar dibawah ini.

Provinsi Aceh memiliki sumber distribusi gempabumi yang sangat aktif dibandingkan beberapa wilayah Indonesia, karena dipengaruhi oleh aktifitas Subduksi dan Sesar aktif disepanjang pulau Sumatera. Kejadian gempabumi di Provinsi Aceh sangat bervariasi pada daerah zona Subduksi dan Segmen Sesar dalam periode tertentu. Hal tersebut menjadi pembangkit gempabumi yang sering terjadi. Berdasarkan jumlah frekuensi kejadian gempabumi dapat diasumsikan tren keaktifan di zona seismotektonik wilayah Aceh semakin meningkat dikarenakan gempabumi dengan kekuatan magnitudo diatas 6 SR sering terjadi kurun waktu 20 tahun terakhir, sehingga intensitas pelepasan energi di sekitar patahan sumatera semakin tinggi. Data katalog sangat dibutuhkan sebagai referensi untuk merelokasi hiposenter gempabumi. Data waktu tiba gelombang yang digunakan dalam menentukan hiposenter adalah data katalog gempabumi BMKG-SeisComP3 periode 01 Maret 2018 sampai dengan 31 Maret 2018 dan batas kajian meliputi 1 derajat - 8.0 derajat LU dan 91.0 derajat - 99.0 derajat BT, dengan jumlah 52 event gempabumi dan Phase gelompang P dan S yang terekam berjumlah 1362 Phase P dan 265 Phase S. Kajian penentuan relokasi gempabumi ini menggunakan metode Double-Difference (hypoDD) berdasarkan analisis kuantifikasi data waktu tiba gelombang serta uji validasi hasil histogram residual waktu tempuh menggunakan model kecepatan 1-D Vp bawah permukaan IASP91.

Wilayah Kalimantan Barat dikenal berpotensi asap dan karhutla (kebakaran hutan dan lahan) saat memasuki periode penurunan curah hujan. Penurunan curah hujan salah satunya ditandai dengan terjadinya jeda hujan (hari tanpa hujan) yang dipengaruhi oleh kondisi fluktuasi atmosfer di wilayah Kalimantan Barat dan sekitarnya. Karakter iklim dan ciri khas kondisi dinamika atmosfer wilayah Kalimantan Barat dan beberapa kejadian bencana, seperti asap dan bencana hidrometeorologis menjadi sebuah keterkaitan, sehingga masyarakat Kalimantan Barat perlu bertindak aktif memonitor informasi iklim (impact based forecast) sebagai bagian mitigasi. Wilayah pesisir Kalimantan Barat banyak kemunculan titik panas pada bulan Februari 2018 lalu, jumlah kejadian titik panas pada periode dasarian kedua (sepuluh hari kedua) bahkan sekitar 376 kejadian. Berdasarkan kajian yang telah dilakukan oleh tim Stasiun Klimatologi Mempawah beberapa waktu lalu, secara umum setiap kejadian munculnya titik panas, karhutla bahkan asap selalu didahului dengan periode kering, periode kering termaksud adalah jeda hujan atau hari tanpa hujan yang terjadi berturut-turut selama beberapa periode.

Hujan lebat disertai angin kencang yang terjadi pada Senin tanggal 23 April 2018 selama beberapa jam telah membuat sejumlah titik terdampak bencana di sebagian wilayah di Kabupaten Purbalingga. Longsor dan banjir membuat puluhan rumah dan gedung SD terendam. Sedangkan penopang jembatan Sungai Wotan terancam putus. Tidak ada korban jiwa, namun dampak bencana banjir dan longsor membuat jalan dan jembatan harus ditutup sementara. Seperti banjir bandang yang merendam puluhan rumah dan SDN 1 Kertanegara di wilayah Dusun III. Genangan terjadi karena air Sungai Bringkang meluap. Longsor memutus akses jalan antar desa di Kertanegara karena pondasi jembatan Sungai Wotan ambrol. Untuk itu, perlu dilakukan analisis mengenai kondisi curah hujan dan dinamika atmosfer yang terjadi selama kejadian tersebut.

Hujan yang terjadi pada tanggal 25 April 2018 telah menyebabkan bencana banjir bandang di Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes. Berdasarkan informasi dari salah satu anggota ORARI Bumiayu, hujan lebat mengguyur sejumlah kecamatan di Brebes bagian selatan sehingga menyebabkan banjir bandang di sejumlah tempat. Selain merendam rumah dan menghanyutkan sejumlah kendaraan, banjir ini juga menyebabkan jembatan ambruk diterpa derasnya air. Untuk itu, perlu dilakukan analisis mengenai kondisi curah hujan dan dinamika atmosfer yang terjadi selama kejadian tersebut.

  • 23 Jun 2018, 06:05:46 WIB
  • 5.0 SR
  • 10 Km
  • 11.62 LS - 117.12 BT
  • 22 Jun 2018, 15:19:05 WIB
  • 4.3
  • 10 Km
  • 2.21 LS 100.6 BT
  • Pusat gempa berada di laut 63 km Barat Daya Pesisir Selatan
  • Dirasakan (Skala MMI) : II Padang,
  • Selengkapnya →

Siaran Pers & Info Aktual