Sebaran Puting Beliung di Pulau Jawa

  • 06 Mar 2018
  • Drs. ACHMAD ZAKIR, MMSI (Lektor)
  • Fazrul Rafsanjani Sadarang, Sindy Maharani, Betsi (Taruna Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika)

Katanya puting beliung selalu terjadi di musim pancaroba dan selau terjadi pada sang hari, benarkah ?. itu baru sebatas katanya. Dalam tulisan ini akan dibahas pengetahuan tentang definisi puting beliung atau tornado, skala Fujita dan kajian frekuensi sebaran puting beliung di Pulau Jawa. Pengetahuan terinfirasi pada tulisan tentang puting beliung atau tornado yang kemukan oleh A.zakir, 2008 yang sering dimuat pada media cetak dan elektronik dan juga terinfirasi dari sebaran tornado di USA. Tulisan ini menguatkan bahwa hasil penlitian sebelumnya bahwa memang puting beliung itu banyak terjadi disaat musim pancaroba, karena selama ini kami belum pernah menemukan hasil penelitan kuantitatif tentang puting beliung, apakah selalu terjadi siang atau malam, atau terjadi disaat pancaroba, karena baru sebatas hanya katanya, tapi secara ilmiah belum kami temukan di Indonesia.


Klik tautan ini jika PDF di atas tidak muncul.

Artikel Lainnya

Belasan rumah di dusun 5, Kampung Mahabang Kecamatan Dente Teladas, Tulang Bawang pada hari sabtu(23/06) pagi porak-poranda akibat terjangan angin puting beliung. Camat Dente Teladas Ketut Romeo membenarka peristiwa tersebut. Angin puting beliung tersebut menerjang belasan rumah di Kampung Mahabang sekitar pukul 10.00 WIB. Beruntung tidak ada korban jiwa, namun sebagian pepohonan dan atap-atap rumah warga mengalami kerusakan. (sumber www.radarlampung.co.id). Kampung Mahabang adalah sebuah desa yang berada dekat dengan laut. Topografi desa ini yang berada dipinggir laut atau pesisir, menjadikan daerah tersebut mudah berubah kondisi cuacanya karena dipengaruhi kondisi lokal(angin darat/laut). Berdasarkan Analisa SATAID diketahui bahwa pengaruh cuaca skala lokal yang kuat dan diperkuat adanya Shearline di atas perairan Lampung memberikan pengaruh dalam pembentukan awan Cb multi sel penyebab kejadian puting beliung.

Pada pertengahan bulan Juli hingga awal bulan Agustus 2018, masyarakat NTT merasakan suhu udara yang dirasakan sangat dingin pada malam hingga pagi hari. Saking dinginnya suhu udara yang dirasakan hampir mendekati suhu udara yang kita rasakan apabila berada di daerah pegunungan seperti di Kabupaten Manggarai yang memiliki ketinggian lebih dari 1000 meter di atas permukaan laut (mdpl). Dimana suhu dingin tersebut kini bisa dirasakan di dataran rendah dengan ketinggian 0 - 200 meter dpl yang membuat lantai keramik dan suhu air di kamar mandi yang dirasakan menjadi dingin hingga menjelang tengah hari. Bahkan pada hari Sabtu tanggal 14 Juli 2018 kemarin, suhu udara minimum yang tercatat di Stasiun Klimatologi Kupang (19 mdpl) mencapai 18.6 derajat C, dimana suhu udara ini merupakan suhu udara terdingin sepanjang tahun 2018.

Kabut Asap, Mimpi Buruk Masyarakat di Musim Kemarau

Analisis Kejadian Hujan Lebat di Medan dan Sekitarnya (29 Juli 2018)

Cuaca dengan segala problematikanya telah berlangsung berjuta-juta tahun lamanya sejak terbentuk bumi dan segala isinya. Cuaca dengan segala problematikanya pun telah dirasakan dan didokumentasikan oleh manusia sejak petama kali manusia mulai mampu menuliskan sejarahnya dan mengenal peradaban. Cuaca adalah sesuatu yang lekat dan tidak pernah terlepas dari perjalanan kehidupan manusia mulai dari masa lampau hingga masa kini.

Sejumput Ibrah dari Fenomena Hilal Dzulhijjah 1439 Hijriah

Stasiun pengamat magnet adalah tempat dimana sensor pengukur variasi medan magnet bumi di letakan. Variasi medan magnet bumi ini merupakan representasi dari aktivitas medan magnet bumi baik yang berasal dari inti bumi (main magnetic field) ataupun berasal dari medan magnet yang dihasilkan di luar inti bumi (external field). Sudah menjadi hal yang umum jika penempatan sensor magnet harus memenuhi beberapa kriteria tertentu. Kriteria yang paling mendasar adalah sensor magnetic harus diletakan di tempat yang jauh dari potensi gangguan atau noise seperti jalur kereta api, pemukiman, jaringan listrik dan lautan yang dapat menganggu nilai natural dari medan magnet bumi. Pada kesempatan kali ini Kami ingin membagikan apa yang kami dapatkan dari IAGA workshop ke XVIII pada tahun 2018 yang berlokasi di Conrad Observatory, Vienna, Austria.

Provinsi Sumatera Barat merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki potensi gempabumi dan tsunami yang tinggi. Tiga sumber utama pembangkit gempabumi aktif di wilayah ini yaitu jalur subduksi / penujaman lempeng (Megathrust), sesar Mentawai (Mentawai fault) dan sesar besar Sumatera (the great Sumatran fault). Berdasarkan catatan sejarah, bencana gempabumi merusak di wilayah Sumatera Barat pernah terjadi pada tahun 1822, 1835, 1981, 1991, 2005, dan 2009 di Padang, 1926 dan 1943 di Singkarak, 1977 di Pasaman, 2003 di Agam, serta tahun 2007 di Bukittinggi. Gempabumi yang disertai tsunami pernah terjadi pada tahun 1861 di Mentawai, 1904 di Sori-sori dan pada tahun 2010 kembali terjadi di Mentawai. Jika dilihat dari aktifitas seismik yang terjadi diwilayah Sumatera Barat dalam kurun waktu setengah tahun ini, kejadian yang terjadi cukup signifikan. Dari awal bulan Januari hingga Juni 2018, Stasiun Geofisika Kelas I Silaing Bawah telah mencatat 75 kejadian gempabumi dengan Magnitudo berkisar 2.3 SR hingga 4.9 SR.

Berdasarkan hasil analisis kondisi meteorologis di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kejadian banjir akibat hujan lebat di Kecamatan Mowewe Kabupaten Kolaka Timur disebabkan oleh beberapa hal diantaranya : 1. Suhu muka laut (SST) yang hangat. 2. Kelembaban udara di lapisan 850 mb hingga 700 mb yang sangat tinggi. 3. Adanya konvergensi yang diakibatkan perlambatan kecepatan angin. 4. Terdapat awan konvektif di wilayah Kecamatan Mowewe Kabupaten Kolaka Timur yang menyebabkan hujan Sedang hingga Lebat.

Seperti kita ketahui wilayah Nusa Tenggara Barat merupakan wilayah yang memiliki perkembangan pesat perekonominya dalam 5 tahun terakhir, yang mana sumber ekonomi terbesar tersebut adalah dari sektor pertanian, perkebunan serta petambangan dan pariwisata. Hingga akhir tahun 2017 Badan Pusat Statistik (BPS) Nasional merilis terus terjadi peningkatan pemasukan ekonomi dari beberapa sektor yang telah disebutkan diatas. Walaupun dalam kondisi yang sama terjadi peningkatan juga dari masyarakat Indonesia yang terjangkit penyakit baik itu Demam Berdarah Dengeu (DBD), Ispa, demam, influenza dan lain sebagainya. Arti nya ketika di periode puncak musim kemarau hingga peralihan musim sangat berpengaruh erat terhadap beberapa aktifitas masyarakat.

  • 20 Sep 2018, 09:36:43 WIB
  • 5.0 SR
  • 126 Km
  • 4.32 LU - 127.64 BT
  • 21 Sep 2018, 01:29:36 WIB
  • 3.4
  • 10 Km
  • 8.4 LS 116.16 BT
  • Pusat gempa berada di darat 10 km Timur Laut LOMBOK BARAT
  • Dirasakan (Skala MMI) : II Lombok Utara,
  • Selengkapnya →

Siaran Pers & Info Aktual