PENELITIAN MIKROTREMOR ZONA GRABEN BANTUL MEMBAWA GELAR DOKTOR PEGAWAI BMKG
YOGYAKARTA - Daerah Bantul secara tektonik merupakan salah satu kawasan gempabumi aktif di Indonesia. Sejarah kegempaan Jawa menunjukkan bahwa sejak dahulu, zona Graben Bantul merupakan kawasan yang selalu mengalami kerusakan parah setiap terjadi gempabumi kuat. Gempabumi Bantul 10 Juni 1867 menyebabkan ribuan rumah rusak dan lebih dari 500 orang meninggal. Gempabumi 23 Juli 1943 menyebabkan 15.275 rumah rusak dan lebih dari 213 orang meninggal. Tanggal 27 Mei 2006, zona Graben Bantul kembali diguncang gempabumi tektonik. Meskipun kekuatan gempabumi relatif kecil (Mw6,4), tetapi mengakibatkan lebih dari 6.000 orang meninggal dan 1.000.000 orang kehilangan tempat tinggal.
Gempabumi Bantul 27 Mei 2006 menyimpan tanda tanya terkait lokasi episenter dan persebaran kerusakan yang ditimbulkannya. Teori yang menyatakan bahwa tingkat kerusakan gempabumi akan menurun terhadap bertambahnya jarak dari episenter ternyata tidak sepenuhnya benar, karena hal ini tidak berlaku pada kasus gempabumi Bantul 27 Mei 2006. Daerah kerusakan rumah paling parah justru terkonsentrasi di zona Graben Bantul yang lokasinya di atas 15 kilometer dari episenter, sementara daerah yang lokasinya berdekatan dengan episenter di sebelah timur zona Graben Bantul hanya mengalami kerusakan ringan. Persebaran kerusakan rumah di zona Graben Bantul menjadi fenomena unik mengingat lokasi episenter gempabumi tidak terletak di zona kerusakan.
Bentuk lahan merupakan bagian dari permukaan Bumi yang memiliki bentuk topografi yang khas, akibat pengaruh kuat dari poses alam dan struktur geologis pada material batuan dalam ruang dan waktu kronologis tertentu. “Survei pengukuran mikrotremor pada setiap satuan bentuklahan di zona Graben Bantul perlu dilakukan untuk menjawab keunikan persebaran kerusakan rumah akibat local site effect saat gempabumi. Pengukuran mikrotremor dapat mengetahui indeks kerentanan seismik pada setiap satuan bentuklahan. Setiap satuan bentuklahan dengan segala karakteristiknya memiliki respon tertentu terhadap gelombang seismik yang mengenainya,” kata Daryono, S.Si., M.Si., pada ujian terbuka doktor Ilmu Geografi di Auditorium Merapi Fakultas Geografi UGM, Sabtu (24/12). Dalam kesempatan itu, Daryono mempertahankan disertasi yang berjudul Indeks Kerentanan Seismik Berdasarkan Mikrotremor pada Setiap Satuan Bentuklahan di Zona Graben Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta .
Adanya variasi relief dan jenis material penyusun pada setiap satuan bentuklahan dapat mempengaruhi karakteristik kerentanan seismik pada setiap satuan bentuklahan tersebut, sehingga bentuklahan diyakini dapat memberi informasi penting dalam analisis kerentanan seismik. Dalam penelitiannya, Daryono berupaya mengkaji indeks kerentanan seismik berdasarkan mikrotremor pada setiap satuan bentuklahan untuk menggambarkan secara empiris tingkat kerentanan seismik setiap satuan bentuklahan saat terjadi gempabumi. “Hasil kajian ini diharapkan menghasilkan peta kerentanan seismik berbasis satuan bentuklahan yang dapat dimanfaatkan sebagai dasar pembangunan wilayah berbasis pengurangan risiko bencana gempabumi,” imbuh pria kelahiran Semarang, 21 Pebruari 1971 ini.
Disertasi yang disusun Daryono menggunakan pendekatan spasial dengan satuan bentuklahan sebagai satuan analisis. Teknik pengambilan data mikrotremor menggunakan proportional purposive sampling, sedangkan analisis data mikrotremor dilakukan menggunakan Metode Horizontal to Vertical Spectrum Ratio (HVSR).
Daryono menambahkan, penelitiannya menghasilkan beberapa kesimpulan, antara lain:pertama, semakin unconsolidated material penyusun bentuklahan akan menyebabkan semakin besar nilai indeks kerentanan seismik, ground shear-strain, dan rasio kerusakannya, sehingga indeks kerentanan seismik berdasarkan mikrotremor dapat digunakan untuk memprediksi “zona lemah”, yaitu kawasan yang berpotensi akan terjadi kerusakan, likuifaksi, dan rekahan tanah jika terjadi gempabumi kuat. Kedua, kondisi geomorfologi yang mempengaruhi variasi indeks kerentanan seismik di daerah penelitian adalah relief muka bumi, jenis material penyusun bentuklahan, ketebalan sedimen, dan kedalaman muka airtanah. “Ada korelasi signifikan antara indeks kerentanan seismik berdasarkan mikrotremor dengan ketebalan sedimen dan kedalaman muka airtanah, sehingga persebaran kerusakan rumah akibat gempabumi Bantul 27 Mei 2006 yang terkonsentrasi di zona Graben Bantul merupakan fenomena local site effect yang disebabkan oleh tingginya indeks kerentanan seismik pada satuan bentuklahan Dataran Fluviovulkanik Merapi Muda dan Dataran Kaki Vulkanik Merapi Muda,” papar Daryono, S.Si., M.Si., dalam acara Ujian Terbuka Promosi Doktor tersebut.
Disertasi hasil kolaborasi gabungan antara pendekatan Geofisika (mikroremor) dan Geomorfologi (satuan bentuklahan) ini telah menghasilkan dua temuan penting dalam hal metode dan teori baru dalam kajian bahaya gempabumi deterministik (deterministic seismic hazard analysis). Pertama, secara metodologis disertasi ini menghasilkan metode baru karena penelitian ini menjadikan satuan bentuklahan sebagai objek kajian indeks kerentanan seismik, sebuah cara penelitian yang belum pernah dilakukan oleh para peneliti terdahulu.
Pengukuran mikrotremor pada setiap satuan bentuklahan dapat mengetahui respon dan karakteristik kerentanan seismik pada setiap satuan bentuklahan, sehingga daerah yang berpotensi mengalami kerusakan jika terjadi gempabumi dapat diprediksi hanya dengan mengetahui satuan bentuklahannya. Disertasi ini merupakan penelitian inovasi guna membuka cakrawala baru mengenai pentingnya menjadikan satuan bentuklahan (landform units) sebagai objek kajian mitigasi bencana gempabumi.
Temuan kedua, secara konseptual/teoritis disertasi yang disusun Daryono telah menghasilkan teori baru, yaitu indeks kerentanan seismik, ground shear-strain, dan rasio kerusakan berubah mengikuti satuan bentuklahan. Konsep ini merupakan teori baru dalam deterministic seismic hazard analysis yang belum pernah dikemukakan oleh para peneliti terdahulu.
Disertasi hasil kolaborasi gabungan antara pendekatan Geofisika (mikroremor) dan Geomorfologi (satuan bentuklahan) ini telah menghasilkan dua temuan penting dalam hal metode dan teori baru dalam kajian bahaya gempabumi deterministik (deterministic seismic hazard analysis). Pertama, secara metodologis disertasi ini menghasilkan metode baru karena penelitian ini menjadikan satuan bentuklahan sebagai objek kajian indeks kerentanan seismik, sebuah cara penelitian yang belum pernah dilakukan oleh para peneliti terdahulu.
Pengukuran mikrotremor pada setiap satuan bentuklahan dapat mengetahui respon dan karakteristik kerentanan seismik pada setiap satuan bentuklahan, sehingga daerah yang berpotensi mengalami kerusakan jika terjadi gempabumi dapat diprediksi hanya dengan mengetahui satuan bentuklahannya. Disertasi ini merupakan penelitian inovasi guna membuka cakrawala baru mengenai pentingnya menjadikan satuan bentuklahan (landform units) sebagai objek kajian mitigasi bencana gempabumi.
Usai mempertahankan disertasinya di hadapan Dewan Penguji, yang terdiri dari:Prof. Dr. Suratman, M.Sc. (Geomorfologi), Prof. Dr. Sutikno (Geomorfologi), Prof. Dr. Dulbahri (Penginderaan Jauh/GIS), Prof. Dr. Kirbani Sri Brotopuspito (Geofisika), Prof. Dr. rer. nat. Junun Sartohadi, M.Sc. (Geomorfologi), Dr. Sunarto, M.S. (Geomorfologi), Dr. Wahyudi, M.Sc. (Geofisika), dan Dr. Jaya Murjaya, M.Si. (Geofisika), akhirnya Daryono dinyatakan lulus sebagai Doktor. Dengan diraihnya gelar tersebut, Daryono menjadi doktor ke-1529 dari Universitas Gadjah Mada (UGM).
Tahun ini, BMKG menyelenggarakan workshop Internasional dalam mendukung adaptasi dan mitigasi perubahan iklim pada sektor transportasi dan pariwisata di Hotel Ritz Carlton selama dua hari dari Selasa, 15 Mei hingga Rabu, 16 Mei 2012. Workshop ini dihadiri oleh perwakilan dari instansi pemerintah, para ilmuan dari universitas, dan para peneliti pada bidang transportasi dan pariwisata. Selain itu, pada workshop kali ini menghadirkan para pembicara dari BMKG, Kementerian Perhubungan, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, ITB, IPB, dan UGM serta para pembicara dari luar negeri yang berpengalaman pada bidang transportasi dan pariwisata dari Belanda, Thailand, dan Australia.
Jurnal Meteorologi dan Geofisika (JMG) yang dikelola oleh Puslitbang BMKG memperoleh pengakuan sebagai majalah ilmiah terakreditasi dengan diserahkannya SK Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tentang Hasil Akreditasi Majalah Ilmiah dan Sertifikat Akreditasi Majalah Ilmiah untuk JMG.
Bertempat di ruang rapat Biro umum, Selasa (1/5) diadakan serah terima jabatan dari Pelaksana Harian Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Banjarbaru, Suryanti Agustina . SP kepada Ir. Purwanto, Kepala Stasiun Klimatologi Kelas II Lasiana kupang.
Jumat, (27/4) RAKH Indro Pandu, Sekretaris tim penyusunan peta resiko gempa skala mikro (mikrozonasi) dari BMKG mengatakan di area kantor BMKG telah dilakukan pengeboran sebagai bagian dari penyusunan peta resiko gempa skala mikro (mikrozonasi) guna mengidentifikasi sesar aktif di Jakarta; pengambilan sample tanah untuk mengetahui parameter geofisika dan geoteknik; dan pemasangan accerelograf untuk mengetahui pengaruh kondisi tanah terhadap perlambatan gelombang gempa dari batuan dasar ke permukaan.
Sosialisasi bidang Meteorologi Klimatologi dan Geofisika kepada media massa yang di gelar oleh Humas BMKG, dibuka walikota Pontianak H.Sutarmidji,S.H,M.Hum di dampingi Deputi Meteorologi Drs.Tuwamin Mulyono dan Kepala Biro Hukum dan Organisasi Darwahyuniati,S.H.,M.H.,di hotel Orchadz Pontianak, Kamis (19/4).
Koperasi Pegawai Negeri BMKG menyelenggarakan Rapat Anggota Tahunan Tahun Buku 2011 di Ruang Auditorium BMKG, Rabu (18/4). Koperasi Pegawai Negeri BMKG telah mengalami perkembangan jumlah anggota, yaitu pada tahun 2007 sebanyak 1.040 dan pada tahun 2011 sebanyak 1.155,tutur Dr. Andi Eka Sakya, Sekretaris Utama. Lebih lanjut, Andi Eka Sakya mengutarakan bahwa kita berusaha memperjuangkan dan mempertahankan koperasi pegawai negeri BMKG untuk dapat memberikan kontribusi positif.
Rabu ( 18/4 ) Pusat Penelitian Dan pengembangan BMKG meyelenggarakan kegiatan Seminar bulanan Scientific Jurnal Club bertempat di ruang Crisis Center. Dihadiri Kepala Pusat Litbang Dr. Masturyono, dengan pembicara yang berasal dari Akademi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, juga Kantor Pusat.
Evaporimeter adalah alat untuk mengukur penguapan,tutur Salah salah satu staf Petugas Stasiun Meteorologi 745 Jakarta saat menjelaskan kepada siswa SD Bangun Mandiri yang melakukan kegiatan study tour ke BMKG, Selasa (10/4). Pada study tour kali ini, mereka melakukan pengamatan di beberapa lokasi, yaitu Stasiun Meteorologi 745 Jakarta, Stasiun Geofisika, dan Slimulator gempa bumi.
Kepala BMKG Dr.Ir.Sri Woro B.Harijono,MSc menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan Vice Administrator, China National Earthquake Administration(CEA) Liu Yucheng di saksikan Menteri Kordinator bidang Ekonomi RI M.Hatta Rajasa dan Vice Premier of The State Council of The Peoples Republic of China/ wakil PM RRC Hui Liangyu, senin(9/4).