Mewaspadai Musim Kemarau Di Luwu Raya

Oleh : Tekad Sumardi
Kepala Stasiun Meteorologi Andi Jemma Masamba BMKG

Puncak musim hujan di Luwu Raya yang terjadi antara bulan April sampai bulan Juli telah berakhir. Dimana curah hujan rata rata 400-500 mm/bulan dengan jumlah hari hujan 90 %. telah mendatangkan banyak keuntungan diberbagai sektor pertanian, perkebunan maupun perikanan. Disektor lain ada beberapa kerugian yang mungkin timbul misalnya banjir bandang, tanah longsor dan akibat lainnya.

Memasuki bulan agustus maka diprediksi akan dimulainya musim kemarau. Seperti halnya musim hujan, musim kemaraupun dampaknya begitu terasa bagi masyarakat bahkan kerugian yang timbul lebih besar dari pada musim hujan. Kondisi tersebut antara lain adalah amplitudo atau perbedaan suhu udara yang tinggi dengan kelembaban udara yang rendah mempengaruhi kondisi tubuh sehingga menyebabkan banyak penyakit yang muncul. Saat kemarau, curah hujan yang sangat sedikit akan mempengaruhi berbagai sektor pembangunan. Contoh di sektor pertanian petani gagal panen, penanaman bibit hortukultura gagal dan mati. Di sektor perikanan, debit air kurang sehingga tambak udang atau ikan mengering. Di bidang pembangkit listrik mikro hidro, debit air sungai sangat menurun sehingga kerja turbin menurun dan pasokan listrik akan berkurang serta masih banyak lagi kerugaian di berbagai sektor kehidupan.

Adanya warning dari BMKG akan terjadinya Elnino lemah hingga sedang tentu akan mempengaruhi kondisi iklim di wilayah Luwu Raya. Seperti yang terjadi pada kejadin ELNINO kuat pada tahun 1997 yang mana terjadi kekeringan yang hebat dimana curah hujan pada waktu itu sangat kecil. Untuk curah hujan Luwu Utara bulan Agustus tercatat 26 mm padahal normalnya 250 mm, bulan September hanya 7 mm (normalnya 210 mm) sedangkan bulan Oktober hanya 10 mm (normalnya 205 mm). Jadi selama 3 bulan yaitu antara Agustus sampai Oktober curah hujan hanya mencapai 43 mm. Bisa dibayangkan bagaimana keringnya kondisi saat itu. Sehingga dari kejadian tersebut, masyarakat dan pemerintah Luwu Raya patut memperhatikan kondisi kemarau yang akan terjadi di wilayah luwu raya dan sekitarnya. Prediksi BMKG sendiri, untuk 3 bulan ke depan dari bulan Agustus hingga bulan Oktober wilayah Luwu Raya akan mengalami curah hujan di bawah normal, kurang lebih 100-150 mm/bulan dan normalnya kurang lebih 200 mm/bulan.

Untuk mengantisipasi dan mengurangi dampak buruk serta resiko kerugian yang lebih besar dari musim kemarau tersebut agar ditindaklanjuti dengan langkah-langkah yang konkret baik dari masyarakat maupun pemerintah. Misalnya di bidang pertanian, sawah tadah hujan agar memperbaiki irigasi yang rusak supaya penyebaran air meluas dan merata. Penanaman bibit buah- buahan maupun holtikura lainnya menunggu musim hujan tiba, menghindari pembukaan lahan dengan sistim pembakaran,tidak membuang puntung rokok di sembarang tempat karena udara yang kering dan angin yang bertiup kencang akan menyebabkan kebakaran baik rumah maupun hutan lindung. Sekiranya terjadi kemarau yang panjang alangkah baiknya untuk mengadakan sholat istiqa(sholat agar memohon hujan turun).

::: wbi


  » Informasi lainnya...

Mewaspadai Musim Kemarau Di Luwu Raya [19/8/2014]
Puncak musim hujan di Luwu Raya yang terjadi antara bulan April sampai bulan Juli telah berakhir. Dimana curah hujan rata rata 400-500 mm/bulan dengan jumlah hari hujan 90 %. telah mendatangkan banyak keuntungan diberbagai sektor pertanian, perkebunan maupun perikanan. Disektor lain ada beberapa kerugian yang mungkin timbul misalnya banjir bandang, tanah longsor dan akibat lainnya.


BMKG Online Group Discussion Ke 2 [17/7/2014]
Kesuksesan penyelenggaraan Online Group Discussion (OGD) yang pertama Jumat, 16 Mei 2014 yang lalu, mendorong Pusat Pendidikan menyelenggarakan Online Group Discussion ke-2 (OGD#2). Sedikit berbeda dengan kegiatan sebelumnya yang mengambil tema di bidang meteorologi - klimatologi, maka OGD#2 memilih tema tentang seismologi, untuk mengakomodir permintaan dari rekan-rekan geofisika kepada Pusdiklat BMKG, yang disampaikan dalam berbagai kesempatan.


Suhu Jakarta Turun Ekstrim hingga 9 derajat Celcius dalam sehari [16/7/2014]
Pada tanggal 13 Juli 2014 Jakarta mengalami penurunan suhu drastis hingga mencapai suhu 23,6°C dari sekitar 31,2°C. Fenomena ini langka terjadi, terutama di wilayah DKI Jakarta. Oleh karenanya, Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG kemudian melakukan analisa pada 6 stasiun di wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Tengah (Cengkareng, Kemayoran, Tj. Priok, Curug, Cilacap, Citeko dan Dramaga) dan memperoleh hasil seperti pada Grafik 1.


Dukungan Informasi Cuaca untuk Pariwisata [14/7/2014]
Geliat perekonomian nasional terus didorong oleh pemerintah di berbagai sektor, salah satunya adalah sektor pariwisata. Berdasarkan data yang dihimpun BPS dan Pusdatin Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, disebutkan bahwa jumlah kunjungan wisatawan mancanegara selama 5 bulan pertama tahun 2014 (Januari-Mei) mencapai 3,7 juta orang atau tumbuh sebesar 9,96% dibanding periode yang sama pada tahun 2013 (Kompas 2 Juli 2014). Pertumbuhan tersebut dapat ditingkatkan lagi dengan mempromosikan daerah-daerah tujuan wisata baru yang selama ini belum dikenal atau sudah dikenal, tapi kemudahan akses transportasi ke daerah tersebut belum memadai. Akses transportasi ke daerah tujuan wisata baru tersebut dapat ditingkatkan lagi dengan membuka rute penerbangan baru dan meningkatan frekuensi penerbangannya. Saat ini sudah banyak dibuka penerbangan ke kota-kota kecil tujuan wisata, namun belum dilayani penerbangan regular, seperti ke Banyuwangi, Labuhan Bajo, Raja Ampat, Wakatobi (Sultra), Silangit (Sumut), dan Kalimarau-Berau (Kaltim).


Peran Pendidikan dan Pelatihan Dalam Membentuk Agen Perubahan Di BMKG [8/7/2014]
Perubahan adalah suatu proses yang sistimatis dengan menerapkan pengetahuan, sarana dan sumber daya yang diperlukan suatu organisasi dari kondisi saat ini (lama) menjadi kondisi yang diinginkan (baru) menuju kearah kinerja yang lebih baik. Perubahan bukanlah satu proses yang sederhana, melainkan sangat komplek karena menyangkut struktur, proses, orang, pola pikir dan budaya kerja. Perubahan dalam reformasi birokrasi mengharuskan adanya transparansi, komunikasi dan keterlibatan semua pihak dalam proses perubahan reformasi birokrasi. Perubahan tidak harus selalu berarti mengganti sama sekali kondisi lama, akan tetapi juga dapat berbentuk terobosan baru, peningkatan pola lama, memberikan nilai tambah yang lebih ekonomis, efisien atau melakukan modifikasi dengan hasil yang lebih menguntungkan. Salah satu contoh yang representatif adalah adanya perubahan di Website BMKG, yaitu perubahan dari versi lama yang terkesan statis, monoton, kurang variatif dengan materi terbatas, menjadi tampilan seperti yang saat ini , yang terlihat lebih dinamis, variatif dan terus diperbaharui.


Menyikapi Tantangan Perubahan dalam Organisasi [7/7/2014]
Secara tidak sadar kita selalu menerima perubahan. Berjalannya waktu selalu memberi perubahan pada kita, antara lain: umur kita berubah, rambut berubah, keluarga berubah dan lingkungan kita juga berubah. Itu semua berjalan secara alamiah dan kita terima sebagai keniscayaan. Suasana kampanye pilpres tentu saja juga memberikan harapan akan ada perubahan di negara kita. Pada lingkup yang lebih kecil seperti BMKG, sepertinya juga sedang terjadi perubahan. Jajaran pimpinan BMKG yang lahir pada awal-sampai pertengahan tahun 50an akan habis (pensiun) pada akhir tahun 2014 dan digantikan oleh generasi berikutnya. Pergantian pimpinan BMKG di berbagai level kali ini menjadi tonggak perubahan penting karena hampir berbarengan dengan dimulainya pelaksanaan RPJMN 2015-2019 dan RENSTRA BMKG 2015-2019 serta terpilihnya presiden baru tahun ini. Kondisi tersebut ditengarai akan mempunyai konsekuensi adanya perubahan yang signifikan, sebagai bagian dari dinamika organisasi. Ditambah lagi dengan adanya perubahan sistem baik secara internal maupun eksternal yang akan memberi kontribusi besar terhadap perubahan tata kelola organisasi.


INFORMASI PEMODELAN TSUNAMI BMKG UNTUK NEGARA NEGARA SAMUDERA HINDIA [3/7/2014]
Akibat pengaruh tektonik aktif, Indonesia menjadi wilayah berpotensi tsunami di Samudera Hindia. Belajar dari kasus Tsunami Aceh, 26 Desember 2004 maka negara-negara sekitar samudera ini terus berbenah menghadapai bencana tsunami lokal dan far-field.


MENGELOLA ALAM DENGAN KEARIFAN LOKAL [2/7/2014]
Kita harus meninggalkan mata air buat anak cucu kita, jangan tinggalkan air mata. Demikian sepenggal kata bijak yang disampaikan seorang kepala kampung dalam satu acara televisi lokal Papua beberapa bulan yang lalu.


DIKLAT sebagai Motor Penggerak, Investasi dalam Meningkatkan Kinerja BMKG [26/6/2014]
Berdasarkan pp 101 tahun 2000 tentang Pendidikan dan Pelatihan Jabatan Pegawai Negeri Sipil, disebutkan dalam Bab I, pasal 1 bahwa Pendidikan dan Pelatihan Jabatan Pegawai Negeri Sipil yang selanjutnya disebut DIKLAT adalah proses penyelenggaraan belajar mengajar dalam rangka meningkatkan kemampuan Pegawai Negeri Sipil.


Sejarah Dampak El Nino di Indonesia [13/6/2014]
El Nino adalah suatu gejala penyimpangan kondisi laut yang ditandai dengan meningkatnya suhu permukaan laut (sea surface temperature-SST) di samudra Pasifik sekitar equator (equatorial pacific) khususnya di bagian tengah dan timur (sekitar pantai Peru). Karena lautan dan atmosfer adalah dua sistem yang saling terhubung, maka penyimpangan kondisi laut ini menyebabkan terjadinya penyimpangan pada kondisi atmosfer yang pada akhirnya berakibat pada terjadinya penyimpangan iklim.



Prakiraan Cuaca
21 October 2014
Medan
Hujan Ringan
23 - 33°C
Padang
Hujan Ringan
22 - 30°C
Palembang
Hujan Ringan
24 - 34°C
Bengkulu
Berawan
24 - 32°C
Pontianak
Hujan Sedang
23 - 33°C
Palangkaraya
Hujan Ringan
23 - 33°C
Manado
Hujan Ringan
23 - 33°C
Makassar
Berawan
24 - 33°C
Ternate
Hujan Ringan
24 - 32°C
Ambon
Berawan
24 - 30°C
Jayapura
Hujan Sedang
23 - 32°C
Sorong
Hujan Ringan
24 - 31°C
Kupang
Cerah
22 - 36°C
Denpasar
Hujan Ringan
24 - 33°C
Jakarta
Hujan Ringan
24 - 34°C
Bandung
Hujan Ringan
22 - 32°C
Semarang
Berawan
24 - 35°C
Surabaya
Cerah Berawan
25 - 36°C
Selengkapnya
Gempabumi Terkini
21 Oktober 2014 - 15:20:48 WIB


Lokasi :
3.83 LU - 128.63 BT
Kedalaman : 10 Km

166 km TimurLaut PULAUMOROTAI-MALUT
tidak berpotensi TSUNAMI
Selengkapnya