Beranda » Klimatologi » Informasi Perubahan Iklim

KAJIAN PERUBAHAN IKLIM WILAYAH PULAU BALI

I. Pendahuluan

Berdasarkan Laporan IPCC 2007 disebutkan bahwa perubahan iklim ditandai dengan adanya perubahan beberapa paramer iklim atau kejadian, antara lain : a. Perubahan Suhu Permukaan Bumi b. Perubahan Curah Hujan c. Perubahan pada kejadian cuaca ekstrim d. Perubahan tutupan es/salju e. Perubahan Tinggi Muka laut Pada kesempatan ini kami akan menyajikan kajian tentang perubahan iklim yang telah dilakukan di wilayah Pulau Bali.
II. Perubahan Temporal Parameter Iklim

Mengacu pada data temperatur rata-rata bulanan selama periode Januari 1979 hingga Desember 2010, pola temperatur di StaMet Ngurah Rai Denpasar-Bali menunjukkan trend kenaikan seperti ditunjukkan Gambar 1. Berdasarkan Gambar 1, temperatur rata-rata bulanan tertinggi terjadi pada bulan April 1993 yakni sebesar 29,7oC. Sedangkan temperatur rata-rata bulanan terendah terjadi pada bulan Juni 1980 sebesar 23,0oC.


Gambar 1. Pola Temperatur rata-rata bulanan di Denpasar Januari 1979 - Desember 2010


Merujuk pada data curah hujan bulanan selama periode Januari 1979 hingga Desember 2010, pola curah hujan bulanan di wilayah StaMet Ngurah Rai Denpasar-Bali menunjukkan trend kenaikan, seperti ditunjukkan pada Gambar 2. Berdasarkan Gambar 2 curah hujan bulanan maksimum terjadi pada bulan Maret 1984 yakni sebesar 706,4 mm. Sedangkan curah hujan bulanan minimum terjadi pada bulan Juni 1996/2002, Juli 1982, Agustus 1994/1995/1997/1998/2000, September 1982/1999, dan Oktober 1994/2002 yaitu sebesar 0 mm.


Gambar 2. Pola Curah Hujan bulanan di Denpasar Januari 1979- Desember 2010


Berdasarkan Gambar 3 menunjukkan perbandingan data curah hujan bulanan di wilayah Bali dari dua periode waktu yaitu antara periode 1979-1994 dan periode 1995-2010 dengan menggunakan metode statistik distribusi normal. Hasil analisis secara keseluruhan tidak menunjukkan perubahan pola frekuensi kejadian curah hujan bulanan yang signifikan, namun terdapat peningkatan frekuensi kejadian curah hujan bulanan 300 mm dimana frekuensi curah hujan bulanan 300 mm pada periode 1995-2010 lebih tinggi daripada periode 1979-1994.



Gambar 3. Pola Frekuensi Curah Hujan Bulanan di Stamet Ngurah Rai - Denpasar


Berikutnya disajikan grafik pola kecenderungan (trend) dari panjang musim hujan dan kemarau di dua pos hujan yaitu: pos hujan Abiansemal Kabupaten Badung dan pos hujan Pohsanten Kabupaten Jembrana. Lokasi masing-masing pos hujan Abiansemal di 115.21 BT dan -8.51 LS, Pohsanten di 114.69 BT dan -8.34 LS.



Gambar 4. Panjang musim hujan di Kab. Badung (a) dan Kab. Jembrana (b)


Berdasarkan Gambar 4 trend panjang musim hujan untuk kedua wilayah menunjukkan trend kenaikan, artinya kecenderungan panjang musim hujan di Kabupaten Badung dan Kabupaten Jembrana semakin panjang.



Gambar 5. Panjang musim kemarau di Kab. Badung (a) dan Kab. Jembrana (b)


Berdasarkan Gambar 5 trend panjang musim kemarau untuk kedua wilayah menunjukkan trend penurunan, artinya kecenderungan panjang musim hujan di Kabupaten Badung dan Kabupaten Jembrana semakin pendek



Gambar 6. Total curah hujan musim kemarau Kab. Badung (a) dan Kab. Jembrana (b)


Berdasarkan Gambar 6 trend jumlah curah hujan selama periode musim kemarau (April - September) di Kabupaten Badung (Kabupaten Jembrana) cenderung turun (naik) hal tersebut mengindikasikan bahwa curah hujan di wilayah Badung (Jembrana) cenderung mengalami penurunan (peningkatan) curah hujan selama periode 1970-2010 pada musim kemaraunya.



Gambar 7. Total curah hujan Oktober-Maret di Kab. Badung (a) dan Kab. Jembrana


Berdasarkan Gambar 7 trend jumlah curah hujan selama periode musim hujan (Oktober-Maret) di Kabupaten Badung dan Kabupaten Jembrana cenderung naik hal tersebut mengindikasikan bahwa curah hujan di wilayah tersebut cenderung mengalami peningkatan curah hujan selama periode 1970-2010 pada musim hujan.



Gambar 8. Frekuensi curah hujan harian lebih dari 50 mm per hari di Kab. Badung (a) dan Kab. Jembrana (b)


Berdasarkan Gambar 8 trend frekuensi curah hujan harian dalam yang dikategorikan lebat di Kabupaten Badung dan Kabupaten Jembrana cenderung naik hal tersebut mengindikasikan bahwa frekuensi tersebut lebih sering terjadi selama periode 1970-2010.



Gambar 9. Frekuensi curah hujan lebih dari 100 mm per hari di pos hujan Abiansemal


Berdasarkan Gambar 9 trend frekuensi curah hujan harian yang dikategorikan sangat lebat (> 100 mm/hari) di Kabupaten Badung dan Kabupaten Jembrana cenderung naik hal tersebut mengindikasikan bahwa frekuensi tersebut lebih sering terjadi selama periode 1970-2010.

III. Peta Exposure Wilayah Bali

Identifikasi kerentanan perubahan iklim membutuhkan konsep framework yang jelas. Menurut Third Assessment Report (TAR) IPCC, kerentanan atau vulnerability adalah: The degree to which a system is susceptible to, or unable to cope with the adverse effects of climate change, including climate variability and extreme (derajat dimana sistem menerima atau tidak bisa menanggulangi efek kebalikan dari perubahan iklim termasuk keragaman iklim dan ekstrimnya. Kerentanan merupakan fungsi dari karakter, magnitude dan laju keragaman iklim dimana sistem diekspos, sensitivitasnya dan kapasitas adaptasinya (IPCC 2001, p.995).
Kerentanan dapat didefinisikan sebagai fungsi dari exposure, sensitivity dan adaptive capacity.

Vulnerability = f (exposure, sensitivity, adaptive capacity)

Menurut laporan IPCC, exposure didefinisikan sebagai the nature dan derajat dimana sistem diekspos terhadap keragaman iklim yang signifikan. Sensitivity didefinisikan sebagai derajat dimana sistem dipengaruhi apakah menguntungkan atau merugikan oleh stimulasi yang berhubungan dengan iklim. Adaptive capacity didefinisikan sebagai kemampuan sebuah sistem untuk menyesuaikan terhadap perubahan iklim (termasuk variabilitas dan ekstrim iklim), untuk memoderatkan potensi kerusakan oleh perubahan iklim dan untuk mengambil keuntungan dari kesempatan (opportunity) atau menanggulangi konsekuensinya.

Pada kesempatan ini kami akan menyajikan peta exposure dari parameter iklim yang menjadi kapasitas BMKG dalam mendukung pembuatan sebuah peta kerentanan. Adapun output peta exposure itu sendiri terdiri dari nilai trend (kecenderungan) 3 parameter yaitu: 1. Dry spell maksimum (jumlah maksimum hari tidak hujan berturut-turut) 2. Wet spell minimum (jumlah maksimum hari hujan berturut-turut) 3. Frekuensi curah hujan melebihi 50 mm.

III.1. Dry Spell

Berdasarkan Gambar 10 menunjukkan bahwa wilayah Buleleng bagian timur dan Badung menunjukkan kecenderungan trend turun, hal tersebut mengindikasikan bahwa semakin pendeknya dry spell yang terjadi di wilayah tersebut sehingga wilayah tersebut cenderung semakin lebih basah. Untuk wilayah Gianyar, Tabanan bagian timur laut dan Karang Asem menunjukkan kecenderungan trend naik, hal tersebut mengindikasikan bahwa semakin panjangnya dry spell yang terjadi di wilayah tersebut sehingga wilayah tersebut cenderung semakin lebih kering.



Gambar 10. Peta Dryspell di Propinsi Bali

III.2. Wet Spell

Berdasarkan Gambar 11 menunjukkan bahwa kondisi wet spell di propinsi Bali pada umumnya menunjukkan trend kenaikan kecuali di wilayah Tabanan. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa wet spell di wilayah propinsi Bali semakin panjang, sehingga wilayah tersebut semakin lebih basah (lebih banyak curah hujannya) kecuali wilayah Tabanan.



Gambar 11. Peta Wetspell di Propinsi Bali

III.3. Curah Hujan di atas 50 mm

Berdasarkan Gambar 12 menunjukkan bahwa frekuensi kejadian curah hujan di atas 50 mm per hari membentuk dua pola besar yakni, untuk wilayah Bali sebelah timur cenderung terjadi penurunan frekuensi kejadian hujan lebat dan sebelah barat frekuensi kejadian hujan lebat cenderung mengalami kenaikan.



Gambar 12. Peta Frekuensi Curah Hujan di atas 50 mm

Pemutakhiran tanggal 28 Mei 2012


Kontak kami :

Sub Bidang Diseminasi Informasi Perubahah Iklim
Bidang Informasi Perubahan Iklim
Pusat Perubahan Iklim dan Kualitas Udara
Deputi Bidang Klimatologi
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika


Jl. Angkasa I No.2 Kemayoran Jakarta 10720
Telp. +6221-4246321 ext: 1819






 

Bookmark and Share
blog comments powered by Disqus
Prakiraan Cuaca Indonesia
21 Mei 2013

Medan

Hujan Ringan
24 - 35 °C

Samarinda

Hujan Ringan
25 - 32 °C

Manado

Hujan Ringan
24 - 33 °C

Jayapura

Hujan Ringan
23 - 32 °C

Denpasar

Berawan
25 - 32 °C

Jakarta

Hujan Ringan
24 - 33 °C
Selengkapnya
Prakiraan Cuaca Indonesia
21 Mei 2013

Padang

Cerah Berawan
21 - 32 °C

Pontianak

Hujan Ringan
24 - 34 °C

Makassar

Hujan Ringan
24 - 32 °C

Ambon

Hujan Ringan
24 - 31 °C

Yogyakarta

Hujan Ringan
23 - 30 °C

Surabaya

Hujan Ringan
25 - 33 °C
Selengkapnya
Gempabumi Terkini Mag ≥ 5.0 SR
21-Mei-13 11:54:32 WIB


Lokasi : 0.31 LU-127.02 BT
Kedalaman : 83 Km
60 km BaratDaya TIDORE-MALUT
tidak berpotensi TSUNAMI
Selengkapnya
Gempabumi Dirasakan
21/05/2013-11:24:37 WIB
Tanggal 4.6 SR
Kedalaman 80 Km
Lokasi 9.08 LS 115.72 BT
Keterangan
Pusat gempa berada di laut 48 km tenggara Nusa Penida
Dirasakan (MMI):
II - III Praya,
Selengkapnya

 


_BMKG_Pusat.bmkg" -->