Indonesia merupakan negara kepulauan yang mempunyai 17.504 pulau (www.depdagri.go.id) terbentang dari Sabang sampai Merauke. Secara geografis terletak dalam bujur antara 60 LU - 110 LS dan 950 BT - 1410 BT. Data kemagnetan bumi, menunjukkan bahwa variasi medan magnet bumi antara 40.000 nT - 46.000 nT dan dekliasinya antara 1.00 - 5.00. Pengamatan fenomena magnet bumi secara stasioner diperlukan untuk mengetahui karakteristik varasi data kemagnetan bumi dari waktu ke waktu. Pengamatan fenomena magnet bumi secara stasioner dilakukan di stasiun Geofisika tertentu dengan menggunakan variograph dan pengukuran absolut untuk inklinasi, deklinasi dan medan magnet bumi.
Pengamatan Magnet Bumi di Indonesia mulai dilakukan di Jakarta pada tahun 1866 oleh Koninklijk Magnetisch en Meteorologisch Observatorium, pada pemerintahan kolonial Belanda. Sistem peralatan yang digunakan untuk pengamatan pada saat itu masih menggunakan magnetograph foto. Pada saat ini BMKG melakukan pengamatan fenomena kemagnetan bumi di 5 stasiun, yaitu di stasiun Geofisika Tangerang (1964), stasiun Geofisika Tuntungan, Medan (1980), dan stasiun Geofisika Manado di Tondano (1990). Sedangkan 2 stasiun lainnya baru mulai operasi akhir tahun 2006, yaitu di Stasiun Geofisika Kupang dan dan Stasiun Geofisika bandung di Pelabuhan Ratu.
Selain melakukan pengamatan magnet bumi secara stasioner, BMG juga melakukan pengamatan magnet bumi secara berkala di titik-titik tertentu yang disebut sebagai repeat stations, setiap 5 (lima) tahun sekali. Jumlah repeat station saat ini ada 53 titik. Hasil pengukuran ini digunakan untuk memperbaruhi peta kemagnetan bumi dan memetakan perubahannya dalam kurun waktu 5 tahun. Peta magnet bumi yang terakhir diperbarui pada tahun Epoch 2005.
Kontak kami :
Sub bidang Magnet Bumi dan Listrik Udara Bidang Geofisika Potensial dan Tanda Waktu Pusat Seismologi Teknik Geofisika Potensial dan Tanda Waktu Deputi Bidang Geofisika Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Jl. Angkasa I No.2 Kemayoran Jakarta 10720 Telp. +6221-4246321 ext 4108 Email :magnetbumi[at]bmg.go.id petir.bmg[at]gmail.com
Pada tanggal 7 - 8 Maret 2012, telah terjadi badai matahari sehingga mempengaruhi medan Magnet Bumi dan sampai dengan tanggal 9 Maret ini masih berlangsung. Perubahan ini telah terekam di Stasiun Pengamatan Magnet Bumi yang dimiliki BMKG, dari hasil rekaman stasiun Geofisika Kupang, Stasiun Geofisika Manado dan Observatorium Pelabuhan Ratu, telah terjadi perubahan variasi harian akibat dari badai magnit, perubahan Medan Magnet Bumi tersebut rata-rata sekitar 50 - 100 nT. efek dari Badai Magnit dapat mempengaruhi system komunikasi.
Sejak tahun 1960, survey magnetik untuk setiap stasiun pengulangan sudah dilakuanoleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Dalam catatan geofisika lima komponen geomagnetik dikoreksi untuk tahun epoch 2010.0. Kelima komponen magnetik tersebut terdiri atas komponen deklinasi (D), komponen inklinasi (I), komponen vertikal (Z), komponen horizontal (H) dan komponen magnet total (F). Keseluruhan data dikoreksi dengan base stasiun yang berada di stasiun geomagnetik Tondano, sebagai standarisasi
BMKG melakukan pengamatan magnet bumi secara berkala di titik-titik tertentu yang disebut sebagai repeat stations, setiap 5 (lima) tahun sekali. Jumlah repeat station saat ini ada 84 titik. Hasil pengukuran ini digunakan untuk memperbaharuhi peta iso-magnetic di Indonesia.
Pengamatan Magnet Bumi di Indonesia mulai dilakukan di Jakarta pada tahun 1866 oleh Koninklijk Magnetisch en Meteorologisch Observatorium, pada pemerintahan kolonial Belanda. Sistem peralatan yang digunakan untuk pengamatan pada saat itu masih menggunakan magnetograph foto. Pada saat ini BMKG melakukan pengamatan fenomena kemagnetan bumi di 5 stasiun, yaitu di stasiun Geofisika Tangerang (1964), stasiun Geofisika Tuntungan, Medan (1980), dan stasiun Geofisika Manado di Tondano (1990).